Ikrar Pemuda Senja

480 Words
" Ok.. nanti pulang sekolah, kita diskusikan bersama". Pinta Wawan kepada Senja. Ya, itu lah Wawan, pemuda ganteng putih bersih, wangi. Bikin semua Cewe-cewe disekolah ini pada klepek-klepek. Ya, pantesan seperti itu lah, orang si Wawan anak konglomerat tersehor di negeri ini. Tapi dia sederhana banget, dia mencoba menyelami temen-temenya yang kurang beruntung dari segi ekonomi. "Baik WAN!! Terus tempatnya dimana? Jawab aku sambil bertanya. " Gini aja wis, loe sebagai kepala suku g**g kita. Loe kasih pengumuman, habis sekolah langsung ke cafe ku. Yang persis di samping alun-alun. Sekarang aja, jangan kelamaan. Mumpung belum pada pulang". " Oke bos bro..laksanakan, tapi bentar oh. Biar ga ada yang liat aku nyalain HP. Tar kaya kemarin disita lagi ama pa Arif bisa berabe oh". Jawabku. " Hahahah dasar loe somplak Nja'. Pasti ada film-film itu yah. Bagi dong dikit. Wkakkaka" ujar Wawan meledek. " s****n loe, ya engga ada lah. Belum waktunya brayy. Bikin males liat kaya gitua.. ehh WAN.. WAN.. tu si Siska sama sapa tuh. Bening amat itu anak.," " Oh iya Nja, awas juga mata loe. Hahaha tar ah yuh kita masuk kelas lagi. Tuh bel jam pelajaran terkahir dah bunyi. Nda usah nyawangi cewe terus loe Nja." Jam pulang sekolah pun, tak berapa lama usai keluar gerbang sekolah. Wa group ramai riuh. Bahkan banyak anggota baru yang tau-tau nongol pingin pada ikut. Pokoknya ramai banget, mirip anak-anak mau unjuk rasa, ada yang boncengan pakai motor. Ada yang naik angkot. Ada yang pakai gojek dan yang make taksi online. Pokoke rame wis. Maklum anak sekolah. Kalau bab makan minum gratis di cafe paling demen hahaha. Acara pun dimulai semua semangat mendengarkan pemaparan ku. Sampai tibalah pada kesimpulan, " Pemuda saat ini, cenderung akan menjadi pasif. Karena serba mudah, jika teknologi dan informasi menjadi teman sehari-hari. " " Bisa bahaya ini, dan tidak bisa dicegah. Tinggal pada diri kita sendiri, untuk mengatasinya. Contoh, saat ngobrol, diskusi dan lainya, janganlah pada main hp, Paham kan," timpal Wawan sambil membawa gitar. Indra anak yang baru bergabung dari kelas dua pun menimpalinya. " Iya bener bro. Sebab dengan kemudahan teknologi dan informasi, pemuda cenderung akan malas untuk aktif berorganisasi, malas bersosialisasi dan malas berinteraksi. Secara langsung dengan masyarakat lingkungan sekitarnya. Sehingga terkadang menjadi tidak sensitif dan tidak peka terhadap perubahan di sekelilingnya. " " Pokoknya kita harus menjadi agen perubahan buka agen michat. Karena Tidak ada yang kuat, sekuat tenaga pemuda, dan tidak ada yang bisa berlari cepat secepat larinya pemuda, tidak ada yang bisa berpikir inovatif se inovatif pemuda. Karena itu manfaatkan masa muda kita ini, dengan sebaik-baiknya". Ajak Indra di iringi teriak siap. hahhaha persis mirip kampayane calon legislatif maupun penguasa lah. " Oke yah. Mari kita ikrarkan mulai hari ini, kita harus menjadi agen perubahan Indonesi. Seperti Pemuda jaman lalu saat berjuang melawan penjajah, dan menjadi pemuda masa kini serta masa depan". Ujar ku seraya menutup acara diskusi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD