Stella tersenyum sendiri di kamarnya, seperti orang yang sedang jatuh cinta. Wait, yes she is. Stella terbayang-bayang dengan senyum jahil Bram, senyum mengejek Bram, dan wajah lelaki itu saat tertawa. Kenapa Stella tiba-tiba seperti ini? Sebelumnya, ia tidak pernah peduli dengan senyum lelaki yang sedang ia pacari. Tapi, sekarang? Ia bahkan terbayang-bayang senyum lelaki, yang bukan pacarnya. Bram hanya ... dekat dengannya. Atau mungkin, hanya bisa disebut teman. Apa Bram menganggap Stella teman? Stella tidak mau dianggap sebagai teman. It hurts. Really. Stella mengembuskan napas beratnya perlahan. Ia turun dari tempat tidur, dan berjalan menuju balkon. Ia menikmati udara malam yang dingin, menusuk kulit pucatnya. "I wanna be somebody to

