Menurut penjelasan Sarahn, darah haid seorang wanita bisa memikat pria. Bisa dibilang semacam pelet.
Aku mengangguk sumringah, kemudian pamit pulang. Tak lupa kupeluk sahabat tersayangku itu, yang selalu ada untukku.
Aku cukup sadar diri, tak hanya saat kalut saja aku menemuinya, dan hanya menjadikannya pendengar deritaku saja. Tak jarang aku mengajaknya pergi belanja ataupun sekedar makan-makan di resto.
****
Pucuk dicinta ulam pun tiba, setelah menunggu beberapa minggu akhirnya jadwal haidku tiba. Baru kali ini aku mengharapkan tamu bulanan itu datang, sebelumnya justru aku sangat membenci hal itu, karena dengan ketidak hadirannya, itu artinya sedang bersemayam nyawa di rahimku. Namun nyatanya hal itu tidak pernah terjadi.
Aku tersenyum masam. Lihat saja, apa ide gila Sarah ini benar-benar berhasil?
Aku sedikit ragu, khawatir nasinya akan berubah kemerahan. Tapi yang Sarah katakan tidak akan merubah apapun pada nasinya, baik warna ataupun bau. Ah tak apalah! Aku akan menyiapkan sebuah alasan nantinya.
Entah kenapa kurasa saat ini semesta benar-benar berpihak padaku. Semua misi yang kujalani berhasil, dan beruntungnya nasi yang kumasak sama sekali tidak berubah. Saat ini tugasku hanya memastikan herman benar-benar memakan nasi itu.
Segala jejak sudah kubuang, dandang yang kubuat memasak tadi meninggalkan bekas kemerahan bagian bawah. Namun bukan masalah, tak jauh di halaman belakang rumahku terdapat kubangan yang sedikit curam, aku membuangnya di situ. Beres!
***
Lagi-lagi sepertinya hari ini benar-benar keberuntunganku. Herman yang biasanya saat siang hari jarang pulang, kali ini pulang dengan membawa seorang perempuan. Aku sedikit kesal, namun biarlah.
Biar si jalang itu juga merasakan nikmatnya nasi dari darah haidku. Tawaku puas.
Aku menyambut keduanya sebaik mungkin, bak Raja dan Ratu, sedangkan aku adalah babu. Terkadang aku tertawa mengingat nasibku ini. Semoga saja ide Sarah ini berhasil, agar aku bisa segera lepas dari penderitaan ini.
Usai makan dan mandi, keduanya pergi lagi, entah mereka akan ke mana. Padahal yang kutahu herman jarang sekali mengunjungi kebun sawit, segala sesuatunya ia hanya mengandalkan Yoga, orang yang ia percayakan untuk mengurus kebun sawit. Beruntungnya sejauh ini pekerjaan Yoga cukup baik, penghasilan dari kebun sawit itu berkembang pesat. Entah berapa ratus hektar tanah yang Herman miliki saat ini.
Alasan terkuat yang membuatku tetap bertahan walau harga diri seakan menghilang.