Baru semalam Arten meninggalkan Aluna, tetapi rasa rindu sudah mulai merasuki lubuk hatinya. Sambil menyesap rokok Arten melihat ke arah langit yang dihiasi indahnya rembulan. "Sial sekali, gara - gara gadis lemah itu aku menjadi seperti ini. Benar - benar sial, aku harus segera menghancurkan bayangan Aluna agar aku tidak menjadi lelaki melankolis, " gumam Arten. Batang rokok yang masih tersisa separuh itu kemudian di buang jauh, sama halnya dia membuang semua tentang Aluna yang terus mengelilinginya bagaikan asap rokok yang mengepul. "Pain, malam ini ada tugas apa? " tanya Arten tegas. "Semua sudah diselesaikan. Bos tinggal istirahat saja, " jawab Pain. Bukannya senang Arten malah marah sebab dia tidak ingin berdiam diri dan merasa gelisah hanya karena Aluna. "Pain, suruh sem

