Two days before the real wedding... Berusaha lari kemana lagi? Pilihan ini membuatku tersudut pada dinding kamar dan tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh besar tatapan mengerikan itu. Dengan masih menggunakan selimut sebagai penutup agar tak memicu hasratnya kembali untuk mengoyak tubuhku, aku sedikit menangis saat Matt memegang wajahku serta menyajikan hawa beringasnya, "Bukankah kau sudah melakukannya beberapa kali semalaman, Matt?" Ia terus menggunakan metode liciknya. "Waktu sudah berganti sayang, dan aku..." Menangis! Ya, bola mataku tak mampu membendung lelehan air mata yang menyertai ketakutan lebih dari sebelumnya. "Aku mohon, M... Matt, aku... A... Aku." Pria itu tertawa__mungkin keadaan terlucu baginya__kecil kemudian memeluk sambil memberikan bel

