Leonel duduk dengan tegak, jemarinya yang panjang memegang cangkir berisi kopi hitam tanpa gula. Ia terlihat sangat segar dengan kemeja kerja yang sudah rapi, seperti biasanya. Tiana turun dengan langkah yang sangat hati-hati. Meskipun rasa perihnya sudah berkurang berkat krim dari Leonel, sisa-sisa trauma fisik itu masih membuatnya agak kaku saat berjalan. Begitu Tiana sampai di meja makan, Leonel hanya meliriknya sekilas lewat sudut mata, lalu memberikan isyarat kecil dengan tangannya kepada para pelayan. Tanpa suara, para pelayan membungkuk dan segera meninggalkan ruangan, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara mereka. "Duduk dan habiskan sarapanmu," ucap Leonel datar, suaranya sedingin es. Tiana duduk dengan gugup. Ia melirik Leonel, berharap pria itu setidaknya b

