Keenan VS Beni

1540 Words
Sinta keluar dari kamar hotel, berjalan dengan penuh percaya diri seperti biasa. "Sin?" Sinta enggan sekali menoleh, karena ia sudah hafal betul suara siapa itu yang tadi memanggil namanya. Dia Beni adalah seseorang yang pernah menjadi manusia terpenting di hidupnya. Selama ini perempuan itu begitu menghindari Beni, sebab takut jika dia akan kembali menjatuhkan hatinya. Usaha Sinta mengacuhkan Beni ternyata sia-sia, saat laki-laki itu menghadang jalannya. "Gue buru-buru, Ben?" Dia sungguh takut melihat laki-laki itu yang sudah lama tidak dilihatnya walau kantor mereka di gedung yang sama. "Lo mau pulang? Gue anter ya?" Sinta memicingkan matanya. "Gue uda biasa pulang sendiri!" "Lo kenapa sih, Sin?" "Gue kenapa?" Bisa-bisanya Beni bertanya dirinya kenapa? Laki-laki itu dari dulu memang tidak pernah peka. Apakah selama ini dia juga tidak tahu, jika dirinya menghindarinya karena apa? "Lo tiba-tiba ngejauhin gue, tiba-tiba ngeblokir nomor gue, gak mau nyapa gue, padahal kita satu kantor. Gue masih gak tahu salah apa sama elo? Kita sahabat, kan?” "Lo tahu salah lo apa?" Beni menggeleng lemah, Sinta mendekat. "Salah lo itu jadian sama Ana dan gue gak suka!" "Masih segak suka itu sama Ana? Ana, dia gak pernah singgung lo sepertinya." Padahal Ana tidak pernah sekali pun membahas Sinta saat mereka dekat dulu. "Gue benci sama Ana dan itu gak butuh alasan." Beni membuang napas. "Terserah lo kalau begitu." Laki-laki itu akhirnya mengalah dan pergi meninggalkan Sinta. Dia tahu perempuan itu cukup keras kepala. Jika perempuan itu mengatakan tidak ingin berbicara dengan dirinya, sekali pun dirinya memohon-mohon untuk berbicara, itu bakalan sia-sia. Berlaku juga sebaliknya. Saat Beni memberhentikan mobilnya untuk mengisi bahan bakar di pom bensin, pandangan matanya tidak sengaja menangkap sesosok wanita yang baru ia temui beberapa waktu tadi. Lebih mengejutkannya, laki-laki itu melihat dengan siapa Sinta bersama. Banyak sekali pertanyaan yang timbul di benaknya, yang biasanya dirinya tidak sekepo itu dengan urusan orang lain. Tapi kali ini berbeda, ini menyangkut Ana seseorang terpenting di hidupnya. Dia tidak bisa tinggal diam. Beni jadi teringat perkataan Raka tempo hari tentang hubungan Keenan dengan Sinta. Jika benar apa yang dikatakan Raka, bagaimana tentang Ana? Setelah akhirnya bisa keluar dari pom bensin. Beni sengaja membuntuti dua orang itu. Ia ingin memastikan, jika apa yang saat ini ia pikirkan tidaklah benar. Laki-laki itu takut Ana disakiti oleh laki-laki lain, cukup sekali Ana terluka akibat ulahnya. Hujan tiba-tiba turun, Keenan tampak menepikan motornya untuk berteduh. Beni memperhatikan kedua orang itu yang tengah asyik sedang membicarakan entah apa itu. Dilihatnya Keenan yang sedang menatap Sinta. Dari tatapan laki-laki itu saja, Beni sudah dapat menebak hubungan apa yang terjalin diantara keduanya. Apalagi saat melihat Keenan yang dengan penuh kehati-hatian merapikan anak rambut Sinta. Melihat kedekatan mereka mustahil, jika mereka hanyalah sebatas rekan kerja. Beberapa detik kemudian Beni keluar dengan penuh amarah, memukuli Keenan bertubi-tubi setelah melihat apa yang baru saja dilihatnya. Sinta mencium Keenan dan laki-laki itu malah membalasnya. Dia semakin yakin ada apa-apa diantara keduanya, semua sudah jelas. Sinta berteriak histeris melihat kekasihnya tidak mampu membalas pukulan Beni yang tiba-tiba. Tidak ada yang bisa menghentikan Beni, laki-laki itu seperti kesetanan, dan itu menakutkan bagi Sinta. "Stop Ben ... stop!” “Lo apa-apaan sih?" Sinta bersusah payah mendorong d**a Beni, badannya bergetar hebat. "Lo b******n!!!" Beni kembali hendak menyerang Keenan, syukurnya kali ini Keenan lebih siap untuk menangkis pukulan Beni. "Apa-apaan sih lo!!" Keenan mendorong bahu Beni yang membuat laki-laki itu jatuh tersungkur. Melihat kesempatan itu Keenan tidak ingin membuang waktunya untuk memukuli wajah Beni di atasnya. Beberapa waktu kemudian mereka sudah berguling dan saling memukul satu sama lain. "b******n lo! Bisa-bisanya nyium cewek lain, padahal lo sama Ana!" "Oh jadi ini karena Ana? Bukannya lo udah mantan ya, kok masih ikut campur, sih?" "b******k!" "Stooop! Ben! Keenan sama Ana itu udah selesai. Lagi pula Keenan gak suka sama Ana, mereka itu hanya dijodohin. Please deh jangan kekanak-kanakan kayak gini!” Sinta mencengkeram bahu Beni, sebenarnya agak takut juga melihat laki-laki itu menjadi seperti ini. Beni yang ia kenal sangat tenang dan mampu menahan amarahnya. Akan tetapi hanya gara-gara Ana, laki-laki itu menjadi seorang yang tidak ia kenali. Biasanya dia lebih bisa mengendalikan dirinya dan bersikap dewasa, bukan main pukul seperti saat ini. Beni menghempaskan Keenan dan tangan Sinta dengan penuh amarah. Ia mengusap rambutnya sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam mobil dan segera menancapkan gas untuk segera pergi dari sana. Bani merutuki dirinya yang telah bertindak di luar kendali. Laki-laki itu merasa sangat bodoh, harusnya ia tidak gegabah, harusnya dia juga mampu mengendalikan amarahnya. Sebab jika ia pikir kembali, benar apa yang dikatakan oleh Keenan, bahwa ini semua harusnya sudah bukan urusannya lagi. Mereka sudah tidak memiliki hubungan lagi, mereka sudah berpisah. Kenyataan pahit yang begitu menyakitkan saat diingat. Beni memukuli kemudi, melampiaskan semua amarahnya. Sebentar ... ini semua tetap menjadi urusannya. Apa yang berhubungan dengan Ana, tetap menjadi urusannya. Apapun itu.... Cih kenapa jadi seperti ini? Bukannya dia yang menginginkan dan merencanakan putusnya hubungan antara dirinya dengan Ana? Tapi, kenapa dia yang kelihatan paling menderita di sini? Beni masih menyukai Ana, masih benar-benar sangat menginginkan perempuan itu. Memukul-mukul kemudi ia lalu berteriak histeris, mengingat lagi pertemuan dirinya dengan mama Ana beberapa bulan yang lalu. "Putusin Ana," ucap mama Ana tanpa basa-basi. "Mau gimana pun hubungan kalian tidak akan pernah berhasil, Ben," lanjut beliau. Beni meraup wajahnya frustasi. Ia menatap wanita di hadapannya itu tak berdaya, karena memang tidak ada yang bisa ia perbuat. Menangis pun percuma, tetapi di luar kuasanya, pandangannya semakin lama semakin buram oleh air mata. Wanita di hadapannya itu sebenarnya juga tidak kalah menyedihkannya dengan dirinya. Wanita itu juga ikut menangis sembari menggenggam tangan Beni dengan penuh emosi. "Maafin Mama ... maaf Ini semua salah Mama...." Beni begitu merindukan Ana. Apa boleh ia menemuinya? Apa ia kuat menahan semua ini sendirian? Boleh kah sekali saja ia bertemu dengan wanitanya? Akhirnya setelah bergemelut dengan isi hatinya sendiri, ia benar-benar memutuskan menemui Ana. Setelah panggilan yang kedua Ana akhirnya mengangkat telepon darinya. "An ... kamu di mana?" "Aku di rumah Cika, Ben. Kenapa?" "Boleh ketemu?" Mendadak sunyi, tidak ada sahutan dari Ana. "An?" "I ... iya-iya boleh." "Aku ke sana sekarang." Beni mematikan telepon dan berbalik arah menuju rumah Cika untuk segera bertemu Ana. Sebut saja ia nekat. "Ada apa?" tanya Ana, begitu melihat tampilan Beni yang begitu berantakan. Ada beberapa luka lebam di wajah tampan Beni, begitu juga luka robek di bibir laki-laki itu yang sangat mengganggu penglihatannya. Kenapa Beni harus terlihat berantakan saat mereka sudah tidak bersama lagi? Harusnya dia terlihat bahagia lepas darinya. Harusnya Beni bisa jauh lebih baik, saat sudah tidak lagi bersama dengannya. "Pengen ketemu aja." "Sebentar.” Ana masuk kembali ke dalam rumah Cika. Beberapa menit kemudian perempuan itu sudah kembali dengan sebuah kotak P3K yang ada di tangannya. Ana menatap Beni dari kejauhan, tidak mungkin dia tega membiarkan wajah Beni yang penuh luka itu begitu saja. "Gak sakit memang?" Ana saja ngilu melihat luka lebam di wajah Beni. Ini manusia malah terlihat biasa-biasa saja dan menatap dirinya dengan wajah datar, tanpa ekspresi seperti biasa. Harusnya paling tidak laki-laki itu mengeluh atau mengernyit kesakitan saat ia obati. Beni hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Ana. Perempuan ini tidak tahu saja, jika hatinya lebih sakit daripada luka-luka yang ada di wajahnya. Luka ini bukan apa-apa ketimbang nasibnya yang selalu saja tidak pernah beruntung. "Kenapa berantem?" "Lagi pengen aja." Beni menirukan jawaban Ana tempo hari. Ana terkekeh. "Itu kata-kataku kali Ben, gak kreatif." "Seru juga ya berantem, An." Ana mengangguk mengiyakan saja. "Tahu gini dulu bakalan sering-sering berantem." Ana langsung menampol lengan Beni gemas. "Sembarangan." "Kayaknya hidupku dulu selain pacaran sama kamu gak ada yang asyik, ya?" Ada benarnya juga sih memang. Beni memang selempeng itu. Laki-laki itu adalah tipe manusia yang hidupnya telah tersusun rapi dan terencana. "Tapi untungnya dulu pacaran sama kamu." Ana memandangi Beni. "Terus kenapa kamu selingkuh?" Maksudnya dengan berkata-kata seperti itu apa? Beni tercekat. "Iya ... ya, kenapa aku selingkuh?" Ia pura-pura berpikir. "Kamu ... kenapa masih mau ketemu sama aku, An? Kamu gak benci denganku?" Harusnya Ana tidak sudi bertemu lagi dengan dirinya, apalagi sampai merawat lukanya seperti ini. Ana menatap kotak P3K yang ada di tangannya, mencengkeramnya kuat-kuat. "Mana bisa aku benci sama kamu, Ben." Ia menarik napas lalu menghembuskannya. "Kalaupun kamu minta maaf dan ngajak balikan pun, aku masih tetap mau, Ben." benar kata Cika, jika bodoh dan bucin adalah beda tipis. Ana benar-benar merendahkan dirinya di depan Beni. Semoga laki-laki itu menyadarinya. Beni buru-buru membuang pandangannya, ia menatap sepatunya nanar. "Sorry, An..." Hanya itu yang mampu ia ucapkan, karena memang tidak ada lagi. Ana tertawa, tapi air matanya meluncur begitu saja tanpa permisi. Buru-buru ia usap agar Beni tidak menyadarinya. "Aku gak ada harga dirinya ya, Ben?" Beni menggeleng. "Aku ... aku sering berandai-andai dan menyalahkan takdir. Kenapa takdir begitu kejam denganku ... dengan kita?" "Ben?" Ana ragu-ragu memegang dagu Beni, mengarahkan wajah laki-laki itu agar berhadapan langsung dengan dirinya. "Kamu ...kamu nangis?" Ana tidak salah lihat, kan? Beninya menangis? "Ternyata baru teras sakit ya lukanya, An." Beni menyentuh wajahnya berusaha tertawa. Semoga Ana tidak menyadarinya. "Dasar! Makanya jangan sok-sokan ikutan kelahi, Ben." "Aku jadi anak baik-baik aja deh kalo gitu." Ana dan Beni saling pandang dan tertawa setelahnya. Mungkin tanpa mereka sadari , mereka berdua tengah menertawakan hal yang sama. menertawakan takdir yang selalu memutar balikkan hidup mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD