Mbok Angkat Suara

1911 Words
"Aden Kevin," panggil Mbok lembut saat mereka sedang berada di dalam mobil perjalanan pulang. "Iya, Mbok. Kenapa?" "Maaf, Mbok mau tanya, boleh?" "Silahkan." "Apa benar yang tadi semua Aden bicarakan?" "Mengenai apa, Mbok?" "Ya tadi, soal Non Sela." Kevin menarik nafas panjang, dan mengangguk. "Ya Allah, Mbok gak nyangka Non Sela seperti itu." "Tapi memang seperti itu kenyataannya, Mbok." Hening, mereka kembali pada pikiran masing-masing. Kevin fokus menyetir namun pikirannya tiba-tiba melayang pada kejadian tadi dirumah kakak iparnya. Flashback On "Apa lagi, Kevin! Apa lagi?" ucap Mamah Vasya histeris mengetahui kelakuan anak dan suaminya yang tak beradab. "Anak Tante ini tidak pernah mau menerima uang dari bang Reno. Ia selalu mengatakan bahwa tidak butuh uang dari abang, aneh bukan? Sikapnya benar-benar jauh dari kata baik, bahkan sepertinya ia tidak paham akan sebuah adab dan kodratnya sebagai wanita! Setiap pagi selalu meributkan masalah pekerjaan!" "Abang Reno hanya meminta sesuatu yang sederhana dari istrinya, yaitu berhenti bekerja. Fokus mengurus suami dan juga untuk anak-anaknya kelak. Tapi apa tanggapan anak kalian ini? Hah? Dia menghina dan memaki abang! Dan lagi yang membuat saya muak adalah pagi ini!!" "Ada apa pagi ini?" "Dia, membuang uang yang dikasih abang Reno tepat di wajahnya seperti melemparkan pengemis! Apakah itu pantas? Apakah itu perlakuan seorang istri yang baik? Apakah perlakuan seperti itu pantas dilakukan oleh seorang istri?" "Astaghfiraallah, Sela. Papah tidak menyangka kau bisa berbuat seperti itu pada suamimu!" "Memangnya kenapa? Hah? Aku tak butuh uang itu karena aku bisa cari uang sendiri!" Plakk "Lancang kamu, Sela!! Kamu itu perempuan! Kodrat perempuan itu harus nurut dan patuh pada suami! Kau harus menghargai suamimu! Dan sikapmu jika seperti itu sama saja kau sudah berdosa! Allah akan murka!!" "Halah! Persetan dengan Allah! Memang Dia kasih uang? Gak 'kan? Dapat uang dari kerja keras sendiri!" Plakk "Kau! Benar-benar perempuan gak beradab!! Papah! Lihat itu anakmu! Anak yang selalu kau manjakan! Anak yang selalu kau turuti semua keinginannya dan anak yang saat ini sedang menodai wajahmu di depan keluarga besan!!" "Sela! Setinggi-tingginya jabatan kamu, sebanyak apapun penghasilan kamu, kau tetap seorang perempuan! Kodratnya perempuan itu patuh! Patuh terhadap suami! Karena kelak, suami yang akan membawamu ke surganya, Allah! Mamah tidak pernah menyangka melahirkan anak sepertimu! Mamah kecewa!" Mamah Vasya melangkah ingin pergi dari tempat itu namun dicegah oleh Kevin. "Tunggu, Tante. Pertunjukannya belum selesai." "Ada lagi?" "Tentu. Dia bicara lantang, bahwa tidak akan mau mengurus suaminya bahkan mempersilahkan suaminya untuk menikah lagi dengan alasan sibuk dengan kerjaan dan lebih memilih mengurus pekerjaan daripada suami!" "Apa???" ucap mereka serempak begitu juga dengan Mbok. "Allahuakbar! Aku tak tahu azab apa dari Gusti Allah yang akan menimpamu, Sela! Kau benar-benar keterlaluan!" "Jadi, bukankah tidak salah apabila suatu saat nanti abang saya berpikiran untuk menikah kembali? Karena memang sudah mendapatkan izin dari istri pertamanya bahkan istri pertamanya yang menyuruh dia menikah kembali?" "Memang masalahnya dimana? Bukankah tak masalah jika suami berpoligami? Justru itu menguntungkan, bukan? Kami bisa berbagi, apalagi soal kerjaan. Pekerjaan rumah istri kedua yang mengurus dan aku fokus pada kerjaan sendiri!" "Masalahnya dimana? Hah?" "Silahkan, Nak. Saya lepas tangan," ucap Papah Dedi tiba-tiba tak menghiraukan anaknya. "Baiklah. Saya rasa, kehadiran saya disini sudah lebih dari cukup. Saya minta, apabila anak kalian ingin menginjakkan kaki ke rumah kami lagi, tolong terlebih dahulu bersihkan dirinya, tubuhnya sekaligus pikiran dan juga hatinya! Saya tidak mau keluarga saya terkontaminasi keburukan darinya!" "Maaf, saya terpaksa meninggalkannya disini. Saya ingin membuat keluarga saya sembuh dulu seperti sedia kala!" "Assalammualaikum." Kevin berlalu, tangannya menarik tangan Mbok. Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumah tersebut. Flashback off "Den!" sentak Mbok membuat Kevin berjengit. "Astaghfiraallah. Mbok, kaget." "Jangan melamun, Den." "Maaf, Mbok." "Mbok, kalau kita mampir dulu ke teman Kevin?" "Ngapain, Den? Kasihan yang di rumah pada dikunci dari luar?" "Gak pa-pa. Mereka aman." "Terus, Aden gak sekolah?" "Bebas, Mbok." "Kok bebas?" "Ya soalnya 'kan mau Ujian Nasional, jadi ada hari tenangnya." "Oh begitu. Tapi, ngomong-ngomong kita mau kemana, Den?" "Jadi, teman Kevin itu Ayahnya Pak Kyai. Kevin mau sembuhin orang-orang rumah. Mbok mau gak bantuin?" "Baik, Aden. Mbok mau." "Oke, sekarang kita meluncur kesana, ya." Kevin langsung memutar arah, awalnya ia hendak balik ke rumah tetapi tiba-tiba berubah pikiran dan memilih untuk ke rumah teman yang ayahnya seorang Kyai. Kevin merasa harus segera mengurus semua ini agar keluarganya kembali sembuh seperti awal. *** Sebelumnya, Kevin sudah menghubungi temannya lebih dulu menanyakan apakah ayahnya ada dirumah atau tidak mengingat ayahnya itu sangat sibuk sekali. "Assalammualaikum, Bro." "Waalaikummussalam, Kev. Gimana?" "Ada dimana lu, Gem?" Gema adalah salah satu sahabat Kevin yang baik dan paham banget agama. Terlebih lagi abahnya adalah seorang Kyai, jadi memang wajar jika Gema itu anak yang alim. Dan Kevin senang sekali bersahabat dengannya. "Dirumah. Kenapa?" "Abah ada dirumah juga?" "Oh ternyata lu yang mungkin ditunggu Abah." "Maksudnya, Gem?" "Iya dari tadi Abah mau pergi tapi gak jadi terus. Katanya, akan ada yang berkunjung dan mungkin itu lu. Lu tanya abah karena ada perlu dengan beliau 'kan?" "Iya, Gem. Gue butuh pencerahan banget." "Ya sudah, kesini saja, Kev." "Siap. Otewe kesana. Wasalammualaikum." "Hati-hati, Kev. Waalaikumsalam." *** "Den, apa yang kita lakukan ini benar?" "InshaaAllah benar, Mbok. Kevin gak mau Mamih, Papih dan Abang berada dibawah kekuasaannya perempuan jahat itu!" "Den, sebenarnya, Mbok pernah melihat Non Sela mencurigakan." "Serius, Mbok?" "Iya, Den." "Ceritakan!" "Waktu itu, saat keluarga sedang duduk santai diruang keluarga. Tiba-tiba Non Sela mendekati Mbok di dapur dan menyuruh ambil pakaian kotor di kamarnya, lalu saat Mbok kembali Non Sela seperti sedang memasukkan sesuatu ke dalam masing-masing minuman. Mbok gak tau jelasnya apa, karena cuman lihat dari jauh, takut ketahuan." "Benar berarti dugaan Kevin, Mbok." "Dugaan? Jadi Aden itu baru menduga? Belum melihat langsung?" Kevin mengangguk cepat. "Bagaimana, bisa?" "Waktu itu, saat Kevin melewati kamar perempuan durjana itu. Dia sedang duduk di depan kaca rias dan mengoles sesuatu di wajahnya. Kevin gak tau pasti itu apa, tapi terlihat aneh sekali, karena takut ketahuan jadi Kevin tidak melihat sampai selesai, Mbok." "Lalu?" "Nah, Mbok ingat waktu mereka pulang kampung berdua?" Mbok mengangguk cepat. "Saat Mamih dan Papih berkunjung ke rumah orang tua perempuan durjana, Kevin diam-diam masuk ke dalam kamar dan mencari sesuatu yang mencurigakan. Semua sudut sudah di cari tapi ternyata tidak menemukan apa-apa. Gak mungkin banget kalau gak ketemu, jadi Kevin mencoba mencari lagi." "Ada satu meja mirip lemari kecil gitu di sudut ruangan kamar, entah mengapa Kevin merasa sesuatu ada di dalam sana. Akhirnya Kevin menemukan satu botol air yang di dalamnya ada kertas berisi tulisan arab dan sebotol kecil mungkin minyak. Dan Kevin dapat kesimpulan, memang perempuan durjana itu tidak beres." "Oh, pantas saja. Aden waktu itu tiba-tiba minta Mbok membereskan kamar Aden Reno?" "Iya, betul sekali. Kalau Kevin yang membereskan tidak mungkin, karena tak apal posisi dari tempat itu sedangkan Mbok 'kan hafal karena setiap hari membereskan." "Ya Allah, Den. Mbok benar-benar tidak menyangka sekali Non Sela bisa berbuat seperti itu." "Siapapun pasti akan menghalalkan segala cara untuk uang, Mbok." "Tapi, Non Sela katanya 'kan gak butuh uang, Aden." "Tapi, dia butuh bang Reno untuk mendesain segala macam motor custom untuk keuntungan perusahaannya sendiri." "Ya Allah, orang kaya ada saja akalnya." "Tidak semua orang kaya, Mbok. Hanya saja kita bertemu dengan salah satu orang kaya yang seperti itu." "Mbok pikir, Non Sela baik." "Semua orang juga pasti berpikir seperti itu, Mbok. Tetapi kita tidak pernah tau hati seseorang." *** "Alhamdulillah akhirnya tamu Abah sampai," ucapnya tiba-tiba saat Kevin dan Mbok sudah turun dari mobil. "Waalaikumsalam, masuk, Nak," sapa Abah Zaylani tiba-tiba. "Bah? Kevin 'kan belum masuk dan ucap salam," ucapnya bingung. "Sudah masuk saja, Kev. Abah memang menunggu dari tadi," ucap Gema santai. Mereka berdua masuk ke dalam dan dipersilahkan duduk. "Gem, bagaimana bisa Abah nunggu kami?" "R.a.h.a.s.i.a." "Kampret!" umpatnya. Abah hanya tersenyum melihat kelakuan dua sahabat itu. "Bagaimana kabarmu? Sehat?" "Alhamdulillah, Bah. Ini semua berkat doa Abah dan juga air yang diberikan oleh Abah." "Alhamdulillah. Abah hanya perantara, Nak. Lalu, saat ini ada apa lagi?" Kevin mulai menceritakan semuanya. Dari kembalinya abang dan kakak iparnya dari kampung halaman membuat keadaan semakin parah. Sikap dan tingkah laku abangnya semakin seperti orang bodoh dan juga semua keluarganya seperti orang bodoh. Kevin muak dengan keadaan yang sedang tidak baik-baik saja. Abah memang mengerti perkaranya, namun beliau masih tenang menghadapi Kevin yang sangat berapi-api. Terlihat sekali, anak muda itu tidak terima keluarganya diperlakukan semena-mena oleh kakak iparnya. Seorang perempuan, yang dianggap anak oleh orang tuanya justru menjadi belati di dalamnya. Kecewa? Sudah pasti! Dan ini adalah bentuk dari kekecewaan Kevin. Ia berontak dan tidak bisa tinggal diam lagi. Ia merasa harus segera diselesaikan dan dikembalikan seperti semula lagi. Ia khawatir apabila didiamkan akan semakin tidak karuan keadaan keluarganya. Abah masuk ke dalam entah mengambil apa, Kevin ditenangkan oleh Mbok dan juga Gema. Sorot matanya penuh kekecewaan dan emosi, nafasnya tak karuan. Ia menangis tergugu dengan keadaan keluarganya. Sebelum perempuan itu masuk ke dalam keluarganya tidak pernah kejadian seperti ini, tetapi sekarang? Dalam dua bulan saja semuanya berubah. Mbok terus berusaha menenangkan anak majikannya itu. Beliau ikut hanyut dalam tangis, beliau merasakan apa yang Kevin rasakan. Mengingat beliau sudah mengabdi di rumah besar kediaman Bapak Bastian itu kurang lebih dua puluh tahun, maka hafal betul tabiat orang-orang rumah itu. "Sudah jangan menangis lagi. Sudah cukup. Sekarang, bukan waktunya untuk menangis tapi bergerak! Abah yakin kau bisa melewati semuanya. Ingat, Gusti Allah tidak akan menguji umatnya diluar batas kemampuan umatnya. Jika saat ini kau sedang diuji, itu artinya kau mampu melewati semua ini." "Gusti Allah masih sayang padamu juga keluargamu. Maka dari itu membuat salah satu anggota keluargamu sadar ada kesalahan di dalamnya dan itu kamu. Melalui dirimu, mereka bisa kembali seperti sediakala." "Belajar sabar, ikhlas dan memaafkan, Nak. Sulit memang, tapi harus! Gusti Allah itu Maha Memaafkan jadi kita sebagai umatnya harus bisa saling memaafkan." "Sabar benar-benar sabar, sampai kau tak bisa lagi merasakan rasa sabar itu seperti apa dan bagaimana. Ikhlas benar-benar ikhlas, sampai kau tak bisa lagi merasakan rasa ikhlas itu seperti apa dan bagaimana. Memaafkan, walaupun sulit itu harus bisa. Memang, perkara maaf memaafkan itu mudah, yang sulit itu melupakannya. Tapi, kau harus bisa mengubur dendam dan melupakan dendam. Kecewa boleh, namun tak seharusnya berlarut-larut." "Kau dan keluarga seharusnya bersyukur karena diberikan ujian yang seperti ini. Itu artinya Gusti Allah sangat sayang pada kalian. Dan ingin kalian lebih taat lagi pada-Nya, lebih cinta lagi pada-Nya." "Abah tidak tahu percis tujuan kakak iparmu seperti apa dan bagaimana. Tapi, percayalah, Nak, yang dimainkan itu bukan ilmu hitam. Tapi ilmu putih namun salah tempat dan niat, maka putih tersebut berubah seketika menjadi hitam pekat. Tapi sekali lagi, coba maafkan dia, Nak. InshaaAllah kalian bisa tenang." Kevin menganggukan kepalanya, abah memberikan satu botol air yang nantinya diberikan minum pada anggota keluarga, semuanya sampai ke Pak satpam juga. Pokoknya semua anggota keluarga tersebut tanpa terkecuali harus diberi minum, apabila air sudah berkurang bisa diisi ulang selama air tidak sampai habis, lalu diminta untuk menyiram ke seluruh sudut rumah. Kevin mengangguk paham dan pamit pulang bersama Mbok. Mbok berterimakasih sekali pada Abah karena beliau sudah mau membantu keluarga majikannya yang sudah dianggap keluarga sendiri. Mbok merasa sangat menyayangi keluarga Bastian karena jasa mereka sungguh sangat luar biasa. Mereka berlalu pergi pulang ke rumah kembali membawa banyak harapan luar biasa untuk keluarga Bastian. Kevin dan Mbok sangat berharap dengan bantuan melalui tangan Abah Zaylani bisa membuat keluarga Bastian membaik. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD