50

1072 Words

Isabella menatapnya, air mata baru menggenang di bulu matanya. "Kau tidak mengerti, Leo. Aku—" "Aku tidak perlu mengerti," potong Leonardo, jempolnya mengusap air mata di pipi Isabella. "Kalau begitu, buat aku mengerti." Di luar, petir menggelegar lagi, tapi kali ini Isabella tidak lagi menggigil. Ada sesuatu dalam kata-kata Leonardo—janji tanpa syarat yang perlahan mencairkan es di hatinya. "Dia......" Isabella mulai, tapi suaranya tercekat terbata-bata seolah ada rantai yang mengikat lehernya. Leonardo mengencangkan pelukannya. "Ssh, tidak sekarang. Nanti, ketika kau siap. Aku akan siap dengerin ceritamu." Akhirnya malam itu Isabella tertidur di dalam dekapan hangat Leonardo. Bau khas Leonardo yang perlahan menggantikan aroma trauma dalam ingatan Isabella, namun tidurnya terjaga di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD