Kecelakaan

862 Words
Dentuman keras memekikkan telinga membuat orang di sekitar area itu berlari ke pusat suara. Beberapa orang yang berkumpul di sudut cafe yang berada di ujung jalan berhamburan keluar dari zona nyamannya. Berbondong-bondong melihat apa yang sedang terjadi. Sekitar sepuluh meter dari tempat mereka, tampak sebuah mobil BMW silverstone berwarna silver metalik mengepulkan asap. Bumper bagian depan kendaraan itu ringsek, mungkin pengemudinya sengaja membanting stir untuk menghindari sesuatu, tetapi malah menabrak pembatas jalan di depannya. "Kecelakaan!" pekik mereka secara bersamaan. "Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan?" tanya seseorang berambut ikal pada lawan bicaranya. "Aduh, aku juga tidak tahu. Aku takut nanti diintrogasi polisi, bagaimana, Bos?" tanya seorang pria lain yang berperawakan lebih kecil. "Kita selamatkan saja dulu korbannya! Sepertinya itu ibu dan anak." Pria itu mengintip dalam mobil dari balik jendela. Matanya melebar, melihat kondisi penumpang mobil yang sangat mengenaskan. "Ayo tunggu apa lagi! Ambil sesuatu untuk membuka pintunya!" bentak seorang pria berperawakan besar. Dengan peralatan seadanya sekelompok pria itu membuka paksa pintu mobil Yessinia. Malang tak dapat ditolak, Yessinia beserta putranya tampak sangat lemah dan tak berdaya. Cairan merah segar mengucur deras dari kepala dan mulut ibu satu anak itu. kondisinya sangat memprihatinkan, seluruh bagian depan gaun yang ia kenakan penuh dengan noda darah. Sedangkan Aldrick yang beberapa saat lalu masih bergerak, kini tampaknya pingsan karena sangat terkejut. Beruntungnya anak kecil itu hanya mengalami luka ringan karena air bag miliknya masih berfungsi dengan baik. Seorang pria berambut ikal dan memakai jaket kulit mengeluarkan tubuh mungil itu dari dalam mobil dan membawanya ke tempat yang lebih teduh. Pria itu mengecek seluruh bagian tubuh Aldrick, memastikan tidak ada luka selain di bagian pelipis dan tangan kanannya. "Tolong bantu aku angkat ibunya! Kakinya terjepit, bantu tarik dengan hati-hati!" perintah pria kekar yang sedang berusaha menyelamatkan Yessinia. "Bagaimana ini? Kepalanya tampak menghantam stir dengan keras, apakah ia masih bisa tertolong?" tanya seseorang berkacamata dengan cemas sembari menarik tubuh bagian atas Yessinia dengan tangan gemetaran. "Sudah, keluarkan saja dulu! Seseorang panggil ambulance biar mereka segera tertolong!" perintah pria berperawakan kekar itu lagi, kali ini dengan menekankan kata terbesit rasa gemas karena yang lain tidak segera bertindak cepat. Selang beberapa menit mereka berhasil mengeluarkan tubuh Yessinia yang sudah berlumuran darah, cairan itu terus bercucuran tanpa henti. Membuat siapa saja yang melihat keadaan wanita itu menjadi panik. Wajah yang ayu itu terlihat sangat pucat, bagaimana tidak? Sudah pasti ia kehilangan banyak darah. Sembari menunggu kedatangan ambulance, pria berjaket kulit yang tadi menyelamatkan Aldrick memeriksa isi dalam mobil. Mencari kartu identitas atau apapun milik Yessinia  yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi korban. Tiba-tiba ponsel Yessinia bergetar dan berdering. Benda berwarna hitam metalik itu masih berfungsi karena ia diletakkan di atas non slip mat yang berada di antara dashboard mobil. Pria berambut ikal itu terdiam dan melempar pandangan ke arah Bosnya. Dengan sigap pria berambut cepak yang biasa dipanggil Bos itu meraih ponsel Yessinia, berharap itu adalah keluarga korban. Sehingga dirinya tak perlu berurusan dengan polisi lebih lama untuk dimintai keterangan nanti. "Hallo, kamu di mana? Aku sudah berada di depan gedung lomba paduan suara Aldrick! Kenapa kamu belum datang juga, Yess?" Edrick tampak sangat cemas menanti kehadiran Yessinia dan Aldrick, tidak biasanya wanita itu mengulur waktu. "Maaf, Pak. Saya warga yang menemukan ponsel milik ibu ini. Beliau bersama putranya mengalami kecelakaan mobil," ucap pria itu gugup. Mulut Erick menganga tidak percaya. Baru beberapa menit yang lalu dia menelepon Yessinia. Bagaimana mungkin Yessinia dan putranya bisa kecelakaan? "Apa? kecelakaan? Di mana lokasinya sekarang? Apa sudah ada yang memanggil ambulance?" kata Erick memberondong beberapa pertanyaan. "Su-sudah, Pak. Ini di Jalan Mayor Bismo. Kemungkinan korban akan dilarikan ke rumah sakit terdekat dari area ini." "Terimakasih." Edrick menutup panggilan itu sembari menginjak kembali pijakan gasnya. Suara sirene ambulance membahana, memecah kericuhan para warga yang sibuk menerka-nerka kronologi terjadinya kecelakaan itu. Mobil dinas itu dengan cekatan membawa tubuh lemah Yessinia yang bersimbah darah berserta putranya. Benar dugaan si bos bahwa korban itu akan dilarikan ke rumah sakit sekitar. Beberapa petugas yang berwajib tampak menandai lokasi kecelakaan Yessinda. Ada yang mulai memasang garis kuning dan meminta keterangan warga sekitar untuk menceritakan kronologi terjadinya kecelakaan itu. Di sisi lain, keringat dingin bercucuran membasahi tubuh Frederick, pria itu memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, menuju salah satu lokasi rumah sakit terdekat di sana. Beruntungnya hanya ada satu rumah sakit besar gang berada di dekat lokasi kecelakaan Yessinia, sehingga Frederick tidak kesulitan untuk menemukan mereka. Pikirannya dipenuhi dengan bayangan putra biologisnya yang masih berusia dini. Semakin ia memikirkan kemungkinan terburuk, isi dalam kepalanya seakan akan meledak. Bagaimana pun nalurinya sebagai seorang ayah menuntut untuk segera bertemu darah dagingnya. Ponselnya berdering berkali-kali. Ederick melirik tampilan layar iphone miliknya. Valeria! Istri sahnya sedang meneleponnya. Saking paniknya dengan keadaan wanita kedua dan putranya, pria itu melupakan janji untuk pergi bersama sang istri. Wajar saja jika wanita itu menghubunginya saat ini. "Hallo, Sayang sekarang kamu di mana? Kita jadi keluar kan?" Erick menggigit bibir bawahnya. "Maafkan aku Sayang, sepertinya lain waktu saja. Masih ada urusan lain yang lebih penting. Maafkan aku, nanti aku kabari lagi." Erick memutus panggilan itu sepihak. Sekarang, yang ada dalam pikiran Erick hanya Aldrick. Erick harus cepat-cepat sampai ke rumah sakit untuk memastikan anaknya baik-baik saja. Valeria menurunkan ponsel dari telinganya dengan perlahan. Alis matanya tampak berkerut heran, berbagai pertanyaan muncul dalam benak wanita berusia kepala empat itu. Ke mana sebenarnya Erick pergi? Dari nadanya berbicara pria itu tampak sangat tergesa-gesa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD