03. SISI LAIN

1069 Words
Kini waktunya bagi siswa-siswi menyudahi kegiatan belajarnya. Setelah sekian lama menunggu, bel pulang sekolah akhirnya berbunyi dengan nyaring. Lagu "sayonara" memenuhi koridor sekolah. "Cih, emang anak TK apa, bel pulang aja pake lagu anak-anak," gerutu Marcell seraya memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas. Celetukan Marcell membuat Weeby langsung menukas, "terserah dong, yang penting gue terhibur tuh," sahut Weeby jutek. Dia tengah mengenakan cardigan kesayangannya. "Nggak usah nyaut, gue ngomong sendiri," balas Marcell sengit. "Berarti lo gilaa dong?" Weeby terkekeh pelan. "Lo yang gilaa, rambut aja pake di cat segala, emang lo gedung bangunan?" Marcell tak mau kalah, ia melempar perkataan lebih s***s lagi. Sontak saja hal itu membuat Weeby menggeram kesal. "Tau ah, urusan sama lo sampai mati aja nggak bakal kelar," sahut Weeby asal. Matanya memutar malas. "Tenang, nanti kita lanjutin di neraka, oke?" "Lo emang ngeselin banget ya, emak lo dulu ngidam apaan sampe punya anak segila ini? Suka heran sendiri gue." Weeby berujar kembali. Kali ini lebih serius. Melihat Marcell yang bungkam, mengatup mulutnya rapat-rapat sukses memancing Weeby untuk kembali berucap. "Kok lo diem? Emak lo ngidam apaan, gue kepo setengah mati nih? Ngidam kentut, ya?" tanya Weeby asal, ia menyipitkan matanya, menatap Marcell. "Nih, lo mau kentut gue?!" "Boleh, sini sini," tantang Weeby seraya menyodorkan wajahnya lebih dekat dengan Marcell. Nyali Weeby gede juga rupanya. Tentu saja Marcell tidak akan melakukan hal itu, ia hanya becanda semata, Marcell sama sekali tidak serius. "Males gue ngeladenin lo mulu, sono minggat lo dari sini!" usir Marcell sembari mengibaskan tangannya, mengisyaratkan agar Weeby segera menjauh darinya. "Yee ... siapa juga yang mau di sini terus, gue juga mau pulang kali," balas Weeby sengit, lalu ia mulai melangkah menjauh dari Marcell yang masih saja berdiri di tempat. *** "By! Kita ke mal yuk, udah lama nih nggak ke sana," ujar Netta yang duduk tepat di samping Webby. Kini Weeby, Kenya dan Netta sudah berada di dalam mobil milik Weeby. Weeby yang sedang fokus memegang setir kini melirik Netta dalam diam. Hanya dua detik saja Weeby menatap Netta, setelah itu dia kembali fokus ke jalanan di depan. "Iya By, udah lama banget kita nggak ke sana, lo setuju, kan?" Kini giliran Kenya yang berseru. Dia duduk di bangku belakang. Membuang napasnya perlahan, Weeby berujar, "gue kayaknya nggak bisa, lo tahu sendiri kan, akhir-akhir ini bokap selalu ngelarang gue buat pergi setelah pulang sekolah?" Mendengar perkataan Weeby seketika membuat wajah Kenya dan Netta langsung merengut. "Protektif amat bokap lo, sesekali boleh lah By!" rayu Netta lagi sembari menampilkan wajah puppy eyes, bermaksud agar hati Weeby bergerak dan menuruti kemauannya. "Tapi gue ..." "Cuma sekali By, kali ini aja. Bokap lo pasti nggak marah deh," sahut Kenya memotong ucapan Weeby. Ia juga menghasut supaya Weeby menyetujui. "Nanti biar gue traktir lo makan deh, gue kangen berat nih sama mal." Kenya kembali menyahut sembari terkekeh pelan. Pikirannya sudah melayang akan hal apa saja yang akan ia lakukan ketika sudah sampai di mal nanti. Dengan terpaksa, Weeby mengangguk pelan. Mengiyakan ucapan kedua sahabatnya itu. Walaupun sangat ragu jika ayahnya tidak akan marah. Ah, tapi semoga saja. Weeby harus perbanyak berdoa. Sontak saja Kenya dan Netta langsung bersorak girang setelah Weeby memberikan jawaban, telinga Weeby sampai berdengung menangkap suara cempreng ciptaan dua sejoli itu. Berulang kali Kenya melompat kecil di belakang. Weeby, yang melihat lewat spion tengah hanya tersenyum simpul akan tingkah satu sahabatnya ini. Butuh waktu empat puluh lima menit untuk sampai di mal, waktu yang terbilang cukup lama. Apalagi saat ini sore hari, waktu yang dominan sering terjadi kemacetan. "Kita mau kemana dulu nih, makan? Toko pakaian? Tas? Sepatu? Make up? Atau nonton bioskop?" seru Kenya tak sabar. Weeby dan Netta hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut melihat antusiasme yang Kenya perlihatkan. Benar-benar memalukan, seperti tidak pernah pergi ke mal saja. Setelah berdebat kurang lebih memakan waktu lima menit, akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke kafe dulu. Sebelum jalan-jalan lebih baik perut di isi dulu, kan? Oh iya, Weeby juga akan menagih janji Kenya yang katanya mau traktir dirinya makan. "Gue pergi ke toilet dulu ya, lo berdua tunggu di sini aja!" Sebelum Kenya dan Netta mengiyakan, Weeby sudah langsung melesat pergi. Mereka berdua hanya menghentakkan kakinya kesal. Mau tak mau harus menunggu Weeby. Berdecak sebal, lagi dan lagi Netta mengentakan kakinya ke lantai, sementara Kenya melipat tangannya didepan dadanya sembari mengerucutkan bibirnya. Tidak mungkiri, mereka selalu kesal bila Weeby sudah ke toliet, ia selalu betah berlama-lama di sana. Sesampainya di toilet, Weeby memandangi pantulan dirinya di cermin dekat dengan wastafel. Menghela napas panjang beberapa kali, Weeby mengambil obat dari dalam tasnya. Sejenak, ia memandangi obat itu beberapa detik. Selalu saja begitu, setiap hari Weeby harus sembunyi apabila mau mengonsumsi obat. Bukan alasan ia melakukan hal seperti itu, ia hanya tidak mau kedua sahabatnya tahu. Jujur, Weeby tidak merasa sakit dibagian tubuh manapun. Tetapi, kenapa ia harus minum obat setiap hari? Weeby sangat tertekan dan terpaksa melakukan itu semua. Jika orang itu tidak menyuruhnya secara paksa, mungkin Weeby enggan merusak jiwa dan batin-nya degan meminum obat yang ia sendiri juga tidak tahu obat macam apa dan untuk menyembuhkan penyakit apa yang dikonsumsinya ini? Weeby seringkali mengeluh, jika semua orang beranggapan Weeby adalah cewek nakal dan terkenal jutek. Nyatanya, ia memiliki sisi yang lain. Sisi yang sangat rapuh. Malahan setelah mengonsumsi obat itu, Weeby malah menjadi pusing dan mual. Bukankah terdengar aneh jika orang berjiwa sehat bugar jasmani dan rohani harus mengonsumsi obat-obatan? Memang terdengar sangat konyol, tapi tidak bagi Weeby. Cewek itu sudah terbiasa melakukan hal itu, itu pun berupa paksaan. Sering kali juga Weeby menolak mentah-mentah perintah orang yang menyuruh dirinya untuk melakukan hal itu. Tapi apa daya, Weeby malah semakin tersiksa. Mau sampai kapan Weeby merasakan hal yang menyedihkan seperti ini? Tanpa sadar, Weeby sudah menitikkan air matanya, tapi beberapa detik selanjutnya ia langsung menyekanya. Weeby tidak mau menangisi hal itu. Ya, walaupun kerap kali ia tidak bisa menahan kepedihan ini. Kenapa orang itu jahat sekali padanya dan apa maksud dari motif menyuruh Weeby meminum obat ini? Dengan terpaksa, Weeby langsung menelan obat dengan perasaan getir. Hidupnya terus saja begini, tersika batin dan jiwanya. Apalagi Weeby mengonsumsi obat itu satu hari sebanyak tiga kali. Sejenak, ia memandangi pantulan wajahnya di cermin lagi, lalu ia tersenyum sinis melihat hidupnya yang penuh dengan drama seperti ini. Weeby yang tekenal jutek dan menakutkan, tak lain dan tak bukan adalah Weeby yang memiliki sifat rapuh dan lemah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD