Tengah Dalam Bahaya

1383 Words
    Olevey berbalik dan mendorong Diederich menjauh darinya, lalu meraih selimut yang berada di dekatnya. Olevey menggunakan selimut itu untuk membalut tubuhnya yang memang hanya menggunakan pakaian dalam. Meskipun merasa sangat malu, karena Diederich melihatnya saat berada dalam kondisi yang tidak pantas, Olevey berusaha untuk mengendalikan perasaannya saat ini. Termasuk mencoba untuk mengendalikan rasa sakit yang menyerang bahu dan sekujur tubuhnya. Untuk saat ini, hal yang paling penting adalah mengusir Diederich dari kamar, sebelum ada hal yang tidak diinginkan terjadi.     “Dengan hormat, saya minta Yang Mulia untuk ke luar dari kamar saya!” seru Olevey.     “Kamar saya? Apa yang kau maksud? Tolong ingatlah, kamar ini juga berada di dalam kastil milikku. Jadi, secara otomatis, kamar ini adalah milikku juga,” ucap Diederich sembari bersandar di tiang ranjang Olevey.     Olevey mengedipkan matanya yang mulai mengabur. Rasa sakit yang ia rasakan semakin menjadi saja. Ia tidak yakin jika bisa bertahan lebih lama lagi untuk tidak merintih kesakitan. Olevey akhirnya sadar, mungkin inilah yang dimaksud oleh Diederich dengan membuat kesepakatan dengannya. Sepertinya, Diederich akan memanfaatkan rasa sakit yang ia rasakan ini sebagai tekanan agar kalah dalam kesepakatan yang sudah dibuat bersama. Sejak awal, Diederich memang sudah yakin jika Olevey tidak akan berhasil dan sengaja membuat kesepakatan ini. Menyadari hal itu, Olevey pun menggigit bibirnya dengan kuat. Merasa begitu marah karena lagi-lagi sudah dipermainkan oleh iblis ini.     “Jadi inilah yang membuatmu mengajukan kesepakatan denganku? Dasar licik!” seru Olevey.     Diederich menyeringai dan melipat kedua tangannya di depan d**a bidang yang siap untuk menjadi tempat bersandar wanita yang beruntung mendapatkan hatinya. “Ternyata, kau cukup cepat tanggap dengan apa yang sudah terjadi,” ucap Diederich sembari terkekeh pelan.     “Jadi, apa kita bisa melakukan penyatuan penyempurnaannya saat ini?” tanya Diederich.     Olevey mengepalkan tangannya karena emosi yang siap meledak saat ini juga. “Jangan bermimpi. Aku tidak akan kalah di sini. Aku akan membuktikan, jika aku bisa bertahan sampai akhir dan bisa kembali ke dunia di mana seharusnya aku berada,” ucap Olevey sembari menahan rasa sakit dan panas yang baru pertama kali ia rasakan.     “Masih berusaha untuk menolak kenyataan?” tanya Diederich dengan nada meremehkan.     “Bukan, aku bukannya menolak kenyataan. Karena pada nyatanya, tidak ada yang perlu aku tolak. Saat ini, aku sama sekali tidak ingin berdebat denganmu. Ke luar dari kamar ini, dan kita lihat saja, siapa yang akan menjadi pemenang akhirnya,” ucap Olevey dengan mengepalkan kedua tangannya hingga telapak tangannya terluka. Olevey tidak boleh kalah, dan ia akan kembali ke tempat seharusnya.     Diederich yang melihat kesungguhan dan kekeraskepalaan Olevey hanya bisa menyeringai. “Baiklah, kita lihat apa yang akan terjadi nantinya. Hanya saja, semua rakyatku sudah menantikan kehadiran seorang permaisuri dan ingin melihat penerus kerajaan. Jadi, jangan terlalu lama bermain dengan kekeraskepalaanmu itu, Eve.”       ***           Leopold memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak mempedulikan udara dinginnya malam yang terasa menusuk kulit dan menggigit tulang-tulangnya. Leopold hanya berpikir, jika dirinya perlu memacu kuda dengan kecepatan tertinggi dan menikmati udara malam yang mungkin saja bisa membawa semua luka serta kesedihan yang menghinggapi hatinya. Meskipun sudah mencari cara untuk membawa Olevey untuk kembali, Leopold tidak bisa mendapatkan cara yang ia inginkan. Semua usaha Leopold buntu. Dan ini sudah lebih dari tiga bulan, Olevey berada di dunia iblis. Entah seperti apa kabar Olevey saat ini.     Leopold menghentikan kudanya saat tanpa sadar, Leopold memacu kudanya menuju lembah Darc. Saat ini, Leopd berada di tengah hutan yang menghubungkan lembar Darc dan perkebunan paling tepi dari wilayah kerajaannya. Leopold menghela napas panjang. Rasa rindu yang ia rasakan terasa begitu menyiksa. “Apa yang harus aku lakukan, Vey? Apa kau baik-baik saja di sana?” tanya Leopold pada angin malam yang berembus dingin.     Rasanya, angin saja bisa merasakan betapa rindunya Leopold pada Olevey. Leopold mengingat hasil rapat terakhir yang diselenggarakan oleh Karl selaku seorang raja. Sayang seribu sayang, Leopold sama sekali tidak bisa menemukan titik terang dan pada akhirnya rapat terakhir itu ditutup begitu saja. Leopold juga tidak bisa mendapatkan apa pun dari Uskup Agung. Saat Leopold mendesak Uskup Agung melihat catatan suci tentang sejarah di masa lalu, ia juga tidak mendapatakan apa pun. Semuanya nihil.     Tidak ada satu pun catatan sejarah yang mengatakan bagaimana caranya untuk mengembalikan seseorang yang sudah berada di dunia iblis. Sejak awal, memang sudah ada tradisi di mana kaum manusia memberikan persembahan berupa harta dan gadis persembahan, tetapi tidak ada kasus di mana seseorang berusaha untuk membawa kembali gadis persembahan yang sudah dibawa oleh iblis. Leopold baru mengetahui fakta baru mengenai persembahan. Ternyata, di masa lalu, gadis persembahan bukan hanya ditugaskan untuk menjaga harta persembahan. Namun juga benar-benar untuk dibawa sebagai bagian dari persembahan.     Jika saja Leopold tahu fakta tersembunyi ini, Leopold akan menghalangi Olevey untuk mengikuti pemilihan gadis persembahan dengan cara apa pun. Meskipun setelah ribuan tahun, para gadis persembahan tidak pernah dibawa ke dunia iblis lagi, suatu fenomena aneh terjadi dengan Olevey yang ternyata dibawa ke dunia iblis tanpa ada kabar hingga saat ini. Leopold mengernyitkan keningnya. “Apa mungkin Ayahanda mengetahui perihal sejarah ini?” tanya Leopold.     Jika benar, maka rasanya Leopld benar-benar sudah dikhianati oleh sang ayah. Sepertinya, Leopold harus kembali menyelidiki apa yang terjadi. Ada hal yang mengganjal bagi Leopold, mengingat semua orang tampak begitu tenang bajkan seakan-akan melupakan keberadaan Olevey. Leopold juga merasa aneh melihat sikap Duke dan Duchess yang memilih untuk bungkam serta menutup diri dari dunia. Keduanya memilih untuk menepi dari semua pergaulan kelas atas, dan tidak bersuara sedikit pun untuk menuntut sang raja mengembalikan putri tercinta mereka. Leopold memikirkan kemungkinan jika keduanya juga mengetahui fakta tersembunyi dari gadis persembahan.     “Sebenarnya, ada berapa banyak hal yang tidak aku ketahui di sini?” tanya Leopold lagi pada dirinya sendiri. Tentu saja, Leopold tidak berharap mendapatkan sebuah jawaban dari siapa pun. Namun, tiba-tiba sebuah suara menyahut Leopold.     “Ada banyak hal yang tidak Anda ketahui, Yang Mulia Putra Mahkota.”     Bukan hanya Leopold yang terkejut dengan suara dan sosok perempuan berjubah yang muncul dari kegelapan itu, kuda yang ditunggangi oleh Leopold saja meringkik karena merasa terkejut. Untung saja, Leopold bisa menenangkan tunggangannya itu dengan cepat, hingga nyawanya tidak dalam bahaya. Leopold sama sekali tidak turun dari kudanya dan menatap sosok perempuan bungkuk yang masih menutupi wajahnya menggunakan tudung jubah lebar yang ia kenakan. “Siapa kau?” tanya Leopold dingin dan menguarkan aura seorang calon pemimpin yang jelas bisa membuat orang biasa tertekan.     “Saya adalah orang yang mengetahui semua yang ingin Anda ketahui,” jawab sosok perempuan bungkuk itu. Ia melepas jubahnya dan mengizinkan cahaya bulan menerangi wajahnya yang sudah keriput.     Tentu saja, Leopold sama sekali tidak mengenali sosok perempuan ini. Namun, hal yang paling menyita perhatiannya adalah perkataan yang sudah dikatakan oleh perempuan itu. “Apa maksudmu? Apa kau sudah menguping apa yang aku katakan?” tanya Leopold.     Perempuan tua itu mendongak untuk menatap Leopold. “Saya tidak menguping, tetapi Yang Mulia sendiri yang meminta saya datang untuk menjawab semua kegelisahan Anda,” jawab perempuan itu lagi.     Kening Leopold mengernyit dalam. “Jangan mengada-ada! Aku sama sekali tidak meminta siapa pun untuk datang, apalagi meminta seseorang yang tidak aku kenali sepertimu.”     Perempuan tua itu tersenyum dan berkata, “Yang Mulia memang tidak memanggil saya secara spesifik. Namun, hati Anda mengharapkan seseorang untuk menjawab semua pertanyaan yang Anda miliki. Selain itu, Anda juga mengharapkan seseorang memberikan solusi atas masalah Anda, bukan?”     Leopold terlihat skeptis atas apa yang sudah dikatakan oleh perempuan tua itu. Ia lalu berkata, “Jika benar kau memiliki semua itu, sekarang coba sebutkan apa yang saat ini tengah aku pikirkan. Jika meleset, maka mungkin saja lehermu yang akan dipertaruhkan saat ini.”     Apa yang dikatakan oleh Leopold ternyata membuat perempuan bungkuk itu tertawa geli. Seakan-akan apa yang dikatakan oleh Leopold adalah hal yang menggelikan dan perlu untuk ditertawakan olehnya. Leopold mengernyitkan keningnya, tentu saja tidak senang dengan sikap perempuan tua di hadapannya ini. Leopold sudah terbiasa mendapatkan perlakuan penuh hormat sejak kecil, jadi saat dirinya ditertawakan seperti ini, tentu saja Leopold merasa agak jengkel. “Apa yang kau tertawakan?” tanya Leopold.     “Ah, maafkan saya, Yang Mulia. Saya akan menyebtkan apa yang Anda pikirkan, bahkan memberikan solusi atas masalah Anda. Namun, jika saya berhasil, imbalan seperti apa yang akan saya dapatkan?” tanyanya dengan wajah penuh rasa percaya diri.     “Itu akan menjadi negosiasi saat aku sudah mendengar apa yang kau ketahui mengenai hal yang saat ini tengah kupikirkan,” ucap Leopold bertindak hati-hati. Ia tidak mungkin menjanjikan sesuatu dengan sesumbar, apalagi ia sama sekali tidak mengenal sosok yang berada di hadapannya ini.     Perempuan itu menyeringai dan berkata, “Baiklah, kalau begitu saya akan mengatakan apa yang saat ini tengah Anda pikirkan, Yang Mulia. Anda, saat ini tengah memikirkan cara untuk membawa kekasih Anda pulang ke dunia manusia. Yakinlah, Yang Mulia harus segera bertindak, karena saat ini gadis yang Anda cintai tengah berada dalam bahaya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD