53

1090 Words

Obat itu bekerja seperti api yang merayap pelan dalam darah Isabella. Pertama, hanya rasa hangat di ulu hati—seperti meneguk anggur yang terlalu kuat. Lalu panas itu menyebar, mengalir ke setiap urat nadi, membakar kulit dari dalam. Isabella menggigit bibir bawahnya sampai berdarah, mencoba melawan sensasi yang membuat seluruh tubuhnya haus sentuhan. Tidak... Ini tidak benar... Tapi ketika jari-jari dingin Damiano menyusuri bahunya yang telanjang, tubuhnya berkhianat. Otot-ototnya mengencang bukan karena jijik, tapi karena keinginan. "Kau merindukan ini," bisik Damiano, bibirnya menempel di tulang selangkanya. "Delapan tahun kau kabur dan berakhir disini, lihat dirimu sekarang." Isabella memejamkan mata, air mata panas mengalir ke pelipis. Obat itu membuat segalanya kabur—rasa malu,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD