Luka Tembak

1582 Words
Bima dan Arial merasa lega ketika James dan Yahmar datang untuk membantu mereka menangani satu orang ini, lawan mereka kali ini memiliki teknik menembak yang luar biasa. Ia dapat melawan Bima dan Arial dalam satu waktu yang bersamaan, bahkan membuat mereka kewalahan. “Bagaimana keadaannya, Samuel?” Arial yang berada di posisi tidak jauh dari Matt dan Samuel pun memastikan kondisi sang Leader yang tertembak di bagian pundak kirinya. “Dia kekurangan banyak darah! Aku tidak bisa menanganinya disini!” Samuel berteriak, dan teriakan tersebut dapat di dengar oleh keempatnya. “Cih!” Bima mendecih dan membidik orang tersebut, namun lagi-lagi tembakkannya tidak berhasil. “Ksskkk… Sepertinya dia menggunakan alat untuk mendeteksi peluru dan menghitung kecepatannya sehingga dapat menghindar dengan mudah!” Mereka dapat mendengar Gantara yang mencoba menjelaskan apa yang terjadi sehingga tembakan-tembakan mereka tidak mengenai lawan. “Kalau begitu lakukan sesuatu!” James berteriak dan kembali melepaskan tembakannya secara berulang-ulang, yang di bantu oleh Yahmar dan Arial, sementara Bima berlari untuk mengambil sebuah granat yang ada di dalam tasnya yang tergeletak di depannya.  “Yahmar gunakan Shoot Minim Boom!” Arial berteriak pada Yahmar, dan lelaki itu segera mengubah mode peluru miliknya. Tetapi saat ia mulai membidik, sebuah tembakan melesat mengenai tangannya sehingga ia kembali bersembunyi kebalik tembok dengan tangan yang terluka. “Damn it!” Arial berteriak dan kembali membidik orang tersebut, di saat yang bersamaan Bima mengeluarkan granat miliknya dan melemparkan itu pada orang tersebut. “Berlindung!” Bima berteriak, memberikan sebuah peringatan pada Arial karena posisi orang itu ada di dekat Arial, Samuel dan Matt. Arial yang tahu efek dari ledakan granat tersebut cukup besar pun segera berlari untuk memasang tubuhnya, melindungi Samuel dan Matt yang terbaring. Bum! Memang ledakkan itu tidak terlalu besar, hanya saja gelombang kejut dan suaranya yang keras membuat beberapa mobil disana bersuara kencang dan bahkan ada yang tergeser dari tempatnya.  Arial terjatuh setelah tubuhnya menghalau gelombang kejut yang akan mengenai Samuel dan Matt. Bima segera berlari dari tempatnya untuk menangkap lawan yang sudah berhasil ia lumpuhkan hingga tak sadarkan diri. Sementara James berlari untuk menghampiri Yahmar yang tertembak di bagian lengan kanannya. “Like what I say! Seharusnya kau tidak ikut turun tangan!” James memaki Yahmar yang duduk mencengkram bagian yang tertembak. Darah yang mengalir cukup banyak itu membuat James mendesis dan mengikatnya dengan perban yang ada di dalam kotak kesehatan yang mereka bawa. James mengeluarkan sebuah anastesi dan peralatan bedah kecil yang disediakan oleh Samuel. “Kita memerlukan kendaraan!” Samuel berteriak kencang saat dirinya menangani Matt dan Arial sekaligus. James melirik ke arah sana untuk melihat betapa kewalahannya Matt, kemudian ia kembali untuk membedah Yahmar. Mengeluarkan peluru terlebih dahulu dari tubuh sang Presiden. “Ksskkk… Aku dan Luis dalam perjalanan! Aku sudah menghubungi kantor kepresidenan agar mereka ikut turun tangan!” Itulah yang Gantara ucapkan pada mereka. Bima yang sudah memastikan lawan mereka tersebut terikat dan menjauhkan senjata-senjata darinya itu kini berlari untuk membantu Samuel. “Bagaimana dengan Rio? Aku tidak melihatnya sedari tadi.” Yahmar bertanya pada James saat lelaki itu sedang mengoperasi lengan kanannya, dan berusaha mengeluarkan peluru itu. James tidak menjawab pertanyaannya dan hanya fokus melakukan tugasnya mengeluarkan peluru dan menyelamatkan Yahmar. James tahu bahwa Yahmar berbicara hanya untuk mengalihkan fokus dirinya terhadap sakit yang ia rasakan, meskipun James telah menyuntikan anastesi sebelumnya. Sebuah mobil hitam dan sebuah mobil ambulance yang melaju dengan kencang itu berhenti di tengah-tenga mereka semua, Luis dan Gantara turun bersama beberapa pihak keamanan kepresidenan yang sebelumnya sudah bersama mereka. Luis segera berlari untuk membantu Bima menangani Arial, dan Gantara menghampiri James yang berhasil mengeluarkan peluru itu dengan perlahan. “Peluru tidak beracun, tetapi pastikan bahwa tidak akan terjadi infeksi padanya!” James berucap pada Gantara, lelaki itu mengangguk dan mengangkat Yahmar untuk memasukannya kedalam mobil ambulance. “Bagaimana dengan Matt dan Arial?” Gantara bertanya pada James ketika James menyuruh mobil itu segera membawa Yahmar menuju rumah sakit terdekat. “Kami akan menggunakan mobil satunya, cepatlah! Pastikan Yahmar selamat terlebih dahulu! Aku titipkan dia padamu, Gantara.” Gantara mengangguk dan James pun menutup pintu mobil ambulance itu, yang kemudian mengaktifkan carflying mode nya untuk mengantar Yahmar. James tidak menunggu lama untuk berbalik dan menghampiri beberapa temannya yang lain, ia melihat kondisi Arial yang terluka akibat gelombang kejut dan Matt yang tidak sadarkan diri dengan selang oksigen yang menempel pada pernafasannya. “Bagaimana kondisi Arial?” Tanya James pada Samuel yang masih menangani lelaki yang tak sadarkan diri beberapa saat yang lalu itu. “Berhentilah bertanya padaku! Dan cepat bawa Matt kerumah sakit terdekat, Arial dapat menunggu untuk mobil yang berikutnya.” Samuel dengan galaknya menjawab pertanyaan James seraya menangani Arial. Bima mendongak untuk menatap pada James, kemudian ia mengangguk kecil, memberikan isyarat pada James untuk segera melakukan perintah yang Samuel katakan. James mengikuti perintah tersebut, ia dan Luis mengangkat tubuh Matt untuk masuk kedalam mobil yang ada disana. Meninggalkan Bima dan Samuel, juga beberapa pelindung Presiden disana, James tanpa berpikir panjang segera menjalankan mobil tersebut ke rumah sakit terdekat.   Ambulance yang membawa Yahmar telah sampai di rumah sakit yang dituju, saat Gantara membawa Yahmar keluar dari dalam mobil untuk masuk ke dalam rumah sakit, disana sudah berdiri puluhan wartawan yang menunggu dan memotret mereka. Tetapi pihak keamanan kepresidenan dan pihak rumah sakit sudah bekerjasama agar tidak menghalangi jalan dari pasien. “Bagaimana?” Tanya seorang doker pada Gantara, Gantara yang mendapatkan pertanyaan itu pun segera menjelaskan kondisi Yahmar pada dokter tersebut. “Presiden membutuhkan jahitan di lengan kanan, dan pencegahan infeksi, selebih dari itu tidak ada yang harus di lakukan.” Dokter tersebut mengangguk dan menyuruh tim nya untuk membawa Yahmar masuk kedalam ruang operasi. Sementara Gantara terdiam di luar, memastikan bahwa semuanya aman dan tidak ada musuh yang mencoba menyerang Yahmar kembali. Gantara melirik ke arah kanan dimana para wartawan sibuk menyiarkan berita dan ada beberapa dari mereka yang masih mengambil gambar meski Yahmar sudah masuk kedalam ruang tindakkan. Gantara berdiri dari tempatnya untuk mendekati wartawan-wartawan tersebut, hal itu tentu membuat ruangan kembali riuh dengan hujaman pertanyaan yang mereka ajukan. Menanyakan bagaimana keadaan Yahmar sang presiden baru, dan hal lainnya yang tidak terlalu terdengar oleh Gantara. “Bagaimana keadaan Presiden Yahmar?” “Kelompok mana yang menyerangnya?” “Apa motif dari pelaku?” “Apakah We are Earth turun tangan dengan hal ini?” Itulah pertanyaan-pertanyaan yang dapat Gantara dengar. Lelaki itu menghela nafasnya dengan pelan sebelum menjawab, “Saya hanya meminta do’a dari kalian semua untuk keselamatan Presiden, mengenai siapa yang melakukan penyerangan ini dan apa motif dibaliknya, masih kami selidiki. Tentu saja kami, pihak We Are Earth akan ikut andil dalam mencaritahu semua itu.” Itulah jawaban yang diberikan Gantara kepada para wartawan. “Berapa banyak pelaku yang terlihat dalam penyerangan tadi?” Salah satu wartawan kembali mengajukan pertanyaan pada Gantara, namun lelaki itu memilih untuk tidak menjawabnya dan membungkukkan dirinya pada seluruh pihak wartawan sebelum akhirnya ia kembali berjalan menuju pintu ruang tindakkan. “Apakah ini ada hubungannya dengan perusahaan yang menolak penjabatan Presiden Yahmar?” Langkah kaki Gantara berhenti ketika ia mendengar pertanyaan tersebut, ia ingin sekali menjawabnya dan membenarkan hal itu jika saja dokter yang menangani Yahmar tidak keluar dari ruang tindakkan. “Bagaimana dokter?” Gantara bertanya, sang Dokter mengangguk pelan padanya sebelum kemudiaan mempersilahkan dirinya masuk ke dalam ruangan itu mengikuti langkah sang Dokter. “Tuan Presiden memanggil anda untuk masuk kedalam. Tindakkan yang kami lakukan telah selesai, dan tuan Presiden di anjurkan untuk beristirahat.” Saat langkah kaki mereka menuju tempat di mana Yahmar terbaring, Dokter itu menjelaskan semuanya pada Gantara sehingga lelaki itu hanya mengangguk mengiyakan anjuran tersebut. “Kami permisi!” Ucapnya dan tim dokter yang menangani Yahmar, mereka semua keluar dari ruangan itu untuk memberikan ruang kepada sang Presiden dan Gantara. Gantara melirik pada Yahmar setelah memastikan bahwa dokter-dokter itu keluar dari ruang tersebut. “Bagaimana?” Yahmar lebih dulu mengucapkan pertanyaannya bahkan sebelum Gantara membuka mulutnya. “Pelaku berhasil di tangkap, Matt sedang dalam tindakkan rumah sakit.” Jawab Gantara, menjelaskan semua kondisi yang mereka alami saat ini. Yahmar mengangguk dan menghela nafasnya dengan kencang, setelahnya ia melemparkan selimut yang menyelimuti bagian kakinya dan turun dari ranjang rawat. Gantara terkejut ketika Yahmar tiba-tiba turun untuk berdiri dan berjalan keluar. Gantara segera mencegahnya dan menghalangi pintu keluar ketika Yahmar hendak membukanya. “Apa kau gila, Yahmar? Ingatlah bahwa saat ini kau adalah seorang presiden.” Ucap Gantara. Yahmar mengerenyitkan dahinya ketika mendengar ucapan tersebut. “Lalu mengapa jika aku seorang Presiden? Aku tidak perlu berakting bahwa diriku sedang terluka parah dan terlihat lemah di hadapan semua orang bukan? Aku adalah Yahmar, dan kau tahu aku sudah terbiasa denga luka tembah sekecil ini, Gantara!” Gantara terdiam ketika Yahmar menegurnya, memang mungkin ia terlalu berlebihan dalam menilai jabatan seorang presiden. Tetapi ia tahu bahwa anastesi masih ada di dalam tubuh Yahmar, yang mungkin saja akan membuatnya kehilangan kesadaran. “Aku tahu, Yahmar. Tetapi anastesi itu masih ada di dalam tubuhmu, dan aku tidak menginginkan kau jatuh pingsan di hadapan para wartawan didepan sana. Yang hanya akan membuatmu semakin terlihat lemah.” Gantara menjelaskan alasannya mencegah Yahmar keluar dari ruang tindakkan, ia tidak sedikitpun terpancing emosi dengan ucapan yang Yahmar ucapkan sebelumnya. Karena Gantara bukanlah tipe orang yang seperti itu. Belum sempat membalas ucapan Gantara, Yahmar sudah dapat merasakan efek anastesi itu yang kembali bekerja di tubuhnya. Ia seperti kehilangan tenaga dan terhuyung kesamping. Untunglah Gantara dengan cepat membantunya dan membawanya kembali keatas ranjang rawat, setelah itu Yahmar merasa semuanya mulai menjadi gelap.  To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD