Aluna akhir - akhir ini tidak bisa tidur nyenyak, dia sangat merindukan Januar sampai menikam jiwa. Nafasnya begitu sesak padahal dia tidak memiliki penyakit asma. Karena iseng membuka laci, di sana Aluna menemukan sebuah buku kosong dan juga pensil. Tanpa sadar dia menarikan jemarinya sampai menjelang pagi menjadi sebuah maha karya. Aluna menangis melihat hasil lukisannya, wajah suaminya yang tersenyum manis ketika mengucapkan janji suci. Biarpun hanya di kertas biasa dan dengan pensil semata tetapi lukisan Aluna sangat indah seperti hidup. "Januar, apakah kamu masih hidup? Jika masih apakah kamu juga teringat aku? Januar, suamiku… bisakah kamu mendengar panggilan hatiku? Aku benar - benar ingin bertemu denganmu, " gumam Aluna. Aluna merintih menangis, air matanya sampai terjatuh

