TIGA PULUH DUA

1607 Words

    The real wedding day...      Lurus mengajakku tak merelakan pandang ini beralih pada sudut manapun, hanya inilah alasan keinginan tetap menatap menara Eiffel agar terus berkembang memegang aliran korneaku hendak menerima secercah sinarnya genit. Histeris sugesti ku mengelola pagi mematokkan kelegaan kepuasan ini, aku berdiri bangga pada balkon kamar sekedar menyapa I've been here Paris.      Helai rambut hitam ku tersapu udara alami seakan menanggapi kalimat ini, terhirup hawa dingin separuh melewati penghidu ku. Unsur tekstur spektakel nya Eiffel melerai pertikaian antara satu persoalan suamiku__ah, forget it!__, mengusung rancangan kembali akan lakukan hari ini.      Pelupuk mataku terbuka untuk menghafal seorang pria menghampiri ku, aroma pedas hangat dari parfum dunia pria licik

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD