Part 39

1194 Words

°° Tak lama terdengar deru mobil Mas Jiddan. Syukurlah aku sudah selesai mencuci muka meskipun masih terlihat sembab, Mas Jiddan tidak akan mengamatiku. "Assalamulaikum Dek," ujarnya tergesa-gesa. Buru-buru aku menghampirinya, "Waalaikumsalam Mas," lalu kuambil tangannya. "Akhirnya," katanya sambil menghembuskan nafas lega. Kenapa memang? Apa Mas Jiddan berfikir aku akan pergi? "Dek?" aku mendongak, "Kamu tidak apa-apa? Sebenarnya-" "Aku tidak apa-apa Mas. Tidak usah di bahas lagi. Apa Mas sudah makan?" dia mengangguk. "Yasudah gih mandi sana," dia menurut lalu berjalan menuju kamar. Sepeninggal Mas Jiddan tubuhku merosot mataku kembali berair bahuku bergetar. Kenapa sakit sekali meliat wajahnya? Seakan kenangan bersamanya menari di fikiranku. Aku memukul dadaku rasanya semakin ses

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD