Riana pun kini sudah tiba dikontrakan yang dicarikan oleh sahabatnya beberapa hari lalu.
"Kemarin temanku bilang kalau ada lowongan kerja sebagai sekretaris disana, coba deh kamu melamar pekerjaan kesana, kamu kan sebelumnya pernah kerja dikantor juga." ucap Hana, temannya Riana.
"Apa? Sekretaris?" Riana menatap pantulan wajahnya dicermin dengan tidak percaya diri.
"Iya sekretaris." Hana mengangukan kepalanya.
"Bukannya jadi sekretaris itu harus cantik dan seksi ya? Kalau untuk karyawan biasa ada tidak? Kamu lihat sendirikan badanku seperti apa?" Riana sedikit tak percaya diri jika harus melamar sebagai sekretaris, ia takut akan ditolak.
Riana kembali teringat dengan sekretaris Suaminya yang cantik dan seksi itu, memang benar apa yang dikatakan wanita itu, tubuhnya lebih mirip gentong air.
"Sepertinya tidak ada deh." kali Hana menggelengkan kepalanya.
"Aku melamar pekerjaan ditempat lain saja deh, aku tidak percaya diri jika harus menjadi sekretaris." Riana kembali teringat ucapan Suaminya.
"Jangan menyerah dulu seperti itu dong! Coba dulu saja, katanya Bos disana lebih mementingkan orang serius berkerja. Soalnya Bos disana orangnya gila kerja, sekretaris dia sebelumnya tidak ada yang betah bekerja dengannya, dan orang-orang yang bekerja disana hanya orang-orang yang memiliki mental baja, namun sayang belum ada satu orangpun yang bisa bertahan disana lebih dari 3 bulan." jelas Hana.
"Apa Bosnya memang bener-bener gila?" Tanya Riana tak percaya.
"Kata temen aku yang kerja disana, memang benar Bosnya gila kerja, sampai-sampai karyawan disana juga ikut-ikutan gila."
"Serem dong kalau seperti itu." Riana bergidik ngeri.
"Tapi dengar dulu kelanjutannya, meskipun disana kerjanya gila-gilaan, gajinya juga gila-gilaan, perusahaan tersebut akan membayar gajinya lima kali lipat lebih banyak dari tempat lain, kebayang dong gaji sekretarisnya berapa? Apalagi mereka selalu mengadakan wisata keluar negeri setiap akhir tahun dan semua karyawannya di ajak tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Katanya itu hadiah untuk semua karyawannya yang sudah betah bekerja disana. Gajinya besar, liburan keluar negeri setiap tahun gratis, bagaimana tidak tergiur coba." jelas Hana.
"Menarik sih." Riana menganguk-ngangkukan kepalanya.
"Tunggu apalagi? Kalau kamu kerja disana kamu bahkan bisa lebih sukses dari Rendi, kamu juga bisa melakukan perawatan dan menguruskan tubuh sesuka hati kamu dengan uang sebanyak itu, kamu pasti bisa lebih cantik dari si Jihan itu." Hana kesal sendiri jika mengingat perselingkuhan Rendi dan Jihan.
"Tapi kira-kira, apa aku bisa merubah penampilanku ya? Aku agak ragu, berat badanku saja udah hampir mendekati seratus kilo, entah apa yang aku makan sampai aku bisa segemuk ini." jawab Riana murung.
"Kamu tidak usah khawatir, tidak ada usaha yang menghianati hasil, asal kamu fokus dengan tujuanmu, aku yakin kamu pasti berhasil." Hana terus menyemangati.
"Kalau aku tidak berhasil merubah penampilanku dalam waktu enam bulan, bagaimana ya? Apa aku harus merelakan Mas Rendi dengan Jihan."
"Huueekkk, jadi kamu masih mengharapkan pria berengsek itu? Aku kasih saran sama kamu ya, kamu tidak usah memikirkan Suami kamu lagi, lebih baik kamu mencari Suami lagi yang bisa menerima semua kekurangan kamu. Aku lihat sepertinya si Rendi hanya jatuh cinta padamu karena fisik, dan tidak ada jaminan kalau dia tidak akan selingkuh lagi jika fisikmu kembali berubah, kamu mau dibuang lagi sama si Rendi?" Ucap Hana sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Tapi aku cinta banget sama Mas Rendi, kita sudah berumah tangga selama lima tahun, apalagi dia juga berubah karena salahku yang tidak bisa merawat diri, jadi aku tidak mungkin meninggalkan dia begitu saja, aku harus membuat dia jatuh cinta lagi padaku."
"Aku heran deh sama kamu, sudah tahu Suaminya selingkuh masih saja dibela." Hana menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya berharap Mas Rendi akan berubah dan menyadari kesalahannya kalau sudah melihat aku juga berusaha berubah, aku harap Mas Rendi bisa menahan diri selama enam bulan ini."
"Kamu masih percaya sama Suami kamu? Aku yakin selama kamu pergi Rendi akan semakin gencar melakukan aksinya dengan wanita laknat itu. Mereka akan semakin leluasa karena kamu tidak ada dirumah. Aku berani taruhan aku rela jomblo seu.. awww sakit tahu." ucapan Hana terjeda saat Riana mencubitnya.
"Kalau bicara jangan sembarangan." jawab Riana dengan wajah kesal.
"Iya.. iya aku minta maaf, pokoknya aku akan meminta maaf pada Rendi kalau dia bisa menahan diri dari godaan nenek lampir itu." Hana menarik kembali ucapannya.
Hana adalah sahabat terbaik Riana sejak SMA, meski mulutnya sedikit pedas tapi hatinya sangat lembut, hanya Hana sahabat Riana yang masih tersisa sampai sekarang.
"Terima kasih ya Han, kamu sudah mau membantuku dan juga membelaku, tidak tahu deh nasibku sekarang kalau tidak ada kamu, kamu .emang sahabat aku yang terbaik." dengan cepat Riana merangkul tubuh sahabatnya itu.
"Iya sama-sama, pokoknya kalau kamu butuh apapun segera hubungi aku. Aku pasti akan membantumu sebisaku." Hana mengusap punggung Riana naik turun.
****
Hari kembali berganti dengan cepat, hari ini adalah hari dimana Riana akan menjalani interview diperusahaan yang dibicarakannya dengan Hana beberapa hari lalu.
Sebuah perusahaan yang bergerak dibidang properti dan sudah memiliki cabang perusahaan dimana-mana.
Disampingnya sudah ada empat orang wanita yang membuat Riana kehilangan percaya diri, karena keempat wanita tersebut terlihat sangat cantik dan seksi, Riana sedikit ragu kalau dirinya akan bisa bersaing dengan keempat wanita tersebut.
Riana menarik napas dalam dan mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri.
"Kamu pasti bisa Riana, kalau pun kamu gagal, pasti masih ada tempat lain yang lebih baik dari tempat ini yang sedang menunggumu." Riana mengepalkan erat sebelah tangannya.
"Ehh katanya CEO perusahaan ini langsung loh yang akan interview kita, dan lagi katanya CEO disini seorang anak muda yang gantengnya luar biasa." ucap salah satu wanita disamping Riana.
"Wah yang bener? Asik dong setiap bekerja kita disuguhkan wajah ganteng paripurna, kalau begitu sih aku rela bekerja tanpa digaji." ucap wanita yang satunya.
"Ehh tapi jangan senang dulu, katanya selain terkenal karena kegantengannya, dia juga terkenal dengan kegalakannya. Makanya tidak ada orang yang betah kerja lama-lama sama dia." sambung wanita lainnya.
"Aku yakin dia pasti terpesona oleh kemolekan tubuhku, aku tahu kalau semua pria itu sama saja, kita buka kancing sedikit pasti dia langsung klepek-klepek." ucap seorang wanita dengan bangganya.
Riana yang mendengar percakapan mereka hanya bisa menghela napas berat, hingga tiba saatnya mereka memasuki sebuah ruangan yang terdapat dua orang wanita dan satu laki-laki yang sudah menunggu mereka didalam sana.
Mata mereka kini tertuju pada satu-satunya pria yang ada disana, mereka semua seolah terhipnotis dengan ketampanan yang dimilik pria tersebut.
Seorang pria dengan bola mata kecoklatan dengan hidung mancung yang terbalut kulit putih bersih, wajah itu pasti akan membuat semua wanita dihadapannya jatuh cinta.
"Santi!!" suara keras yang terucap dari bibir pria itu berhasil membuyarkan lamunan semua wanita disana.
"Baik Pak." wanita itu segera duduk dihadapan pria itu.
Hanya dengan satu klik pria itu menyalakan sebuah layar monitor yang terhubung kesemua rekamanan CCTV yang terpasang disetiap sudut ruangan disana.
Dalam sekejap semua percakapan mereka diluar tadi terdengar oleh semua orang yang berada diruangan tersebut.
*****
*****