"Kakak jangan cerita sama Papi soal tadi ya,"
"Gak, gue mau cerita!" Balas Nia masih terbawa emosi.
"Jangan, kak. Nanti masalahnya makin berat kalo Papi tau,"
"Aya, ngapain juga sih kamu masih bela dia? Ya Allah, kalo kakak jadi kamu udah kakak tendang keluar dia."
Aya diam sejenak seraya memperhatikan jalanan.
"Gak mungkin Aya tinggalin Rafa kak, mungkin sekarang ini Rafa lagi khilaf, mungkin."
"Ciih, khilaf apaan. Dari kejadian ini seharusnya kamu ngerti kalo Rafa sebenernya itu bukan laki-laki baik. Kamu udah pernah disakiti sama dia dan sekarang dia balik nyakitin kamu, itu udah jelas dia bukan laki-laki yang baik buat kamu."
"Bisa dibilang ini ujian untuk rumah tangga Aya, gak selamanya kan masalah kayak gini bakalan terus Aya hadapin, semuanya pasti berlalu, tapi gak tau kapan."
"Kalo kamu mau masalah ini cepet selesai cuma ada satu pilihan,"
Aya menoleh pada Nia yang sedang menyetir.
"Cerai."
Akibat masalah yang akhir-akhir ini melanda, Aya sulit untuk tidur dan sering sekali bangun di tengah malam. Dan untuk hal yang sama masih terjadi pada Aya, Aya bangun di pukul dua dini hari.
Ketika bangun Aya tidak melihat keberadaan Rafa di sebelahnya, walaupun mereka sedang saling diam untuk masalah tidur mereka masih berada di satu ranjang yang sama.
Aya menghela napas dan duduk di tempat tidur, Aya sudah tidak peduli dengan apa yang Rafa lakukan saat ini, kepalanya sudah cukup sakit untuk memikirkan masalah yang tak kunjung usai.
Aya keluar dari kamar untuk pergi ke dapur, Aya selalu pergi ke dapur ketika terbangun dari tidurnya sekedar untuk meminum air putih juga menenangkan diri.
Aya berdiri di tengah-tengah anak tangga saat mendengar suara Rafa juga Al, jadi kedua orang itu belum tidur dan sekarang tengah bersama?
Aya kembali melanjutkan langkahnya untuk terus menuruni tangga, tiba di anak tangga terakhir Aya bergeming melihat Rafa dan Al tengah duduk diruang tamu seraya menonton bola.
"Besok hali minggu, Papi jangan kelja ya, besok kita main baleng."
Rafa mengusap kepala Al seraya mengangguk.
Melihat itu hati Aya terasa menghangat dan langsung membuatnya berpikir apakah Rafa sudah kembali bersama mereka?
Semoga saja.
"Mami,"
Aya yang sempat melamun langsung tersadar ketika mendengar suara Al.
Al tersenyum lebar seraya berlari ke arah Aya.
"Mami gak bisa bobok juga ya? Sama dong kayak Al, ayo sini kita duduk baleng-baleng."
"Eh, tapi Mami mau bobok lagi, Mami masih ngantuk." Ucap Aya ketika Al menarik tangannya.
Al tidak peduli dengan ucapan ibunya dan menyuruh Aya untuk duduk di dekat Rafa lalu Al duduk di tengah-tengah.
Aya melirik Rafa yang sedang menatap lurus ke arah televisi, sedikit kecewa lantaran Rafa terlihat acuh.
Selama menonton televisi, tidak banyak ucapan yang keluar dari mulut Aya, Aya berbicara ketika Al bertanya padanya. Begitu juga dengan Rafa.
"Katanya gak kelja! Kok sekalang malah mau pelgi sih!" Al menghentakkan kaki nya seraya menatap kesal Rafa yang sedang berdiri di depan cermin.
Aya yang sudah bangun memilih untuk tetap berbaring seraya mendengarkan ucapan Al ataupun Rafa.
"Papi perginya bentar aja, nanti siang Papi udah pulang."
Al duduk di lantai dengan rambut yang acak-acakan dengan masih memakai singlet dan celana dalam, anak itu baru saja bangun tidur dan langsung mengomeli sang ayah yang sudah berbohong kepadanya.
Al menangis kecil karena ia rindu bermain bersama ayahnya.
"Nanti siang kita main,"
"Gak mau!" Seru Al seraya menggelengkan kepala.
"Nanti siang, Papi janji."
"Al bilang gak mau! Mau nya sekalang!"
"Ngerti gak sih dibilang nanti siang? Hah? Jangan jadi anak yang manja."
Aya meremas ujung bantalnya saat mendengar ucapan Rafa.
"Sekalang!"
"Nanti siang, nanti siang Papi pulang!"
"Kamu udah gagal jadi seorang suami, tapi jangan sampe gagal jadi seorang ayah." Aya mulai bersuara lantaran Rafa mulai berbicara dengan keras pada Al.
Rafa tidak sedikitpun menoleh pada Aya, matanya masih tertuju pada Al yang sedang menangis kecil.
"Aku udah cukup sabar, bahkan masih sabar. Aku masih tahan sama sikap kamu ini, masih banget. Tapi jangan sampe semua kesabaran aku hilang."
"Kamu boleh jauhin ataupun lupain aku, tapi tolong jangan kayak gitu sama Al, Al masih kecil belum ngerti apa-apa, belum ngerti gimana kelakuan Papi nya yang sekarang. Mungkin kalo dia ngerti bukan cuma Papi sama kak Nia doang yang benci sama kamu, tapi Al bisa ikutan benci juga sama kamu."
Aya menghela napas menahan diri untuk tidak menangis karena ia sendiri sudah lelah.
"Apa aku harus lakuin saran dari Kak Nia?" Aya diam sejenak sambil menatap Rafa yang terus-terusan menatap lurus ke arah depan.
"Cerai sama kamu." Lanjut Aya sukses membuat Rafa menoleh.