"Kak..."kata Loly sedikit menghindar saat wajah Jo semakin mendekat pada wajahnya.
"Mulai besok-,pergi sekolahnya bareng sama kakak,ya..."
"Hm?"Loly mengernyit memandangi Jo yang mendongak menatapnya karna posisi Loly lebih tinggi.
"Iya,soalnya.Mulai besok,gua bakal ngejalanin kewajiban sebagai kakak yang siap melindungi adiknya."kata Jo.
Loly diam sedikit bingung dengan perkataan Jo."Beneran?"tanya Loly.
"Emang kakak lagi bohong?" tanya Jo meyakinkan Loly.
"Eum..."Loly melenguh ketika Jo mengusap perut ratanya.
"Kenapa?"tanya Jo pada Loly yang langsung menggeleng.
Jo langsung menarik tengkuk Loly,menempelkan bibirnya lada bibir Loly yang mendelik kaget.Jo langsung dengan cepat mendorong Loly dan membaringkan Loly,tanpa peduli jika gadis itu akan marah padanya.
Tak ada balasan dari Loly,karena ia kaget dan terpaku.Loly juga belum pernah sama sekali berciuman,dan ini adalah ciuman pertamanya.Jo mendapatkan ciuman pertama Loly.
Jantung Loly berdebar dengan cepat,ia tak bisa mengucapkan apapun saat itu,tubuhnya mendadak kaku.
Tangan nakal Jo bergerak meraba,membuat Loly mengernyit sesaat.Tali tubuhnya tak bisa digerakkan sama sekali,seolah tak ada tenaga untuk bergerak.
Loly tersentak saat Jo menyentuh titik sensitif dari bagian bawah itu,ia langsung mendorong Jo dan bangkit secepat kilat.Mereka sama-sama tertunduk dengan d**a Loly yang sudah mengeras dan naik turun karena napasnya yang tak teratur.
"Kenapa?"tanya Jo.
Dengan napas yang masih terengah-engah dan mata memanas mulai berair.Loly langsung beranjak dari ranjang dan berlalu keluar kamar Jo begitu saja.
Jo menoleh kebelakang,ia tak melihat apapun lagi ketika Loly benar-benar pergi dari kamarnya.Meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.Jo langsung dibuat terdiam lama.
* * *
Pagi hari,disebuah ruang besar bagian dapur,sedang diisi oleh empat orang yang kini tengah melakukan ritual wajib di pagi hari,yaitu sarapan.
Hanya ada suara dentingan sendok yang terdengar memenuhi ruang makan,tidak ada obrolan sama sekali.Semua hanya fokus pada makanan masing-masing.
Jo melirik Loly yang kini terlihat makan dengan sedikit menundukkan pandangannya.Dan yang membuat Jo terus memperhatikan Loly dalam diam adalah ketika ia melihat mata Loly yang sembab saat gadis itu menegakkan pandangan meraih gelas minumnya.
Jo terdiam lama, memikirkan kejadian malam tadi.Jo tak mengerti,iya sama sekali tak bisa mengendalikannya hasratnya ketika melihat Loly.Apalagi dengan Loly yang hanya mengenakan crop top malam itu,begitu mengundangnya untuk melakukan sesuatu hal yang dapat menghangatkan tubuhnya.
"Loly,karena kita nggak searah,Daddy nggak bisa antar kamu ke sekolah.Tapi, Daddy udah nyariin kamu supir pribadi."kaya Handoko memecahkan keheningan dimeja makan.
Loly menegakkan pandangannya,ia menoleh pada Handoko dan tersenyum dengan gelengan.
"Gapapa kok,Dad.Makasih,Dad."Jawab Loly .
Handoko tersenyum dengan anggukan,ia mengacak kepala Loly,membuat ia cemberut.
"ih, Daddy,rambut Loly rusak dong..."keluhnya manja.Handoko hanya tertawa, Clara pun ikut tersenyum memandangi suasana pagi dimeja makan.
"Kenapa Loly nggak pergi bareng Jo aja,Dad?"
"Ukh!"Loly seketika tersedak mendengar ucapan Jo.Loly langsung menegak minuman dan mengusap pelan tenggorokannya yang terasa perih.
Handoko yang juga terkejut mendengarnya perlahan melambatkan kunyahnya.ia menoleh putranya yang kini tengah memandanginya.Kening Handoko mengerut heran,apakah ia tak salah dengar?batinnya.
"Really?"
Jo mengangguk lagi.Loly langsung menggeleng dan memandangi Handoko tanpa mau menoleh pada Jo.Yang jelas kini tengah duduk disampingnya.
"Gapapa kok,Dad.Loly biar sama supir aja-."
"Minimal bisa hemat,Dad.Lagian kan sekolah kita juga sama.Pulang pergi juga sama."tutur Jo meyakinkan semuanya, kecuali Loly.
"Kamu nggak keberatan,sayang?"tanya Clara dengan penuh kehati-hatian.
Pasal,ini sangat mengagetkan semuanya.Untuk Handoko,mana mungkin Jo si keras kepala dan tak mau di atur itu bisa bicara seperti tadi? ia masih ingat,Jo pernah pergi dari rumah karena tidak suka dengan Clara dan Loly.
"Kenapa keberatan?tanya Jo.
Clara tak langsung menjawab.
"Jo benar,sayang.Tidak apa-apa mereka berangkat berdua.Itu akan jauh lebih baik dan aman,karena Jo akan menjaga Loly dengan baik.Bukan begitu?"tanya Handoko.Pria itu tersenyum pada Jo.
Sejenak Jo diam mendengar perkataan itu.Aman?Jo tidak bisa memastikan,karena ia mempunyai tujuan mengapa bersikap seperti ini.
"Dad-."
"Nurut sama kakak,Ly."
Loly menoleh pada Jo yang juga sedang menatapnya.Dan ketika Loly ingat kembali Jo yang kurang ajar tadi malam padanya,Loly langsung membuang pandangannya.Jantungnya kembali berdebar dengan sentuhan yang masih terasa jelas di bibirnya.
"Sekarang,kita bakal barengan terus.Kalau mau kemana-mana,biar kakak yang antar."
Handoko tersenyum dan ia mengacak-ngacak rambut Jo."Terimakasih, sayang."
Jo mengangguk dengan senyuman tipis secepat kilat.ia menoleh lagi pada Loly yang terlihat kembali menunduk.
Loly tidak mengerti,kenapa Jo bersikap seperti itu padanya.Setelah tadi malam pria itu berani menyentuhnya kurang ajar,Loly merasa sedih dan ia juga berdebar disaat yang bersamaan.Loly belum sanggup melupakan kejadian semalam.
Usai keluar dari kamar Jo malam tadi,Loly menangis di dalam kamarnya.Ada perasaan marah dan sedih,karena Jo mengecupnya,dan Loly tidak menolak bahkan menampar Jo?Entahlah,Loly terlalu kaku menggerakkan tubuhnya malam itu.
Dan sekarang,apa maksud dari ucapan Jo barusan?Dia mau pergi bersama ke sekolah?Bukannya dari awal Jo tak pernah ingin bicara dan terlihat begitu benci padanya?Ah,Loly sangat pusing memikirkan ini.
Tak lama kemudian,semuanya selesai sarapan.Jo menarik gelas dan ia menenggak minum.Handoko mengambil tisu, mengusap mulutnya dari sisa sarapan yang menempel dimulut nya.
"Daddy berangkat duluan,ya."Handoko berdiri dan mengusap kepala Jo,kemudian beralih pada Loly.Ia sangat senang pagi ini ketika melihat keluarga nya semakin membaik dan berharap bisa harmonis.
Loly yang tak ingin berlama-lama berduaan dengan Jo di meja makan,segera menyusul sang Bunda yang sudah duluan kedepan mengantar Daddy ke teras mansion.
Jo menoleh ke belakang,ia mendorong pipi bagian dalamnya dengan lidah kemudian berdiri dan mengikuti jejak Loly dari belakang.
Loly,Jo,dan Clara memandangi mobil Handoko yang perlahan menghilang dibalik gerbang.Clara tersenyum dan ia merapikan rambut Loly lalu mencium pipinya.
"Sana gih,berangkat."kata Clara.
Loly mengangguk dan tersenyum.
Clara kemudian beralih mengusap kepala dan pipi Jo.
"Hati-hati dijalan."
Loly menyalami tangan Clara.dilanjut oleh Jo untuk pertama kalinya.Hal itu membuat Clara tersenyum,senang melihat perlakuan Jo yang mulai menerima keberadaannya.
"Berangkat dulu ya,Bun."Loly menganggukkan kepala.
Clara memandangi putra dan putrinya yang kini masuk ke dalam mobil.Setelah mobil menghilang dari gerbang,Clara kembali masuk kedalam rumah dan menutup pintu.
Saat diperjalanan,tak ada obrolan sama sekali.Hanya hening melanda selama menuju sekolah.
Tak lama kemudian,mereka sampai di sekolah.Jo memarkirkan mobilnya,sementara Loly melepaskan seat belt nya dan hendak membuka pintu mobil.
"Ly-"
Gerakan Loly terhenti saat Jo memegang pergelangan tangannya.Loly menoleh pada Jo,mereka saling memandang.
"Soal-, tadi malam..."
Loly langsung menunduk dengan wajah merona,ia menarik tangannya dari genggaman Jo.
"L-Loly masuk duluan,kak." ucap Loly bergegas meninggalkan Jo menjauh dari mobil.
Jo menatap Loly yang sudah keluar dari pelataran parkir.Jo menggigit pipi bagian dalamnya,kemudian ia mengambil ponselnya yang baru saja berbunyi dari balik saku celananya.
Aprilia: Sayang,kamu udah di sekolah belum,sih?Bibir aku kering banget mau dibasahin:)
Jo mulai mengetik,ia membalas pesan dari Aprilia,sang pacar yang bertahan hampir tiga tahun.
-Langsung kebelakang gudang sekarang,si kecil rindu banget mau masuk ke dalam rumah.
Aprilia: iih,,,jadi gatel yang bawah :)
Jo memasukkan ponsel kedalam tasnya,kemudian iya keluar dari dalam mobil dan langsung menuju belakang gudang yang agak jauh dari gedung sekolah.
Tak membutuhkan waktu lama,Jo sampai.ia sudah melihat seorang wanita yang duduk pada meja bekas.Jo mendekat, Aprilia langsung berjinjit untuk menciumi bibir Jo yang kini membalas ciumannya.Aprilia tersentak ketika Jo menyentuh area sensitifnya,membuat ciuman keduanya terlepas.
"Yakin,,mau sekarang, disini?Bisa dua jam loh,sayang." bisik April.
Jo melirik arlojinya,6 menit lagi bel.Tak mungkin ia bercinta dengan April disini begitu cepat.Jo selalu bermain lama,agaknya paling cepat satu jam-an.
"Nanti malam aja,yaa.Dedenya belum bangun,kan?"tanya April,Jo pun menggeleng.
April tersenyum,ia duduk diatas paha Jo.Jo sedikit menggeser b****g April agar dedenya tidak terbangun,bisa repot harus bolos kelas di jam pertama.Ciuman kembali terjadi diantara keduanya.
"Tck,kalau nggak bisa sekarang jangan pegang juga lah,bangun juga nih."kata Jo kesal usai melepas ciumannya.Saat tangan April merambat entah kemana.Sebenarnya Jo kesal bukan karena April,tetapi karena ia kembali mengingat tadi malam belum sempat memainkan tubuh Loly.
"ih..abisnya gatel ih.."cemberut April.
"Ntar malem aja dirumah lu,kalau gua lagi baik mood-nya."ujar Jo mendorong April dan berdiri.ia memandangi d**k nya masih aman di balik sana.Jo harus menahan diri,ia sedang tidak ada mood bercinta untuk sekarang.Lagi pula ini disekolah.
Jo melangkah pergi meninggalkan April yang kini sedang merapikan kancing baju yang terbuka oleh tangan nakal Jo.Aprilia cinta dan begitu menyukai Jo,tapi April tau bahwa Jo tidak merasakan hal yang sama.
Selama ini hubungan itu bertahan hanya karena April yang selalu memberikan apa yang Jo inginkan darinya.Aprilia berusaha keras menjadi yang terbaik untuk Jo,agar pria itu Masih tetap bersamanya.
Mempertahankan hubungan yang begitu toxic dengan tubuhnya.
• • •