"Apa maksud lo, Stell?" tanya Bram, setelah berhasil menarik Stella keluar dari kamar rawat Stevani. Stella lantas melipat tangannya di depan perut, dan memandang Bram kesal. "Maksud gue? Oh, lo nggak suka kalau gue ngaku-ngakuin lo jadi pacar gue?" "Eh, bukan gitu. Gue cuma nggak suka lo bohong. Kita 'kan nggak pacaran." Bram menggeleng, sambil menghela napasnya. "Belum," ralat Stella tegas. "Lo tinggal jawab iya, susah banget!" Bram tidak menyangka Stella yang sombong dan sering menghinanya dulu, bisa menyukai dirinya hingga seperti ini. "Stell, udah gue bilang, gue suka sama lo. Tapi, gue nggak mau pacaran!" "Kenapa? Oh, gue tau. Karena lo lebih cinta Guntur daripada gue. Iya 'kan? Dasar nggak normal."

