Karina bersenandung riang sembari mengaduk segelas kopi.
"Senang amat. Tumben?" Karina menoleh tersenyum riang ke arah Sesil dan Farhan yang baru masuk ke pantry.
"Bahagia, Dia kemarin pulang cepat," ucap Farhan yang mulai mencari gelas hendak membuat teh.
"Wah serius kok bisa?" Sesil nampak kaget, lebih tepatnya kaget yang sengaja dibuat - buat, Karina jengah dengan tingkah mereka seolah pulang cepat untuk seorang Karina adalah sebuah mitos belaka.
"Ya bisa dong. Bos lagi kesambet," katanya santai.
"Gila ya Lo ngatain bos mulu."
"Woles, bos Gue kalau soal singgung menyinggung dia gak akan marah." Bukannya apa, selama ini Bara memang tak pernah protes atas apapun julukan Karina kepadanya. Bara bilang selagi Karina bisa bekerja profesional tidak masalah. Karena sejauh ini hanya Karina yang sanggup mengimbangi cara kerja Bara.
"Oiya, Lo tahu darimana Gue balik cepat kemarin?"
Farhan menoleh berdecak kesal. "Kemarin Gue lembur nyelesaiin laporan, ada yang mis sedikit. Terus pas Gue balik ke ruang bos, Lo udah gak ada, ruang bos juga kosong. Anjrot Gue ditinggal sendirian."
"Haha mampos," cibir Sesil tepat di samping Farhan.
"Diem Lo," kesalnya.
"Haha, Gue kemarin gak enak badan terus bos langsung ngajak Gue balik."
"Ya udah Lo sakit aja tiap hari."
"Eh congor. Enak banget Lo nyuruh orang sakit tiap hari," sergah Farhan mendengar ucapan Sesil yang terdengar seperti ide brilian.
"Patut dicoba."
Karina memegang dagunya dengan telunjuk berlagak seperti detective di komik - komik.
"Ya udah sono Lo, Pak Bara entar nunggu kopinya," usir Farhan. Daripada tambah gak jelas obrolan mereka.
Karina tersenyum lebar, berjalan meninggalkan pantry dengan santai, tidur yang cukup ternyata benar - benar membuat mood menjadi lebih baik.
"Kopinya Pak." Karina meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja Bara, pria itu nampak fokus membolak balik kertas laporan.
"Ada jadwal apa Saya siang ini." Karina menelan ludah kesal, padahal baru beberapa menit lalu tepatnya sebelum ia membuat kopi dirinya sudah menjelaskan jadwal Bara hari ini.
"Jam sepuluh Kita ada meeting dengan All SPV Sales dan kepala cabang membahas tentang target bulanan, dan pecapaian bulan kemarin. Kemudian jam dua ada pertemuan dengan Investor bersama Pak Alex. Jam empat meninjau produksi Pak." Terdengar tidak padat bukan tapi percayalah sangat sulit membuat semua itu berjalan tepat waktu, apalagi meeting kali ini mungkin akan memakan waktu lebih lama.
"Undur meetingnya jadi besok."
Mata Karina agak membola, "Ayolah Baradean jangan buat Gue jadi maung," ucap Karina dalam hati.
"Tapi Pak. Ini meeting All cabang loh."
"Yah terus kenapa?" Karina makin greget ditambah Bara bahkan tak menoleh padanya dan masih fokus pada kertasnya.
"Kasihan dong Pak yang dari cabang, Bapak sendirikan yang bilang harus efisien waktu. Kalau mereka...." Belum selesai Karina bicara Bara mengangkat wajahnya menatap Karina datar.
"Undur saja," tegasnya.
"Tapi Pak..." Tahukah Bara betapa sulitnya mengatur jadwal diantar semua pekerjaan yang menumpuk itu?
"Saya harus selesaikan ini dulu baru Kita meeting. Sampaikan ke semua yang ikut meeting untuk PK ke pabrik." Karina mendesah berat, belum lagi ia harus mengabari Bu Vera direktur keuangan, mana Bu Vera galaknya kayak guguk tetangga. (PK; Product Knowledge)
"Baik Pak." Karina keluar dari ruangan Bara. Kemudian memelototi ruangan itu sembari menyumpah serapah dalam hati.
Dulu saat ia baru masuk ia biasanya hanya memendam kekesalannya dalam hati dan berakhir dengan sakit hepatitis, akhirnya ia memutuskan untuk menjadi barbar, toh bosnya tidak pernah marah dengan sikapnya.
"Kenapa Lo?" tanya Sesil begitu melihat wajah tertekuk Karina.
Karina menyeruput es teh, mencoba mendinginkan kepalanya.
"Tadi pagi ceria banget, siang udah bertambah aja kerutan Lo." Farhan duduk di samping Karina. Sekarang sudah jam makan siang dan Karina masa bodo Bara mau makan atau tidak, dia kadung kesal karena keputusan dadakannya itu membuat dirinya harus mendapat serempetan pedas dari Bu Vera.
"Pasti gara - gara meetingnya di undurkan? Terus kena celepetan Bu Ve?" tebak Tomi yang datang bersama Anggun.
"Tahu aja Lo, dasar biang gosip," sindir Karina, setengah mengakui kehebatan Tomi mengumpulkan informasi dan gosip terupdate di kantor ini.
"Emang kenapa kok diundur?" tanya Anggun. Suara yang lemah lembut dan wanita yang benar - benar anggun sesuai dengan namanya.
"Temen Mbak tuh, ngeselin mana gak ngasih alasan yang lebuh valid, cuma nyuruh undur doang gara - gara dia mau nyelesain ngecek laporan cabang." Anggun tertawa mendengar keluhan Karina yang bisa dibilang saban hari dia lakukan.
"Mungkin memang lagi gak bisa ditunda aja kerjaannya. Yang mau diperiksakan banyak."
Karina hanya menatap Anggun sembari menghembuskan nafas lelah. Ia heran kenapa bukan Anggun saja yang menjadi sekretaris Bara? Selain karena mereka teman saat kuliah, Anggun juga adalah orang yang sangat kalem dan penyabar sangat cocok berurusan dengan Bara.
"Emang banyak sih. Tapi emang kapan pernah kerjaan dia sedikit?" Semua terdiam sesaat namun kemudian mengangguk kompak, iya sejak kapan pekerjaan seorang Bara itu sedikit?
Karina kembali ke meja kerjanya. Tak ada tanda - tanda Bara keluar dan tidak ada chat apalagi telpon minta dibelikan makan siang.
"Udah makan belum ya tu orang?" Karina menggaruk kepalanya yang mendadak gatal padahal tadi pagi dia sudah keramas.
Gimana ya namanya hati perempuan suka khawatiran walau di otak udah menyangkal dan bilang biarin aja yang kelaparan toh bukan diri sendiri, tapi hati tetep bilang kasihan.
Tanpa mengetuk pintu Karina menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Bapak udah makan?"
Bara yang masih fokus mengecek file menengok ke arah pintu. "Udah jam istirahat?" tanyanya, tuhkan dia lupa pikir Karina.
"Udah masuk lagi Pak."
"Ah." Bara melihat ke arah jam, jelas jam sudah menunjukkan jam satu siang.
"Bapak mau makan siang sekalian Kita nunggu investor atau mau Saya pesanin makan sekarang?" tawar Karina, ini orang kalau sakit imbasnya bisa membuat Karina pulang subuh.
"Kamu udah makan?"
Karina mengangguk.
"Pesanin aja makanan yang cepat saji. Jam berapa investor sampai?"
"Tadi sudah Saya pastikan ke bu Anne kalau sekarang pak Alex sudah bersama investornya Pak," jelas Karina mengingat tadi ia sudah berkoling koling manjah dengan bu Anne sekretaris Presiden direktur.
"Oke." Jawaban singkat yang jelas membuat Karina harus segera memesan makanan.
Ia memesankan burger dan ayam goreng yang syukurnya kantor mereka dan restoran cepat saji tersebut berhadapan jadi makanannya bisa cepat sampai.
"Bujangan, bujangan. Makan fast food teros, tambah kriting usus," dumelnya sembari memindahkan makanan tersebut ke atas piring.
"Pak, makanannya." Karina meletakkannya ke atas meja.
"Kamu udah makan?" tanya Bara lagi.
"Udah Pak. Selamat makan. Saya mau lanjut kerja lagi. Permisi," katanya terdengar sopan.
"Bos ada?"
"Ah." Karina kaget, refleks memukul Farhan cukup keras.
"Sakit woy."
"Lo sih hobi banget ngagetin Gue."
"Gue nanya kagak ngagetin."
"Apanya. Lo demen banget nongol tiba - tiba."
"Lo aja yang gak fokus." Karina mencebik. Sepertinya tiada hari tanpa kaget dengan kehadiran manusia satu ini.
"Ada noh masuk aja, lagi makan dia."
"Oh okeh." Karina berjalan ke mejanya.
"Eh tapi moodnya lagi baguskan?"
Karina mengangkat bahunya pura - pura tak tahu yang jelas Farhan sepertinya akan jadi target tatapan tajam plus ucapan pedas dari Bara.