Hari-hari berlalu dalam irama yang teratur namun menyesakkan bagi Melia. Ia kini benar-benar hidup di dalam sangkar emas yang dibangun Bara dengan begitu kokoh. Setiap pagi dibangunkan oleh belaian lembut suaminya, setiap makan disuapi sendiri, setiap langkah diawasi ketat tak ada satu pun kesempatan untuk berjumpa dengan orang luar, apalagi berbicara. Namun di balik segala pembatasan itu, Melia perlahan mulai merasakan bahwa setiap tindakan Bara bukan sekadar keinginan untuk memiliki, melainkan ketakutan yang mendalam akan kehilangan.
Pagi itu, udara di dalam kamar terasa lebih dingin dari biasanya. Bara sudah bangun lebih dulu, berdiri di depan jendela besar yang menatap ke arah langit Jakarta yang mendung. Tubuhnya yang tegap tampak kaku, seolah sedang menahan amarah yang meluap-luap namun berusaha diredam. Di tangannya tergenggam selembar kertas yang terlipat rapat kertas yang terlihat biasa saja, namun dari cara jari-jemarinya mencengkeram hingga buku-buku jarinya memutih, Melia tahu isinya bukanlah kabar baik.
Ia bangun perlahan, turun dari tempat tidur tanpa bersuara, lalu melangkah mendekati punggung lelaki itu. Meski langkahnya pelan, indra pendengaran Bara seketika menangkapnya. Ia berbalik badan dengan cepat, dan sepasang mata hitam legam itu langsung menatap tajam ke arah Melia namun sepersekian detik kemudian, kilatan amarah itu perlahan mereda, berganti dengan tatapan yang penuh kekhawatiran.
“Kenapa bangun secepat ini?” tanyanya pelan, tangan kekarnya terulur untuk menyentuh pipi Melia dengan lembut, seolah takut sentuhan yang terlalu keras akan melukai kulit halus itu. “Kau masih bisa tidur sebentar lagi.”
Melia menggeleng pelan, matanya tak lepas dari kertas yang masih tergenggam di tangan kanan Bara. “Aku sudah bangun, Mas. Ada apa dengan surat itu? Wajahmu terlihat… sangat marah.”
Rahang Bara kembali mengeras. Ia melipat kembali kertas itu dengan kasar, lalu menyimpannya ke dalam saku jasnya seolah tak ingin Melia melihat apa yang tertulis di sana. “Hanya sampah yang dikirim oleh orang yang tak tahu diri. Tak ada yang perlu kau cemaskan.”
“Tapi wajahmu berkata lain,” bantah Melia lembut, tangannya berani bergerak naik untuk menyentuh lengan kekar Bara yang masih tegang. “Mas, aku adalah istrimu. Kalau ada bahaya yang mengintai… aku berhak tahu. Aku tak ingin menjadi satu-satunya orang yang tak tahu apa-apa di tengah semua rahasia ini.”
Bara diam lama. Ia menatap wajah istrinya lekat-lekat, seolah sedang mempertimbangkan apakah aman baginya untuk membocorkan sedikit kebenaran yang kelam itu. Akhirnya, ia menghela napas panjang napas yang terdengar berat seolah memikul beban seluruh dunia di atas bahunya.
“Itu adalah peringatan,” jawabnya pelan namun penuh penekanan. “Dari kelompok musuh yang selama ini diam di tempat persembunyian mereka. Mereka menuntut agar aku menyerahkan seluruh kekuasaanku dan… menyerahkanmu kepada mereka sebagai tanda penyerahan diri.”
Darah Melia serasa menetes ke bawah. Tubuhnya menegang seketika, namun ia tak beranjak mundur sedikit pun. Justru ia mendekatkan dirinya, menatap mata Bara dengan tekad yang baru saja tumbuh di hatinya. “Mereka… benar-benar menginginkanku?”
Bara mengangguk perlahan, dan kali ini suaranya terdengar begitu mengerikan dingin, tajam, dan penuh dengan ancaman yang membuat udara di sekitarnya terasa membeku. “Mereka berani berpikir bahwa kau bisa dijadikan alat untuk menundukkanku. Mereka tak tahu bahwa memikirkan hal itu saja sudah merupakan dosa yang pantas dibayar dengan nyawa mereka. Melia, dengar baik-baik: bahkan jika mereka datang dengan seluruh pasukan yang mereka miliki, bahkan jika mereka mengancam akan menghancurkan seluruh gedung ini hingga rata dengan tanah… aku takkan pernah membiarkan jari mereka menyentuhmu sedikit pun. Aku akan merobek setiap tubuh yang berani melangkah mendekat. Aku akan membuat mereka menyesal telah dilahirkan ke dunia ini karena berani menginginkan apa yang sepenuhnya milikku.”
Amarah yang meluap di mata Bara begitu nyata hingga Melia bisa merasakannya menembus ke dalam tulang-tulangnya. Namun di saat yang sama, ia juga merasakan betapa besarnya rasa cinta yang tersembunyi di balik kemarahan itu rasa cinta yang siap menumpahkan darah demi melindunginya.
“Mas…” bisik Melia, tangannya naik untuk memegang kedua pipi Bara, berusaha menenangkan badai yang sedang berkecamuk di dalam jiwa lelaki itu. “Aku tak takut pada mereka. Selama aku ada di sisimu, aku takkan pernah merasa takut. Tapi aku tak ingin kau harus membunuh lagi hanya demi melindungiku. Aku tak ingin tanganmu yang sudah ternodai darah menjadi makin kotor karenaku.”
Bara menahan tangan Melia di pipinya, lalu mencium telapak tangan itu dengan penuh rasa hormat dan kepemilikan. “Sayangku, dunia tempatku hidup ini tak mengenal belas kasihan. Jika aku tak membunuh mereka, merekalah yang akan membunuhku… dan kemudian mereka akan membawamu pergi ke neraka yang jauh lebih mengerikan daripada apa pun yang bisa kau bayangkan. Darah di tanganku ini adalah harga yang harus kubayar agar kau tetap aman, agar kau tetap bisa tersenyum di hadapanku seperti ini. Dan aku takkan pernah menyesalinya.”
Ia menarik Melia ke dalam pelukan yang begitu erat hingga rasanya tulang-tulang wanita itu akan saling bersentuhan. “Ingatlah janjiku ini, Melia Aulia Putri. Tak peduli seberapa banyak darah yang harus kutumpahkan, tak peduli seberapa gelap jalan yang harus kujalani… aku akan terus berjalan di depanmu, menjadi perisai yang takkan pernah bisa ditembus oleh siapa pun. Kau milikku, dan tak ada satu pun makhluk di dunia ini yang berhak memisahkan kita bahkan maut sekalipun.”
Suara ketukan keras tiba-tiba terdengar dari luar pintu berbeda dari ketukan pelan biasanya. Bunyinya tegas, mendesak, seolah membawa kabar yang tak bisa ditunda sedetik pun. Wajah Bara seketika berubah kembali menjadi dingin dan tak berperasaan. Ia melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap Melia dengan peringatan yang tajam namun lembut.
“Tetap di sini. Kunci pintu dari dalam. Jangan membukanya untuk siapa pun selain aku, meskipun suara di luar sana terdengar seperti orang yang kau kenal. Mengerti?” perintahnya tegas.
Melia mengangguk patuh. “Aku mengerti, Mas.”
Bara melangkah menuju pintu, membukanya sejenak, lalu melangkah keluar dan menutupnya kembali dengan bunyi keras. Melia segera memutar kunci pintu seperti yang diperintahkan, lalu mundur perlahan hingga punggungnya menyentuh dinding. Ia bisa mendengar suara Bara yang berbicara dengan nada yang begitu mengerikan suara yang tak pernah ia dengar sebelumnya, seolah berasal dari makhluk yang sama sekali berbeda dari suaminya yang lembut.
“Bawa pasukan ke lokasi itu sekarang juga. Habisi siapa pun yang ada di sana. Jangan tinggalkan satu pun saksi hidup. Dan jika ada satu pun barang milik mereka yang tertinggal… pastikan itu hancur hingga tak bisa dikenali lagi. Aku ingin mereka tahu bahwa mengancam wanitaku adalah kesalahan terbesar yang pernah mereka buat seumur hidup mereka.”
Suara itu terhenti, diikuti oleh langkah kaki yang berat dan teratur yang perlahan menjauh. Melia merosot duduk di lantai, jantungnya berdegup kencang. Ia sadar sepenuhnya: Bara Mahesa Pratama benar-benar tidak main-main. Demi melindunginya, lelaki itu siap mengubah dunia ini menjadi lautan darah.
Beberapa jam berlalu dengan lambat. Melia menunggu di dalam kamar dengan hati yang gelisah, takut akan kabar apa pun yang akan datang. Hingga akhirnya, bunyi kunci diputar terdengar dari luar. Pintu terbuka perlahan, dan Bara melangkah masuk. Pakaiannya yang biasanya rapi dan bersih kini ternoda oleh bercak-bercak merah yang kering darah yang bukan miliknya. Wajahnya tampak lelah, namun matanya menyala dengan kemenangan yang dingin.
Ia menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan perlahan mendekati Melia yang masih duduk di lantai. Tanpa berkata apa-apa, Bara berlutut di hadapannya, lalu memegang kedua tangan istrinya yang dingin karena ketakutan.
“Sekarang aman,” bisiknya lembut, seolah ingin menghapuskan segala ketakutan yang melanda hati Melia. “Mereka takkan pernah bisa mengganggumu lagi. Aku sudah memastikannya.”
Melia menatap noda darah di baju Bara, lalu perlahan mengangkat tangannya untuk menyentuh d**a lelaki itu. “Mas… darah ini…”
“Bukan darahku,” potong Bara pelan, lalu mencium telapak tangan Melia. “Ini darah orang-orang yang berani mengancam nyawamu. Biarlah menjadi bukti bahwa tak ada yang boleh menyentuh apa yang menjadi milikku.”
Ia bangkit berdiri, lalu mengangkat tubuh Melia agar ikut berdiri, memeluknya erat seolah ingin memastikan bahwa wanita itu masih ada di sana, masih utuh, masih miliknya. “Maafkan aku jika membuatmu takut. Tapi beginilah caraku menjaga kita. Dan percayalah… setiap tetes darah yang tumpah ini adalah pengorbanan kecil demi masa depan yang kita impikan masa depan di mana tak ada lagi bahaya, tak ada lagi ancaman, hanya ada kau dan aku, hidup bahagia selamanya.”
Melia membenamkan wajahnya di d**a Bara, mencium aroma besi dan keringat yang bercampur dengan aroma khas lelaki itu. Anehnya, ia tak merasa jijik. Justru ia merasa semakin yakin: lelaki ini benar-benar rela melakukan apa saja bahkan menjadikan tangannya penuh darah hanya untuk memastikan ia tetap aman.
“Aku mengerti, Mas,” bisik Melia di antara isak tangis yang tertahan. “Aku akan tetap di sini. Tetap menjadi milikmu. Dan aku akan menunggu hari itu datang hari di mana kita takkan lagi harus hidup di antara ketakutan dan darah.”
Bara tersenyum tipis, lalu mencium puncak kepala Melia dengan penuh kasih sayang.