Pagi itu Tiana bergerak seperti buronan. Ia sengaja memilih high-neck sweater yang menutupi seluruh lehernya hingga dagu demi menyembunyikan jejak merah yang ditinggalkan Leonel semalam. Tanpa menyentuh sarapan, ia langsung menyelinap ke garasi, mengabaikan Leonel yang sedang jogging di halaman dengan kaos yang basah oleh keringat. "Nyonya Muda sudah berangkat, Tuan. Katanya ada presentasi," lapor seorang pelayan saat Leonel masuk ke teras sambil menyeka lehernya. Leonel hanya mengangguk kecil. Ia menatap mobil yang menjauh itu dengan seringai tipis. Tiga hari libur sudah di tangan, dan dia sudah menyiapkan kurikulum pelajaran yang jauh lebih intens untuk istrinya yang sedang melarikan diri itu. Di kampus, suasana sama sekali tidak berpihak pada Tiana. Ia duduk di bangku taman de

