7. Be His Executive Assistant (3)

1794 Words
Chapter 7 :  Be His Executive Assistant (3) ****** "SUDAH kau cari?" tanya Justin. Violette memutar bola matanya, Justin sama sekali tak menghiraukannya. Asap sudah mengepul di sekeliling mereka dan Violette terbatuk-batuk. Justin memperhatikan berkas-berkas yang baru saja diberikan oleh Violette, lalu tak lama kemudian dia mengambil sebuah pena di dalam jasnya dan mulai menandatangani berkas itu satu per satu. Violette hanya memperhatikannya dalam diam. Justin terlihat seperti CEO yang…red flag. A bad guy. Akan tetapi...mengapa dia kelihatan keren ketika sedang merokok seperti itu? Terutama, ketika dia mengembuskan napas berasapnya ke udara. Oh s**t! Violette menggeleng. Bagaimana mungkin dia suka melihat orang merokok? Tidak!! "Sudah," kata Justin tiba-tiba. "Ada lagi?" Violette mengerjap, dia langsung mencari-cari berkas yang mungkin saja tersisa, tetapi ternyata semuanya sudah Justin tandatangani. "Sudah habis, sir." Justin mengangguk. "Okay. Makan pudingmu dan minumlah." Violette mengangguk dan menghela napas, kemudian menuangkan Sprite ke dalam gelasnya. Violette meneguknya dengan cepat, dia bahkan tak menyangka kalau dia ternyata sehaus itu. Justin menyipitkan matanya, dia memperhatikan Violette dengan saksama. "Selain cerewet, kau serampangan," komentar Justin seenaknya. Violette kontan tersedak, dia langsung melepaskan minumannya dan terbatuk-batuk. Batuk itu tak kunjung berhenti, malah jadi semakin kuat karena minuman yang diminum Violette tadi adalah minuman bersoda. Justin hanya memandangi semua reaksi Violette itu dengan ekspresi datarnya. Sialan! Dia tak ada niat sama sekali untuk menolong Violette! Setelah batuknya mereda, Violette serta-merta menatap Justin dengan tatapan tajam. "JANGAN BERBICARA DENGANKU KETIKA AKU SEDANG MINUM!!!" Justin hanya menaikkan sebelah alisnya. "Itu salahmu." "Kau—" geram Violette, tetapi Justin hanya mengisap kembali rokoknya dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Violette menghela napas; dia merasa capek sekali hari ini. Marah-marah seharian, makan hati seharian, oh. Semua hal itu membuatnya benar-benar pusing. Hening selama beberapa saat setelah sebelumnya Violette ikut menyandarkan tubuhnya di sofa. Tadi, Violette sudah menyusun berkas-berkas itu kembali ke dalam map, sebelum dia bersandar pada sofa. Hanya suara isapan rokok yang ada. Justin terus mengembuskan napas berasapnya ke udara dan asap itu mengepul di sekitar mereka. "Justin," panggil Violette. Justin hanya menoleh padanya. "sejak kapan kau menjadi seorang CEO? Bagaimana ceritanya?" tanya Violette. Seharusnya hal ini dia tanyakan ketika pertama kali dia bertemu dengan Justin kembali. Namun, karena saat itu Justin sangat menyebalkan, dia baru bisa menanyakannya saat mereka tengah duduk dengan tenang seperti ini. "Perusahaan itu milik Pamanku yang ada di sini. Aku menemukan Pamanku tiga tahun yang lalu. Dia sudah pensiun, jadi dia menyerahkan semuanya kepadaku. Aku baru satu tahun menjabat sebagai CEO di perusahaan itu." Mata Violette membelalak, ia menoleh dengan antusias ke arah Justin. "Wah? Jadi, selama tiga tahun itu kau tinggal bersama pamanmu, ya? Kalau begitu, kita sama," ujar Violette. "Aku tak mau disamakan denganmu," ujar Justin acuh tak acuh seraya mengisap rokoknya. Mata Violette menyipit dan tatapannya pada Justin jadi setajam silet. Sialan lelaki ini, pikirnya. "Well, kau selalu sombong. Tidak seperti Justin yang dulu." Justin berdecak, dia tiba-tiba menegapkan tubuhnya dan menatap Violette dengan tajam. "Berhentilah membandingkanku dan berbicara bahwa aku bukan Justin yang dulu, Violette. Dengar, betapa pun buruknya aku, aku tak melupakanmu dan semua hal yang sudah terjadi di masa lalu. Dengar itu." Dia mendengkus. "Lebih baik kau jauh dariku jika kau terus membicarakan masa lalu di depanku. Aku tak menyukainya," ujar Justin dengan nada tajam. Kedua mata Violette membeliak kaget; dia menganga tak percaya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Justin? Dia tak suka membahas masa lalu... Apa yang membuatnya jadi seperti ini? Bukankah semuanya berakhir dengan baik di masa lalu? Violette meneguk ludahnya. Justin mematikan rokoknya di asbak dan membuang puntungnya di sana, lalu pria itu berdiri. "Tugasmu sudah selesai. Kau boleh pulang," ujarnya, lalu dia pergi begitu saja menuju ke ruangan lain, meninggalkan Violette yang masih tercengang di ruang tamu. Violette sontak berdiri dan tatapan Violette tampak seperti ingin meminta penjelasan dari Justin. "Justin!" teriak Violette, tetapi Justin tak tampak lagi di mata gadis itu. Violette memejamkan matanya kuat-kuat karena kesal sekaligus tak mengerti. Ini seratus persen berbeda! Dia bukan Justin yang dulu! Diam-diam Violette merasa sedih, dia kehilangan temannya yang dulunya selalu berdua dengannya sebagai rekan kerja. Dia sejujurnya merindukan Justin, tetapi Justin kini sudah berubah. Justin yang sekarang juga tak mau diingatkan dengan masa lalunya lagi. Bagaimana mungkin Justin bisa mengingat bagaimana kebahagiaan mereka dahulu bersama Red Lion dan juga Hillda jika Justin seperti itu? Violette mengembuskan napasnya kasar, kemudian dia melangkah pergi keluar dari apartemen Justin dan menutup pintunya. Memejamkan matanya karena merasa kalut, Violette akhirnya pergi ke lift untuk turun ke lantai bawah. ****** Keesokan harinya, Violette kembali bekerja dan gadis itu tak menemukan Justin di dalam ruangannya. Well, Violette hanya mengedikkan bahu karena memang seperti itu peraturannya, 'kan? Dia harus datang lebih awal daripada Justin. Violette jadi lebih tenang juga karena tidak harus menerima kemarahan si Iblis itu nantinya. Namun, Violette masih heran dengan kejadian semalam. Dia masih kepikiran dengan masalah semalam dan ingin rasanya Violette memarahi Justin yang memutuskan untuk melupakan masa lalunya. Masa lalu itu boleh dilupakan, tetapi tidak secara total! Ambil hikmahnya saja, itu lebih baik daripada melupakannya secara total dan menganggap semua itu seperti mimpi buruk yang tak berujung. Justin harus menerima semua yang terjadi dengan ikhlas. Setelah beberapa jam menunggu, ternyata Justin tak kunjung datang. Violette menunggu Justin dengan gusar. Ketika akhirnya gadis itu menyadari bahwa Justin sepertinya tak datang ke kantor hari ini, Violette jadi cemas. Well, tak mungkin seorang pria yang menegakkan disiplin sampai seperti itu bisa datang terlambat. Jadi, kemungkinan besar Justin tak datang hari ini. Violette mengedikkan bahu, lalu gadis itu menghela napas. Mungkin mengobrol dengan Megan akan membuatnya merasa lebih baik. Lagi pula, Justin tidak datang hari ini. Violette masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dua, lalu ia pergi ke ruangan marketing. Dia masuk ke dalam ruangan marketing itu dan disambut dengan tatapan aneh, heran, serta kagum dari semua orang. Violette mengernyitkan dahinya tatkala merasakan tatapan orang-orang itu terhadapnya. Agak risi, sih, tetapi begitulah tatapan orang-orang kepadanya saat ini. Violette merunduk karena mendadak dia merasa malu. Tak lama kemudian, dia mendengar suara teriakan seseorang yang familier. Suara itu terdengar mulai mendekat ke arahnya. "VIOLETTE!!! AH, AKHIRNYA AKU BERTEMU DENGANMU!!!!" Ah...itu Megan. Violette mengangkat wajahnya dan tersenyum semringah. Megan langsung menghambur ke dalam pelukan Violette dan Violette balas memeluknya sembari tertawa. Setelah itu, Megan menarik Violette untuk berjalan ke dekat meja kerja gadis itu dan mengambilkan satu kursi untuk Violette agar Violette bisa duduk di sebelahnya. Entah kursi siapa yang Megan ambil, yang jelas pemiliknya di sebelah sana sedang mengoceh karena kesal. Violette ternganga saat mendengarkan ocehan orang itu, tetapi Megan kembali menyadarkannya, mengguncang lengannya, lalu mengajaknya duduk. Akhirnya, Violette pun duduk di kursi itu. Megan mulai menatap Violette dengan tatapan yang sangat antusias. Seribu kali lipat lebih antusias dari biasanya. "Violette! Demi Tuhan... Bagaimana harimu? Aku baru dua hari tak melihatmu dan itu terasa seperti satu tahun... Apa yang terjadi? Wah... Terakhir kali aku melihatmu, kau diseret oleh seorang pemuda tampan! Terakhir kali juga, kuketahui bahwa ternyata dia itu adalah CEO kita. CEO kita!! Ya Tuhan...!" Violette hanya terkekeh dengan canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Megan mencolek pinggang Violette dan gadis itu sontak terkesiap karenanya. "Hei... Ayolah... Ceritakan. Dia itu benar-benar tampan!! Aku sampai tak bisa bernapas dengan baik waktu itu!" kata Megan, ia bercerita dengan mata yang melebar dan mulut yang menganga. "Aku tak habis pikir jika aku jadi kau. MUNGKIN AKU AKAN KEJANG-KEJANG DI TEMPAT!!!!!" teriak Megan hingga seluruh mata mulai tertuju pada mereka berdua. Violette meringis, ia panik dan mengisyaratkan 'jangan-keras-keras' pada Megan lewat mimik wajahnya. Megan pun menganga lagi, membentuk mulutnya seperti 'O' besar, dan bertingkah seolah-olah dia terkejut bak orang t***l. Violette memutar bola matanya dan menggeleng-geleng melihat Megan. Namun, Megan hanya tertawa. "Namun, demi Tuhan... Rambut spike keemasannya, tubuh berototnya, pakaian rapinya, aroma maskulinnya, wajah tirusnya, ekspresi bekunya, gerakan tubuhnya..." Violette menutup paksa mulut Megan dengan telapak tangannya. "Sudah, Meg, sudah. Jangan berlebihan," ujar Violette, dia langsung mencoba untuk menenangkan Megan. Megan mulai memegangi tangan Violette yang tengah menutup mulutnya itu; Megan menggeliat tak keruan. Akhirnya, Violette melepaskan tangannya dari mulut Megan. "HAHAHA. Well, kau mungkin biasa saja karena kau sudah sering melihatnya, Violette. Nah, KALAU AKU? AKU BARU MELIHATNYA SEKALI DAN KURASA ADA YANG BERBEDA DI SINI," ujarnya, dia menunjuk tepat ke arah hatinya. Rasanya Violette mau muntah. Megan sontak tertawa kencang. "Oke, bercanda. TAPI SERIUS, AKU KAGUM PADANYA!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN KEMARIN? APA SAJA? APA, VIO? AYO CERITA!!! AHH, AKU BEGITU SEMANGAT UNTUK MENDENGARNYA!!!" Violette meringis lagi, mulai menyerah dengan sikap Megan yang superhisteris dan juga hyperactive. Ergh…apakah ada tissue di sini? Violette membutuhkannya untuk menyumpal mulut Megan. "Tidak melakukan apa pun, Megan. Aku justru selalu bertengkar dengannya." Megan mengernyitkan dahi, ekspresinya kelihatan agak terkejut karena Violette ternyata menceritakan hal yang tak ia harapkan. Kenyataannya justru berbanding terbalik dengan harapannya. "Mengapa?" tanyanya dengan nada kecewa. "Entahlah... Dia tak suka jika aku mengungkit masa lalu dan ya...begitulah. Dia selalu membuatku kesal dan kami selalu beradu mulut," ujar Violette sembari mengedikkan bahu. Megan menganga, dia semakin mendekati Violette. Ia heran sekaligus antusias. "Wah, mengapa seperti itu, ya? Sepertinya, hubunganmu dengannya tidak berjalan dengan baik," kata Megan. Violette mengangguk. "Ya, begitulah. Dia menyebalkan dan...kami tak pernah akur." Megan mengusap punggung Violette. "Bersabarlah... Mungkin nanti seiring dengan berjalannya waktu kau akan terbiasa dan tidak bertengkar lagi," ujarnya. Dia mencoba untuk menenangkan Violette. Violette pun menghela napasnya. "Ya... Mudah-mudahan seperti itu." Megan mengangguk dan Violette akhirnya tersenyum padanya. ****** Keesokan harinya, Violette pergi lagi ke kantor dan masuk ke ruangan Justin. Dia menunggu hingga beberapa jam lamanya dan Justin tetap tak kunjung datang. Ada apa sebenarnya dengan pria itu? Kemarin Violette tak terlalu memedulikan apa yang terjadi padanya. Namun, jika sudah dua hari? Tidak mungkin orang disiplin seperti itu jadi lalai, apalagi ini sudah dua hari! Violette menggigit kukunya, dia mulai merasa panik. Ada apa dengan Justin? Violette keluar dari ruangan CEO itu, masuk ke dalam lift, turun ke lantai dua belas, lalu mencari ruangan salah satu manajer dan mengetuk pintu ruangan manager itu dengan pelan. Dia harus tahu apa yang terjadi pada Justin! Dia executive assistant-nya Justin, bagaimanapun juga. Jika Justin membutuhkan bantuannya dalam hal pekerjaan, sudah seharusnya, 'kan, Violette membantunya? Jadi, dia harus tahu keadaan Justin. Mengapa Justin tak mengatakan apa pun? Setelah ada perintah berupa: 'Masuk' dari manajer personalia itu, Violette masuk ke dalam ruangan dan merunduk hormat. Setelah itu, Violette mulai bertanya dengan sopan soal apakah manajer itu tahu tentang apa yang telah terjadi pada Justin. Huh, Violette benar-benar harus berani menanyakan hal semacam ini kepada orang lain, padahal executive assistant seharusnya lebih tahu soal Justin! Violette akan dicap sebagai executive assistant yang abal-abal kalau begini! Lagi pula, Justin ke mana, sih? Dia bahkan tak memberikan kabar apa pun pada Violette. "Apa? Sakit?!" teriak Violette tak percaya setelah mendengar penjelasan dari manajer personalia itu. Well, Justin ternyata bisa sakit juga. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD