Perlahan

1432 Words
Memang sangat ampuh ilmu sihir yang menembus tubuh Sandi hingga ia benar-benar takluk dengan apa yang ibundanya inginkan. "Tetapi sadarkah dia?" Sesungguhnya dengan ia menghancurkan pernikahan Sandi sebenarnya ibu Sandi secara tidak langsung ia telah menghancurkan kebahagiaanya sendiri. Bagaimana tidak, perempuan yang ibu Sandi inginkan untuk menjadi pendamping hidup Sandi yang bernama Mira adalah sosok wanita yang berkepribadian kurang baik menurut orang-orang yang telah mengenalnya. Namun semua itu belum diketahui oleh ibunda Sandi. Berbeda sekali dengan karakter Muti, sosok wanita yang baik hati dan ikhlas dalam menerima kenyataan hidup. Namun itulah manusia, hanya memandang dari satu sudut pandang saja. Akhir pekan pun berlalu. Sandi seperti biasa melanjutkan kembali aktivitasnya yaitu sebagai seorang ASN. Namun Sandi kali ini terlihat aneh dan berubah karakternya terhadap Muti. Kini Sandi lebih sering marah-marah tanpa alasan yang jelas. Baik dengan Muti ataupun dengan anaknya yang masih terbilang kecil. Ia kini menjadi seorang yang tega terhadap anak dan istrinya. Pertengkaran demi pertengkaran rumah tangga pun kini kerap terjadi. Terkadang Muti termenung dan menangis seorang diri. Ia tidak pernah menyangka kalau ternyata suaminya akan berubah seperti sekarang ini. Sandi kini menjadi sosok yang egois dan tidak mau mengerti keadaan Muti. Dia seolah-olah sudah tidak mau lagi menghiraukan perasaan istrinya. Dan telah jarang sekali berbicara terlebih bersendau gurau dengan anak dan istrinya. Semakin hari Muti pun merasakan tekanan demi tekanan dalam hidupnya. Dan pada suatu hari Muti tidak sengaja melihat hanephone Sandi yang tergeletak di Meja kerja Sandi. Waktu itu Sandi sedang berada ke kamar mandi. Tiba-tiba fikiran Muti terbesit ingin mengetahui isi hanphone Sandi. Akhirnya Muti berusaha membuka hanphone Sandi yang ada di Meja itu. Dan alangkah tidak menyangka, Muti pun mendapati chat Sandi dengan perempuan yang bernama Mira. Dengan Kata-kata dalam chat itu yang sangat menyayat hati Muti, karena Sandi ternyata ada main dengan perempuan lain dibelakang Muti. Kini semua telah terjawab sudah, berarti alasan Sandi berubah karakter ke Muti karena ada perempuan lain dihatinya. Setelah Sandi keluar dari kamar kecil, ia pun melihat Muti sedang memegang hanphonenya. Sandi pun berusaha untuk mengambil hanphonenya dari tangan sang istri, namun ia tidak berhasil merebutnya. Dan akhirnya Sandi sangat marah terhadap Muti karena tidak berhasil mengambil hanphone dari tanganya. Pertengkaran besar pun terjadi, hingga akhirnya Sandi tidak bisa mengontrol emosinya yang sangat tinggi dan sampai mengucapkan Kata-kata talak kepada Muti. Dengan meneteskan air mata, Muti pun menerima ucapan berpisah dari Sang suami. Setelah pertengkaran mereda sandi pun bergegas memasukan pakaiannya kedalam koper dan beranjak pergi meninggalkan rumah Muti, dan pulang kerumah Ibundanya. Alangkah senangnya hati Ibu Sandi melihat sang anak pulang dengan membawa semua pakaiannya. Proses perceraian Sandi dan Muti pun segera diurus oleh orang tua Sandi. Dengan hitungan hari Sandi dan Muti pun resmi bercerai di kantor pengadilan Agama setempat. Tidak pernah terlintas difikiran Muti jika ia akan menjadi seorang janda. Kalau saja Muti tau jika pernikahanya akan hancur seperti ini, mungkin dulu ia tidak akan pernah mau menikah dengan Sandi. Tapi siapalah yang tau nasib dan ketentuan manusia, semua itu adalah rahasia illahi Tuhan semesta Alam. Kini Muti pun pasrah dan ikhlas dengan ketentuan hidupnya. Ia akan berusaha tegar dalam menghadapi situasi yang tengah menimpa rumah tangganya, mestki semua itu sangat menyakitkan hatinya. "Bagi Muti Tuhan ( Allah SWT ) lah satu-satunya Sang penolong dalam kehidupan ini, ucap Muti dalam hati." "Karena dialah yang memiliki jagat raya, Alam semesta beserta isinya, dialah sebaik-baik tempat untuk mengadu dan memohon pertolongan serta perlindungan, karena tiada sesuatu pun di langit dan di bumi ini yang luput dari pantauanya." Tetapi sekuat apapun jiwa raga Muti, dia tetap manusia biasa yang mempunyai rasa sakit, lelah dan kecewa. Pada akhirnya karena beratnya beban fikiran yang ia tanggung, Muti pun jatuh sakit. Dan untuk beberapa hari ini ia terpaksa tidak bisa masuk sekolah mengajar seperi biasa. Di karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Dan akhirnya pun Muti memberi tahu ke ibundanya yang sedang berada di rumah kakaknya, Bahwa ia sekarang tengah sakit. Dengan mendengar Muti sakit, ibu Muti tanpa berfikir panjang ia meminta izin ke kakak Muti untuk pulang ke rumah dan tinggal bersama Muti kembali. Sesampainya di rumah, ibu Mutia tidak kuasa melihat anaknya yang tidak berdaya itu, ia pun memeluk anak bungsunya sembari menangis meminta maaf kepada Muti. "Sayang, ma'afkan ibu ya nak, ibu terlalu lama tinggal bersama kakak kamu sehingga Muti sampai sakit seperti ini." Dengan pelan Muti pun menjawab perkataan ibunya itu. "Tidak bu, ibu tidak bersalah, Muti yang kurang kuat dalam menghadapi semua ini bu." Akhirnya mereka pun berpelukan dan saling melepaskan rindu. Setelah keduanya selesai menangis, Muti pun dengan terbata-bata bilang kepada sang ibunda tentang problema yang tengah ia alami dalam rumah tangganya saat ini. Dan langkah akhir dari konflik yang menimpa bahtera pernikahanya, yaitu perpisahan. Ibu Muti pun sangat terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari bibir anaknya, bahwa ia telah resmi berpisah dengan Sandi. Alangkah sedihnya hati seorang ibu mendengar kehancuran anaknya. Tetapi apapun itu ibu Muti selalu mendukung dan memberi motifasi kepada Muti. Sebagai orang tua yang baik, ibunda Muti berpesan kepada Muti. Sesulit dan seberat permasalahan itu, ia ingin anaknya memilih jalan yang benar. Dan Muti pun telah mengambil langkah sesuai dengan yang ibunda inginkan. Untuk selebihnya biarlah Tuhan ( Allah SWT) yang menentukan langkah berikutnya. Kini Muti merasa sedikit lebih tenang karena sang ibunda telah ada disampingnya yang siap untuk membantu dalam setiap langkahnya. Hingga suatu hari tugas Sandi sebagai kepala sekolah di SDN Srindang wangi telah usai, kini ia dipindahkan tugas di SDN daerah lain. Dan begitu juga dengan Dimas, kini Dimas telah selesai dalam mengemban tugas sebagai kepala sekolah yang terletak sangat jauh dari tempat tinggal ibundanya. Dan inilah saatnya ia dipindahkan tugas kembali di SDN dimana sekolah dasar tersebut dulunya adalah tempat ia merintis karirnya menjadi seorang pengajar yaitu di sekolah dasar srindang wangi. Dimas pun merasa bersyukur sekali karena pada akhirnya ia bisa berkumpul kembali bersama rekan-rekan didik seperjuangan dulu di SDN tersebut. Dan yang paling menyenangkan bagi Dimas adalah, kini ia bisa bertemu Muti untuk setiap harinya dan tinggal bersama ibundanya tersayang. Dan setelah dinyatakan selesai dalam mengemban amanahnya di daerah itu, tanpa mengulur waktu Dimas terus berkemas untuk beranjak pulang kembali kepada sang ibunda. Hari yang menyenangkan sekaligus menyedihkan bagi Dimas, karena sesampainya dirumah Dimas mendengar kabar bahwa Mutia tengah sakit parah. Setelah Dimas mengobrol dengan sang ibundanya, Dimas meminta tolong ke Ibunda untuk menemaninya datang ke rumah Muti. Dengan senang hati ibunda tersayang pun siap menemani sang buah hati untuk membesuk Mutia. Dan sesampainya Dimas di kediaman Muti, ia pun merasa sangat tidak tega melihat Muti yang kini tengah terbaring dan tidak berdaya. Dengan perasaan cintanya yang terpendam selama ini, Dimas pun ingin sekali rasanya memeluk Muti dan memberikan kenyamanan kepada Muti. Dengan pelan Dimas pun mendekati ibunda Muti yang tengah duduk disamping Mutia. Karena kondisi Muti yang belum bisa merespon pembicaraan dari orang, Dimas hanya bisa berbicara dengan ibu Muti mengenai riwayat penyakit yang Muti derita. Ibu Muti pun memberitahukan semua tentang penyakit Muti kepada Dimas. Setelah Dimas mengetahui semua tentang riwayat penyakit Muti, ia pun memberikan tawaran (solusi) kepada ibunda Muti, mengenai pengobatan untuk Muti. "Ibu," ucap Dimas ke ibu Mutia. Bagaimana jika pengobatan Muti dibantu dengan produk herbal bu? "Banyak orang yang sembuh dengan perantara pengobatan produk ini." Ibu Muti pun menyetujui apa yang dimaksudkan oleh Dimas. Dan tanpa menunggu lama Dimas terus meluncur mencarikan obat herbal tersebut. Dengan waktu yang tidak terlalu lama Dimas pun mendapatkan Obat tersebut. Dan saat itu juga Dimas terus beranjak menuju rumah Muti dan segera meminumkan obat ke Muti. Alhamdulillah perantara minum obat herbal dari Dimas dua kali minum, keadaan Muti telah ada perubahan tanda-tanda akan sembuh. Muti pun terus meminumnya setiap hari hingga badanya kembali pulih seperti semula. Dan kini Muti sudah bisa menjalankan aktivitasnya sebagaimana mestinya, yaitu seorang guru. Kini Muti dan Dimas berada dalam satu sekolah yang sama seperti dulu kala, namun hanya berbeda jabatan. Muti yang masih tetap menyandang sebagai wali kelas dan Dimas telah naik jabatan menjadi seorang kepala sekolah. Tetapi bagi Dimas jabatan itu tidak dijadikan perbedaan, karena selain dahulu Ayah Muti yang menjadi perantara kesuksesan Dimas, ia memang memiliki kepribadian yang baik. Alangkah senangnya hati Dimas karena kini ia bisa bertemu dengan Muti setiap hari. Karena memang ternyata Dimas masih memiliki perasaan yang sama terhadap Muti. Dan semakin hari Muti pun terlihat ceria dan semangat dari hari-hari biasanya. Dengan menyandang status janda, bukan suatu yang gampang (Mudah) bagi seorang perempuan termasuk Muti. Tetapi karena hidup harus tetap berjalan, Muti telah mengambil kesimpulan untuk mengikhlaskan semua atas problema keluarga yang menimpanya. Muti lebih memilih maju dan bangkit dari keterpurukannya setelah pasca perceraianya dengan Sandi. Demi sang buah hati yang membutuhkan pengorbananya dan untuk masadepanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD