Chapter 7

1115 Words
sudah ada di depannya menunjukan senyuman menenangkan. "Mau makan?" Niko mengangguk singkat, "baik banget kamu nanyain" Layla menghentikan gerakan tangannya dan menengok sebentar kearahnya, "ini rumah makan, tentu saya nanyain" "Oh iya" Layla menggeleng kepalanya pelan dan kembali menyendokan nasi, "cukup, cukup. Saya nggak banyak makan kok" Layla menuju ke arah lauk pauk, Niko mengikutinya di belakang. "Mau a--" Layla berbalik guna menanyakan lauk apa yang mau Niko makan. Layla tercekat, tubuhnya sangat dekat dengan Niko hanya berjarak karena piring. Layla langsung berbalik kembali, "mau apa?" Niko tersenyum geli lalu menunjuk lauk yang diinginkannya, "Layla" panggil ibu Kira. Layla menengok, "pacar kamu mau dilayanin kamu" ujar ibu Kira. "Arhan?" Layla langsung menyerahkan piring yang sudah ada isinya, "silahkan dinikmati" ucapnya tanpa menatap Niko dan langsung bergegas melihat Arhan yang sudah duduk menyilangkan tangannya. "Lo belum makan?" Arhan menggeleng, "ini udah malem, kenapa lo nggak pulang dulu?" Tanya Layla mengambilkan nasi dan lauk seperti kemarin. "Males." Layla meletakan piringnya pelan, menatap Arhan yang menatap makanan di depannya dengan berbinar. "Makan yang tenang, gue ambilin air dulu" "Saya juga." sahut Niko. Layla dan Arhan menengok mendengar sahutan Niko yang kini duduk di samping Arhan. Arhan meliriknya dan langsung mengabaikannya, tangannya mulai menyendokan makanan. Dia baru saja pulang dari sekolah, sungguh melelahkan tapi itu adalah resikonya menjadi ketua. "Sejak kapan kamu kenal Layla?" Tanya Niko membuka suara. Arhan tidak menjawab, seolah Niko tidak berbicara dengannya. Matanya melirik pengunjung yang lumayan ramai. "Saya deketin pacar kamu." ujar Niko lagi. Arhan menengok cepat menatap Niko tajam, senyuman menyebalkan Niko terlihat, "kenapa? Nggak boleh?" "Lo punya otak. Pikir sendiri." Celetuknya membuat Niko tercengang. Layla kembali datang memberikan es teh untuk keduanya, "saya nggak pesen es teh" Layla menengok, "oh? Maaf, saya kira kakak mau samain pesenannya. Saya ambil yang anget atau air putih?" "Air putih." Layla kembali mengambil mug yang sudah ada di depan Niko tapi tangan Arhan menahannya, "buat gue." Layla mengangguk dan kembali melanjutkan niatnya untuk mengambil air putih pesanan Niko. "Kamu yakin bisa ngabisin semuanya?" "Bukan urusan lo. Jangan ngomong kalo lagi makan, lo bukan perempuan." Cetusnya. Niko mengangguk membenarkan, "sorry kalo saya ganggu" "Lo emang pengganggu" "Arhan!" Tegur Layla dan menunjukan senyuman tidak enaknya. "Maaf ya kak, dia emang suka nyablak" Arhan berdecih, "tambah!" serunya memberikan piringnya. Layla melongo melihat piring yang sudah bersih tanpa sisa, "lo nggak makan dari siang?" Arhan mengangguk enteng, "gue nggak ada di kantin kan?" Layla mengangguk, "jangan banyak-banyak Han, nanti perut lo sakit" "Tambah!" "Oke" Layla mengambil kembali nasi beserta lauknya, tidak sebanyak tadi atau Arhan akan kepenuhan. "La, tolong kamu ladenin yang baru dateng" ujar ibu Kira lagi yang terlihat kewalahan melayani pelanggan di sini. Layla mengangguk dan melaksanakan perintahnya setelah memberikan makanan untuk Arhan. Arhan kembali menyantap makanannya dengan lahap tidak memperdulikan Niko yang sudah menatapnya takjub. Selapar apa anak ini. "Pelan-pelan" tegur Niko ramah. Arhan hanya meliriknya, lelaki dewasa ini sungguh mengganggu ketenangannya. Setelah selesai Arhan meneguk es teh yang masih utuh, milik Niko yang tidak jadi diminum. Arhan bersendawa pelan dan mengucapkan rasa syukurnya, ponselnya tiba-tiba berdering. "Halo" "Kamu ada dimana? Pulang!" "Habis makan." "Pulang! Ini udah malem Arhan, kamu belum pulang dari sekolah" "Ada kumpulan tadi Yah! Jangan ngomel!" "Jangan ngomel gimana?! Anak nggak pulang-pulang pasti orangtuanya khawatir! Kamu ini gimana?! Cepet pulang atau kamu ayah kunci dari luar!" "Iya iya pulang" "Jangan ngebut!" "Iya bawel!" Arhan langsung mematikan ponselnya beranjak untuk membayar makanannya, "La, lo pulang sendiri gapapa?" Layla menengok lalu mengangguk, "lo pulang aja, mandi terus tidur" Arhan mengangguk, "gue udah bayar, jangan nagih!" Layla hanya mengangguk untuk merespon, matanya mengikuti langkah kekasihnya itu sampai mobilnya menghilang. "Tenang aja, saya yang anterin kamu" sahut Niko melihat Layla yang terdiam. "Ah nggak usah kak, saya bisa pulang sendiri" "Kamu jangan nolak!" Layla menatap kearahnya, "saya nggak mau." "Kamu harus mau Layla! Saya memaksa." "Kakak apa-apaan sih?! Saya nggak mau kak. Kalo orang yang diajak itu nolak seharusnya kakak sadar diri!" Sungut Layla tersulut emosi. Layla tidak suka dipaksa seperti ini, apalagi orang yang baru saja dikenal. Berbeda dengan Arhan meskipun baru kenal tapi dia tau karena di sekitar sekolah yang selalu dia terima kabar buruknya meskipun tidak melihat kondisi sebenarnya. Layla pergi meninggalkannya, kakinya terhentak kesal celemek yang dipakainya terlepas dengan kasar. "Layla" panggil ibu Kira. "Saya pulang duluan bu, maaf." "La dengerin saya dulu" Niko mencekal tangannya dan langsung ditepis Layla. "Jangan sentuh saya." Kecamnya menatapnya tajam. Niko menghela nafasnya melihat langkah Layla yang cepat, bodoh! Kenapa dia memaksanya?! "Niko" panggil ibu Kira. "Saya salah bu?" Ibu Kira tersenyum menggeleng, "kamu ngakunya ponakan ibu, bukan anak ibu" Niko menengok menatapnya, "maaf" Ibu Kira menggeleng pelan masih menunjukan senyumannya, "Layla nggak suka pemaksaan Niko, kamu harus tau itu" Niko mengangguk, matanya kembali menatap punggung Layla yang masih terlihat. "Mending kamu ikutin dia, ini udah malem. Dia maksa buat lembur" Niko mengangguk, "diam-diam atau nanti Layla makin marah sama kamu" peringat ibu Kira mewanti-wanti. Niko kembali mengangguk, mengambil sepedanya dan mengikuti jejak Layla yang sudah jauh di sana. Layla berjalan masih dengan amarahnya, alisnya meruncing kacamatanya masih bertengger dengan semestinya. Tiba-tiba Layla menghentikan langkahnya dan membuang nafas kasar, menenangkan dirinya dan otaknya yang memanas karena amarah. Beruntung jarak rumahnya tidak terlalu jauh hingga dia tidak terlalu lelah. Layla tidak menyadari jika dirinya diikuti Niko, di belakang sana Niko tersenyum kecil melihat langkah Layla yang terlihat malas. "Dasar nggak peka" Layla langsung berbalik mengejutkan Niko hingga mengerem mendadak, "kamu!" Layla mendekatinya cepat telunjuknya menunjuk wajah Niko tidak sopan, "ngapain kamu ngikutin saya?!" Niko tersenyum, "memastikan kamu nggak kenapa-napa di jalan, dan saya mau tau rumah kamu" "Nggak usah! Pergi sana!" Niko menggeleng, "saya anterin ya, maaf tadi maksa kamu. Saya nggak bermaksud kok" Telunjuk Layla menurun namun wajahnya tidak berubah, merengut menatap Niko yang masih menunjukan senyumannya. "Ayo" "Nggak! Rumah saya nggak jauh, mending kamu pulang sana! Nggak guna banget" gerutu Layla lalu kembali berbalik melanjutkan langkahnya dengan kesal. Niko tidak mendengarkan usiran Layla, dia kembali menjalankan sepedanya dengan santai. Layla berjalan dengan tangan menyilang depan d**a dia menyadari sepeda Niko masih mengikutinya. Biarkan saja lah! Dia lelah untuk ngomel. Setelah sampai rumahnya Layla tidak berbalik lagi, dia langsung memasuki rumahnya dan langsung membanting pintunya kesal. Niko terkekeh geli melihat aksi Layla di depannya, matanya melirik rumah Layla yang sederhana berbeda dengan rumahnya yang lumayan besar. "Sama-sama!" Seru Niko membuat pintunya kembali terbuka. "Nggak makasih!" Balas Layla. Brak Niko kembali tertawa pelan, lucu sekali Layla ini. Lalu Niko terdiam mengingat Layla sudah memiliki pacar. Menghela nafasnya pelan masih di depan rumah Layla. Kenapa juga dia menyukai Layla? Apa karena gadis itu sangat tenang? Tapi melihat hal tadi rupanya Layla emosian juga. Niko mengusap wajahnya pelan, dia akan menikung disepertiga malam. Cara yang paling ampuh untuk menggaet doinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD