SEMBILAN BELAS

2143 Words
Seperti yang kukatakan, bahwa aku punya rencana yang lebih mulus daripada rencana Deba "Yang benar saja ? Kau lihat tampangku ?"  Aku mengangkat kedua jempolku ke udara dan tersenyum bangga. Jon kusulap menjadi pengangkut persediaan makanan. Dia sudah serupa tukang angkut di pasar-pasar.  Jadi, rencanaku adalah membiarkan Jon masuk sebagai kuli angkut persediaan makanan. Persediaan makanan untuk gubernur datang setelah petang. Waktu itulah Jon akan menyelinap masuk sekalian mengangkut persediaan makanan. Dia lebih mungkin untuk mengelabui para penjaga ketimbang aku, karena postur tubuhnya yang besar. Lalu aku akan masuk, menyelinap dengan caraku sendiri.  "Kita tidak bisa mempercayai siapapun untuk disogok"   Kami tidak bisa sembarangan menyuap pekerja di rumah gubernur. Kami tidak tahu watak para pekerja itu seperti apa. Kalau pengantar tepung sudah pasti dia bisa berbeda-beda mereka bekerja pada majikan yang berbeda jadi menurutku sulit untuk ditebak. Dilihat dari tubuh Jon, dia paling cocok dengan tokoh si d***u berbadan besar.  Deba dan Sazarab sudah pergi dari gubuk, menyisakan aku dan Jon yang sebentar lagi akan beraksi. Aku sudah lengkap dengan pakaiyan hitam yang direkatkan dengan tubuhku agar aku bsia bergerak cepat dan mengelabui mata orang-orang di malam hari. Aku menutup wajahku, mengaitkan kunai, tali dan pedang ku silangkan di punggung.  Aku sudah memikirkan cara agar Jon bisa menggantikan salah satu pengangkut bahan makanan, tanpa menculik atau menyakitinya. Pada akhirnya yang bisa kulakukan adalah menyogok.  Dua orang sedang membawa gerobak berisi persediaan makanan menuju rumah gubernur Pasataria. Aku bersiul di sudut jalan, salah satu dari mereka melihatku. Dua pemuda bertubuh besar itu menghentikkan gerobaknya. Aku mengayunkan tangan memanggil mereka.  Salah satu dari mereka mendatangiku, wajahnya terlihat siap menyerangku kalau-kalau aku orang jahat. Tanpa basa-basi aku memberinya "seratus yach"  Dia adalah laki-laki bertubuh besar yang gemuk, tubuhnya hampir sebesar Jon. Tapi Jon masih lebih besar. Dia melihatku dengan mata bertanya-tanya. Karena aku tidak memperlihatkan wajahku, aku menutup wajahku "Mau tidak ?" tanyaku sedikit menggertak "Kalau tida kuberikan pada temanmu yang lain"  Ragu-ragu dia mengambil seratus Yach yang kutawarkan "Aku ...h...harus apa ?" tanyanya terbata-bata. Dia lihat aku menggantung pedang di pundakku dan dia lihat di satu tanganku memegang kunai. Aku yakin dia masih menghawatirkan pekerjaannya, karena itu dia melirik temannya.  "Pulang dan beristirahat. Itu yang harus kau lakukan"  Dia bingung  "Pulang dan istirahat !" ulangku sekali lagi "Aku berjanji besoknya kau bisa kembali bekerja tanpa ada masalah"  Dia ragu  "Kau mau aku mengambil kembali yach yang kuberikan ? atau kau mau aku mengambil nyawamu"  "Pulang dan istrihat" ulangnya dengan kosakata yang lancar sambil kakinya berjalan mundur siap untuk lari kocar kacir karena ketakutan. Setelah melihatku, dia melihat temannya dengan tatapan iba.  Aku tidak percaya aku bisa mengintimidasi seperti ini. Apa karena wajah cungkring dan kekanak-kanaanku tertutupi ?  Jon menunggu di ujung jalan, dia memperhatikanku. Kita sudah sama-sama sepakat untuk mengikuti rencana pencurianku.  Jon mendekatiku dan bergabung dengan si pengantar persediaan makanan yang satunya. Dia mnggelengkan kepalanya, yang berarti  dia bisa menangani siasanya. Dan sekarang giliranku untuk memasuki rumah gubernur dengan caraku.   Aku mulai menandai jalan-jalan di kota Pasataria ini.  Pasataria adalah kota yang selalu ramai, jadi buatku penting untuk menandai jalan-jalan yang jarang di lalui orang-orang.  Berpakaian hitam-hitam dan menutupi wajah akan menimbulkan kecurigaan apalagi mengingat banyaknya prajurit di kota ini. Aku berjalan melalaui jalan ke tengah hutan cemara yang sepi dan memanjat di tembok pasar. Rumah gubernur masih harus menuruni bukit dan berada hampir-hampir di perbatasan Pasataria dengan Rakdak. Rakdak masih wilayah Negri Syaka tapi Rakdak bukan kota besar seperti Pasataria. Rakdak di penuhi dengan para petani-petani miskin, Rumah-rumah di desa itu juga tidak semegah rumah-rumah di Pasataria. Rakdak, bukan kota yang menghasilkan pajak besar. Aku berjalan bersembunyi terlebih dahulu di desa kecil Rakdak sambil mengendap. Cara paling aman menurutku adalah masuk dengan mengaitkan tali temali dan memanjat dari tembok ke tembok, lalu merayap ke atap dan masuk lewat salah satu jendela di lanatai dua.  Aku cukup hati-hati dalam mengendap dan aku sadar seharusnya aku lebih awal mengetahui kemampuan terpendamku soal mengendap-endap ini. Ku kaitkan tali menggunakan busur tambang ke salah satu jeruji besi jendela lantai dua. Aku menompang tubuhku bergerak pelan-pelan, memanjat hingga ke atas atap.  Dari atas sini aku bisa melihat Jon. Dia baru saja tiba. Dia bicara pada penjaga, rupanya wajah kaku Jon mengintimidasi para penjaga, dia diperbolehkannya masuk. Dia membawa gerobak besar tepung gandum. Setelah Jon berhasil masuk. Aku menyilanap lewat jendela lantai dua. Deng !  Ada seorang gadis sedang menekuni sesutu di atas meja. Dia menorehkan pena pada Partchmant, warna warna di atas partchmantnya tidak biasa. aku melihat tembok-temboknya yang penuh partchmant, begamabar bunga-bunga indah, pohon cemara, danau, kerjaan, istana pertama dan kesibukan di Pasataria.   Aku masih diam di selasar. Menunggu kesempatan untuk masuk. Gadis itu memang membelakangiku, tapi terlalu bahaya untuk tiba-tiba membuka jendelanya.  Akhirnya seseorang mengetuk pintunya. Waktu makan malam "Puan..." panggil seseorang dari balik pintu. Gadis itu membuka pintu kamarnya, seorang pelayan meminta untuk keluar. Aku segera masuk ke kamarnya. Di belakangku tiba-tiba Bazar muncul.  Ular ini... benar-benar  "Kau seperti tuanmu. tahu tidak ?!!"  Dia mengerjip. Ular bisa melakukan gerakan itu ? aku baru tahu. Mata Bazar terlihat agak berbeda. Aku sampai membungkuk mau melihat mata itu lebih jelas tapi dia sedah berjalan pergi.  Sebelum meninggalkan kamar itu, aku mengambil sebuah tinta. Tinta berwarna biru. Entah dari apa mereka membuat warna seindah itu. Aku tidak lupa mengambil salah satu partchmant yang tertempel di temboknya. Gambar itu berwarna hitam kelam tapi menggamarkan kota Pasataria yang ramai. Aku melipat gambar itu, menyembunyikannya di balik seragam mencuriku.   Aku mengikuti Bazar menuju salah satu ruangan kosong. Ruangan penyimpanan Quela. Ruangan ini adalah ruangan terwangi yang pernah ku baui-i selama ada di Negri Syaka. Aku, kalau tidur di sini pasti tidurku sangat nyenyak.  Aku menciumi segala macam jenis Quela yang paling terkenal di seluruh penjuru negri syaka. Bau mereka semua mengendap di kepalaku, enak sekali. Bisa tidak aku mengecap ? Bazar berdesis mengeluarkan lidahnya yang bercabang.  Mata Bazar,  ah.. Aku sekarang sadar, mata ular itu sebiru lautan seperti mata Deba "Deba.." Gumamku. Iya ! Deba menggantikan pengelihatan Bazar.  Bazar mendekatiku, melilit lenganku naik ke bahuku. Aku menghela nafas "Sudah ku bilang aku lebih suka kalau kau yang ikut, maksudku kau yang berbentuk manusia" dia bersis  "Kenapa kau cuma tahunya berdesis ? kau marah ?"  Bazar cuma berdesis  "Jangan-jangan kau marah karena aku tidak menurutimu ?"  Dia berdesis lagi. Aku menghela nafas ambil bersandar di sisi tembok, menunggu Jon bergabung bersamaku di ruangan itu. Kami bisa mengeksekusi rumah ini setelah jam tidur. Sementara itu kami terpaksa menunggu di ruang penyimpanan Quela.  Bazar turun dari lenganku. Bazar merayap di antara botol-botol minuman, dia keluar dari ruangan. Ku rasa dia mencari Jon untuk dibimbingnya ke kamar ini.  Aku menyiapkan tali temaliku. Sudah waktunya makan malam, dua jam lagi mereka akan tidur. Semua pencahayaan di rumah ini akan di matikan. Deba memberi tahuku, Sezarab menjelaskan, bahwa racun Wezxkur dan Minyak Rubah disimpan di lantai satu di tempat penyimpanan obat-obatan.  Sementara untuk bahan makanan, kami akan mengambil sebisanya. Tidak mematok, yang terpenting adalah racun dan obat.  Aku bersembunyi di balik tong-tong berisi Quela, duduk mengulat tali yang kata Jon seperti ibu-ibu pembuat renda di khot. Aku memang mirip mereka tapi taliku akan menyelamatkan nyawaku. Dan bukan nyawa Jon. Jon membuka puntu penyimpanan Quela dengan tergesa-gesa. di belakangnya Bazar merayap lewat celah pintu.  "Matiti" panggilnya berbisik-bisik  "Aku di belakang"  Dia menghela nafas. duduk bersandar. Keringat mengucur dari dahinya "Hampir saja, aku tidak sadar aku menaruh kapak di grobak dagang untungnya para penjaga itu tidak lihat" dia melempar kapaknya tersengal ketakutan  Apa begitu saja sudah membuat pria besar seperti dia ketakuatan ?  Aku mengeluarkan denah rumah "Kau sudah melihat situasainya ?" tanyaku  Dia mengangguk "Para pelayan, meninggalkan rumah ini dan mereka tinggal di belakang rumah utama" dia menunjuk salah satu bangunan yang terpisah dari rumah utama di denah "Penyimpanan obat-obatan berada satu ruangan dengan persediaan makanan, jalan paling aman adalah lewat di depan kamar gubernur"  "Penjaganya ?" tanyaku  Dia menggeleng "Aku tidak melihat penjaga" Dia diam sejenak "Justru aku melihat penjagaan di ruangan salah satu putrinya" Aku mendengus "Tadi aku masuk lewat kamar putrinya, ini !" aku menunjuk satu ruang di denah itu "Bukan, putrinya yang itu" Jon menggeleng "Di sini, di lorong kedua. dia sebelah selatan ruang penyimpanan senjata"  Tunggu  "Penyimpanan senjata ?"  Aku tergiur untuk melihat-lihat ruangan itu "Jangan coba-coba Matiti, penjagaan ruangan itu super ketat. Kau tidak bisa menembusnya, ada dua penjaga bersenjata"  "Kita hanya melihat-lihat" aku merajuk seperti bocah pada Jon. Jon masih menggeleng "Dia pasti tahu kalau senjatanya hilang" imbuhnya "Ruang penyimpanan senjata, berada di koridor yang sama dengan kamar putrinya " Jon tersenyum meremehkan "Habislah kau kalau ketahuan"  "Aku tidak akan ketahuan" aku mengedipkan mata Jon mendesah  putus asa dengan aku yang tidak mau diatur, memang dia babaku mau atur-atur aku "Sudahlah Matiti, kita harus fokus pada tujuan kita. Jangan mencoba-coba mencuri senjata"  Aku mengedikkan bahu, tidak bisa berjanji pada Jon. Kita lihat saja. Aku bukan anak penurut, aku suka mengikuti hati nurani dan keinganku sendiri, aku jarang sekali memikirkan orang lain.  Aku memandangi Bazar yang melingakar di atas tong berisi Quela yang wanginya enak sekali "Aku juga ingin Quela ini"  "Matiti, kau !"  dia mengacungkan kapaknya "Awas saja kau, bertindak sendiri seperti waktu di Morgot, sungguhan kukapaki kau tanpa ampun"  Aku mengedikkan bahu, tersenyum meremehkan "Kau akan mengabil berbotol-botol minyak rubah untuk mengobatiku. Percayalah kalau kau kapaki aku, kau akan membuat dirimu semakin repot. Kau memang suka mencari-cari pekerjaan"  "Itu Kau ! Dasar bocah"  ? Dua jam kemudian, Bazar memberikan kami kode. Aku bergerak lebih dulu. Sementara Jon di belakangku. Aku memberi kode padanya agar mengikuti Bazar, sementara aku memilih lewat jendela. Aku sudah tahu dimana tempat penyimpanan mereka. Sebelum keluar dari jendela Jon menggelengkan kepalanya. Kayaknya aku bocah badung banget. Tapi yah, aku selalu ekstrim. Mungkin juga aku sedang menikmati kebebasanku. Di Altar dulu, semua untukku sudah diatur dan disajikan, rasanya aku cuma jadi pemalas yang mengikuti mau ibuku.  Aku berjalan di tembok, menjadikan tembok sebagai lantaiku. Tali dan pengikat besi di pinggangku sudah sangat kuat. Rahasia aku bisa melakukan ini karena tubuhku yang ringan. Aku tidak pernah bermasalah dengan bobot. Lain halnya dengan Jon. aku sedikit bersyukur lahir dengan tubuh ini.  Aku bergerak turun mengawasi satu jendela ke jendela lain.  Aku bergerak ke arah penyimpanan senjata mengikuti denah. Aku tidak tahu berapa putri yang dimiliki gubernur ini. Kenapa si putri gubernur yang satu ini membutuhkan penjagaan di depan kamarnya, ayahnya sendiri tidak menggunakan penjaga. Kenapa hanya dia ?  Aku tidak menemukan jawaban yang pasti kenapa dia membutuhkan penjagaan. Karena yang kulihat hanya seorang gadis yang sangat tekun  sedang menulis di atas partcmant. Aku melihatnya dari posisi samping, dia terlihat lumayan manis.  Aku terdiam beberapan detik mengamati gadis itu. partchmant penuh tulisan bertebaran di lantai kamarnya. Mungkin dia berniat menyurati kekasihnya. Mungkin dia di kurung hanya karena masalah konyol, kisah cinta tak direstui. Sudahlah tidak ada waktu mengurusi kehidupan pribadi gubernur ini. Aku tidak peduli.  Aku turun menyusul Jon ke gudang penyimpanan untuk mencuri racun dan minyak rubah. Dia berdecak di depan pintu masuk gudang kesulitan memasuki ruangan "Minggir kau" kataku  "Aku sungguh ingin mencongkel matamu Matiti"  Aku tersenyum kecut "Seharunya kau belajar dengan sungguh-sungguh Jon, jangan ototmu saja kau pelihara"  "Cara bicaramu sudah seperti Igor"  Bersamaan dengan suara tawa kecilku, pintu itu berhasil ku buka. Bazar melilit di pegangan tangga mengawasi kami. Suara decakanya terlalu keras. Aku memintanya diam "Mangkanya ku suruh kau ikut" mata biru Deba bercahaya di mata ular itu.  "Kau bicara dengan siapa ?"  "Terkadang aku suka berdiskusi dengan diriku yang lain"  "Kau memang sudah gila" ujarnya sambil menyusuri deretan rak berisi botol-botol ragi.  Kenapa di rumah ini begitu banyak persediaan makanan. Sementara di banyak Klan di Altar mereka sedang kesulitan. Dunia ini tidak adil. Sangat tidak adil.  "Kau kenapa ? cepat cari minyak sialan itu"  Aku medengus, aku membuka karung gandum yang kubawa. Aku memasukakan bahan makanan yang  jumalahnya berlimpah, satu dua buah saja. Hanya untuk kami berempat "Apa kita perlu membagikannya pada orang kelaparan ?" aku tidak tahan melihat bahan pangan di tumpuk-tumpuk sampai menggunung.   "Matiti, kau belum jadi Raja. Nanti saja kalau kita mencuri harta Olexys atau Yubax baru kau boleh bertindak  seperti pahlawan. Untuk sekarang kita pikirkan diri sendiri dulu" Jon terus menyisiri setiap rak untuk menemukan minyak rubah "b******k mereka menaruhnya disini. Lihat !"  Aku lihat ! Mereka meletakkan minyak rubah di deretak kayu bagian atas dekat dengan langit-langit ruangan, kalau tidak jeli maka kami tidak akan menemukannya "Aku ambil 12 botol"  "Banyak juga, kau ingin membagikannya ?" Tadi dia melarangku mengambil lebih  "Tidak, aku menghawatirkanmu. Kau pasti akan sering terluka.." nada bicaranya sungguh meremehkan sampai-samapi aku hampir saja naik pitah dan menyegokinya dengan Wezxkur yang sudah ku kantongi "Bawalah satu karum gandum, kita sudah cukup" aku bergerak meninggalkan ruangan "Ada yang ingin kucari tahu. Kau bisa pulang sendiri kan ?" tanyaku pada Jon  Dia mendengus "Aku lebih menghawtirkanmu"  "Baik, ketemu nanti di rumah"  Dia tertawa  Rumah mana ? Kami tidak pernah lagi punya rumah. Rumah kami sudah menjadi abu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD