Bab 1

1957 Words
7 April 2016 Mike Mike terbangun karena migrain yang lagi-lagi menyerangnya. Ketika membuka mata, seisi kamar tampak berantakan. Seprai di bawah tubuhnya tampak kusut, selimut terseret ke salah satu sudut ranjang ukuran besar yang ditempatinya. Sementara itu piyama terhampar di atas lantai yang dilapisi oleh karpet hijau gelap. Alarm di atas nakas hampir menunjukkan pukul delapan pagi, tapi tirai jendela kamarnya masih dibiarkan tertutup sehingga cahaya matahari tidak dapat masuk ke dalam sana dan kegelapan terperangkap di tengah ruangan besar yang lebih mirip sarang harimau. Bekas-bekas percintaan tertinggal di setiap sudut tempat: di atas kasur, di permukaan sofa, di dinding. Seolah-olah menandai suatu kepemilikian wilayah. Aroma seks yang masih tercium jelas menguar di udara dan berputar-putar disana. Dengan bertelanjang d**a, Mike menyeret tubuhnya turun dari atas kasur untuk memungut sisa pakaian yang terhampar di atas lantai, kemudian menyempatkan diri untuk menarik tirai jendela. Ketika melakukannya, lengan kirinya yang terangkat terasa sakit. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk kulitnya secara bersamaan, menembus sampai ke tulang iganya. Baru disadarinya kalau menua adalah hal paling konyol yang dapat terjadi pada siapapun. Namun, siapa yang dapat mencegah hal itu? Seks jelas bukan lagi sesuatu yang memberi kenikmatan. Dalam kasus Mike, efeknya dapat terasa beberapa jam setelahnya. Lengan yang terkilir, kaki keram, dan punggung yang kaku. Dulu efeknya tidak semengerikan itu. Namun tetap saja, ada kepuasan yang tidak dapat digantikan bahkan dengan alkohol atau obat-obatan sekalipun. Efek yang hanya didapat ketika seks melibatkan sesuatu yang sifatnya emosional, dan hal itu hanya akan didapat ketika seseorang menemukan pasangan yang tepat. Mike memikirkannya selagi menyibak tirai jendela. Kemudian cahaya matahari tanpa ragu-ragu menusuk langsung ke wajahnya sebelum membanjiri seisi ruangan yang gelap itu dengan penerangan alami. Kaca jendela transparan itu memungkinkan Mike untuk melihat jauh ke luar sana dimana deretan rumah bertingkat yang berdiri sejajar dibatasi oleh hamparan pekarangan yang luas. Mobil-mobil terparkir di pinggir jalanan yang kosong dan beberapa tetangga sibuk memangkas rumput di pekarangan mereka. Pagi yang cerah seperti biasanya. Beberapa mobil yang biasanya terlihat terpakir di halaman rumah sudah menghilang, beberapa yang lain masih berada di dalam garasi. Sementara itu kurungan anjing di seberang rumahnya telah dibuka. Binatang berbulu hitam itu kini berkeliaran menyusuri selokan dengan lidah panjang yang terjulur ke bawah, sesekali menundukkan kepalanya dan mulai mengendus rumput hijau di lahan kosong yang terbuka. Baru disadarinya kalau kotak pos masih dalam keadaan terbuka dan Mike belum mengambil surat kabarnya sejak dua hari terakhir. Sementara itu rumput di pekarangan rumahnya juga hampir memanjang. Seharusnya rumput itu dipangkas tiga hari yang lalu, namun migrain yang menyerang tanpa ampun telah mengalihkan Mike dari semua rutinitas itu. Tidak demikian halnya dengan Ellary. Wanita itu mengatur pekerjaannya dengan baik. Mengurus kebun dan pekarangan mereka adalah tugas El setiap hari selasa dan sabtu. Hari itu adalah kamis. Mike seharusnya turun untuk memangkas rumput, namun El yang mengerjakannya. Mengenakan sarung tangan khusus berkebun dan kaus pendek warna hijau, El terlihat berdiri di belakang pagar sembari menggenggam gunting rumput. Rambut gelapnya di ikat ke kebelakang dan memperlihatkan goresan riasan tipis di atas wajahnya yang tampak serius. Wanita itu sedang memangkas semak-semak yang mulai memanjang dan kelihatannya sibuk menutupi lubang di bagian bawah pagar yang hampir rusak. Sampah dedaunan yang dibabat secara paksa, tersebar membentuk gundukan-gundukan kecil di bawah kakinya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, mesin pemangkas rumput masih menyala. Istrinya telah menyelesaikan sebagian pekerjaan Mike dengan rapih. Nyaris tidak satu bagian-pun terlewatkan. Ide untuk merapikan pekarangan rumah mereka dan membiarkan semak-semak tumbuh menutupi pagar itu datangnya dari El. Mengingat rumah mereka letaknya di kawasan perbukitan yang cukup tertutup dan jauh dari kota, ide itu terasa cukup menarik. Terlepas dari jumlah penduduknya yang terbatas, Mike dapat merasakan bahwa siapapun akan melihat rumahnya bak istana megah dua lantai yang berdiri di atas tanah melandai dan merupakan satu-satunya bagunan dengan arsitektur paling menarik di kawasan itu - bahkan mungkin terlalu mencolok dengan kaca-kaca tinggi yang nyaris mengekspos setiap sudut rumah. Terkadang Mike berpikir bahwa rumah itu terlalu besar untuk ditempati empat orang. Setiap sudut di dalam rumahnya memberi kesan pemborosan ruang. Bahkan kamarnya sendiri sengaja dibuat dua kali lebih besar dari kamar orang dewasa pada umumnya. Pemilik rumah sebelumnya mungkin seorang penduduk asli yang mewarisi sebagian besar tanah di sekitar sana. Kali pertama Mike menginjakkan kakinya di rumah itu, ia sudah punya firasat kalau El akan puas dengan bagunannya. Dalam hitungan bulan sejak kedatangan mereka, bangunan yang dulunya tampak tua telah bertransformasi menjadi bangunan modern dengan nuansa alamnya yang masih kental. Pasangan itu telah memutuskan bahwa mereka akan tetap mempertahankan pohon oak berusia ratusan tahun yang sudah berdiri di belakang rumah dan sulur-sulur tanaman yang menutupi dinding-dinding pembatas, demi tidak mengubah kesan alami dari bangunan itu. Tidak hanya bangunannya yang cukup besar, tapi juga halamannya yang cukup luas, sampai-sampai mereka memiliki sebuah kolom berenang sendiri di belakang rumah dan dua garasi yang terkesan berlebihan. Orang-orang suka memandangi rumahnya dengan iri. Mike entah bagaimana bisa merasakannya. Namun yang tidak diketahui mereka tentang cerita di balik istana megah itu adalah fakta bahwa mesin airnya mengalami kerusakan parah sehingga air yang mengalir keluar dari kerannya terasa sangat dingin seperti es. Akibatnya Mike enggan berlama-lama berdiri di bawah pancuran air itu. Tubuhnya sudah menggigil kedinginan dalam hitungan detik. Dan meskipun orang-orang mengatakan kalau mandi dengan air dingin di pagi hari cukup baik bagi kesehatannya, tetap saja hal itu tidak bisa menyingkirkan migrain yang dilaminya lebih baik dari aspirin. Mike menelan dua butir lebih banyak dari biasanya dalam dua hari terakhir, berpikir bahwa hal itu akan memberikan efek lebih untuk meredakan sakit kepalanya. Ia memiliki keyakinan kalau efeknya mungkin tidak akan terasa dalam waktu dekat meskipun bisa saja ia pergi ke dokter untuk membicarakan tentang migrain yang dialaminya. Hanya saja Mike paling enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Kalau Mike tidak keberatan untuk melewati serangkaian prosedur menjemukkan itu, dapat dipastikan Mike akan hadir di rumah sakit pada hari pertama ketika migrainnya muncul. Selagi berdiri di belakang kaca, Mike meletakkan botol obat aspirinnya di bagian paling ujung kotak obat untuk menghindari kecurigaan El. Sementara hal terakhir yang diinginkannya adalah menghadapi sejumlah pertanyaan dari El tentang kebiasaannya menelan aspirin melebihi dosis. Seharusnya hal itu sudah dapat terlihat jelas. Ketika memandangi wajahnya di depan cermin, Mike menyaksikan pembusukan yang terjadi di dalam darahnya mulai tampak ke permukaan. Lingkaran hitam di bawah matanya akibat kurang tidur, ruam merah di bawah leher bekas alergi yang dialiminya baru-baru ini. Mike merasa bobot tubuhnya menurun beberapa kilo. Selama dua minggu terakhir, ia sudah jarang pergi berlatih renang. Biasanya Mike tidak pernah absen barang dua sampai tiga hari saja. Sejak dulu ia sudah menggeluti aktivitas itu. Bahkan kemampuannya berenang membawakannya medali emas dalam kejuaraan renang sewaktu ia masih remaja dan beberapa tahun terakhir Mike baru menyadari bahwa ia telah menurunkan kemampuannya itu pada putri sulungnya, Sloane. Mike tidak pernah merasa lebih jauh dari kegiatan itu di banding sekarang. Mungkin, pikirnya, itu adalah efek penuaan lainnya. Kutipan dari sebuah artikel yang pernah dibacanya itu mengungkapkan kebenaran yang tak pelak lagi: bahwa seseorang tidak menua karena usia, melainkan akibat hilangnya antusiasme. Menurut Mike kondisi itu cukup menjelaskan situasi yang dialaminya sekarang. Setelah bercukur dan mengenakan setelan kemeja, Mike turun untuk pergi bekerja. Pagi itu tampak normal. Segalanya berada pada tempatnya dan rutinitas di dalam rumah tampaknya tidak berubah. Istrinya sedang sibuk menelepon seseorang, putrinya yang baru menginjak usia enam belas tahun minggu lalu, duduk murung memandangi layar ponsel selagi menyantap sarapan. Sementara putranya yang masih berusia lima tahun, tampak sedang bersusah payah menyusun balok kayu kecil membentuk bangunan yang tidak teratur di atas karpet. Mike menyambar sebotol jus dari lemari pendingin ketika istrinya, El, bergerak mendekatinya. Dengan ponsel yang terapit di antara telinga dan bahunya, El membantu Mike merapikan kerah kemejanya yang masih terlipat sebelum hanyut kembali dalam percakapannya dengan seseorang di telepon. Mike mendekat untuk membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu, “aku sudah terlambat. Aku pergi sekarang.” Respons El hanya menautkan alisnya. Sementara itu putri sulungnya masih duduk murung di belakang meja makan sampai Mike merebut ponselnya dan meletakkannya di sudut meja. “Apa yang kau lakukan?” protesnya dengan marah. “Selesaikan makananmu dulu!” Mike memeringatinya sembari mengangkat satu jari di udara. Putrinya, Sloane, hendak membuka mulut untuk menyampaikan protesnya, tapi dengan cepat mengurung niat itu dan menuruti Mike. Mike pergi lima menit kemudian. Ia mengeluarkan mobil lamanya dari garasi. Cadillac hitam itu sudah lama tidak digunakan. Permukaannya berdebu, tapi bahan bakarnya masih terisi penuh. Mesinnya juga tidak bermasalah, meskipun Mike harus menunggu lebih lama untuk memanaskan mesinnya. Pada akhirnya, ia berhasil keluar meninggalkan halaman rumah dan keluarganya. Mike sudah setengah jalan ketika ia akhirnya mencapai kawasan perbatasan di dekat hutan. Saat itu jalur di depan ditutup rapat, papan tanda dilarang mendekat dipasang di bahu jalan. Tiga mobil polisi juga telah berpatroli di depan. Tak lama kemudian ambulans datang menerobos kerumunan orang yang berusaha mencari tahu sumber keributan. Mike-pun memperlambat lajunya. Namun dari tempatnya di belakang kursi kemudi, jarak pandangnya ke sumber keributan itu sangat terbatas. Hingga tak lama kemudian, seorang petugas polisi yang bergerak mendekat memintanya untuk berputar arah. “Jalur ini ditutup, tolong berputar ke jalur lain!” katanya. “Kenapa? Ada apa?” “Jasad seorang gadis baru saja ditemukan di dekat hutan.” Jantung Mike mencelos, rahangnya mengeras. Ia menatap petugas itu sembari mencengkram setir dengan kuat. “Tolong, berputarlah! Jalur harus segera dikosongkan.” Akhirnya sebelum sempat mengucapkan sesuatu, Mike menginjak pedal gas dan memutar cadillac hitamnya ke arah yang berlawanan. Di dekat sana ada pertigaan yang juga mengarah ke kota, kecuali karena jarak tempuhnya akan terasa lebih jauh. Setelah berkendara puluhan meter meninggalkan jalan yang diblokade itu, Mike masih menatap lurus ke arah spion untuk menyaksikan lampu sirine menari-nari di udara. Semakin jauh ia pergi, jalanan di belakangnya tampak semakin padat. Belasan mobil berdatangan, dalam hitungan menit tempat itu telah dibanjiri oleh awak media dan beberapa orang yang menepi karena penasaran. Mike menyaksikan semua itu sampai mobilnya berbelok di tikungan dan memasuki jalur satu arah di tempat yang lebih sempit dan terisolasi. Keributan yang sebelumnya ia dengar telah lenyap dan digantikan oleh suara gemuruh mesin cadillac-nya yang terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Keheningan itu menakutkan. Setiap detiknya terasa lebih mencekam. Sementara Mike berusaha memfokuskan tatapannya pada jalanan kosong yang terbuka sejauh ratusan meter di depan. Bukit dan tebing tanah yang curam memerangkapnya di jalanan selebar lima belas meter dan kabut yang rendah. Dalam beberapa detik yang hening, suara gemuruh mesin van terdengar di belakang. Van putih itu melaju dengan cepat. Ia membunyikan klakson saat berusaha menyalip mobilnya dan dengan spontan Mike memperlambat lajunya. Ia membiarkan van itu memimpin di depan, tapi hanya beberapa detik sebelum van berbelok di tikungan lain yang mengarah persis ke danau tempat para penduduk disana suka memancing. Untuk mengusir keheningan yang ganjil, Mike menyalakan radio. Siaran berita pagi itu tak pelak lagi mengabarkan penemukan jasad seorang gadis di pinggir hutan. Mike hendak mengganti saluran, tapi dengan cepat mengurung niatnya dan mendengarkan suara seorang reporter lokal saat memberitakan kabar buruk itu. Suaranya serak, dengan latar kebingungan yang samar-samar tertangkap oleh mikrofon. Seseorang meneriakkan sesuatu. Siapapun yang sedang mendengarkan saluran berita lokal itu pasti menyadarinya. Kawasan yang ditempatinya merupakan daerah terpencil. Semua orang mengenal satu sama lain, dan Mike mengenali persis teriakan seseorang yang muncul dalam latar siaran itu. Hanya ada satu pria di kota yang memiliki suara serak dengan aksen yang masih kental. Pria itu adalah Billy Rogers, dan ia sedang meneriakkan sesuatu pada petugas polisi untuk mengizinkannya melihat jasad Amy Rogers, putrinya. Perut Mike melilit. Amy Rogers adalah sahabat baik Sloane, putrinya. Sekarang remaja itu ditemukan tewas di pinggir hutan dalam keadaan yang mengerikan. Seseorang membunuhnya, ucap sang reporter berkali-kali dalam siaran berita itu. Merasa mual, Mike terburu-buru menekan tombol off. Suara dalam radio itu kemudian lenyap dan lagi-lagi keheningan yang ganjil mulai mencekiknya. Bagaimana Sloane akan bereaksi mendengar kabar itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD