°° 3 bulan kemudian. Aku merebahkan diri ke tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar, bagaimana kabarnya sekarang? Bohong jika aku tidak peduli dengannya. Nyatanya terkadang aku masih memikirkannya, apa dia sama sepertiku? Aku tertawa hambar, "Jangan halu Syafa!" peringatku. Mana mungkin barang semenitpun dia memikirkanmu. Kau ini siapa? Jelas dia bahagia sekarang. Mungkin mereka akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Mengingat surat gugatan cerai sudah kukirimkan ke Mas Jiddan, tinggal menunggu tanda tangan darinya. Ngomong-ngomong apa sudah Mas Jiddan tanda tangani? Ya pasti tentu sudah di urus olehnya. Aku menggeleng-nggelengkan kepala, "Kau harus fokus Syafa! Kau tidak boleh memikirkannya lagi!" semangatku dalam hati. "Kamu kenapa toh nduk? Ada apa kok se

