“Lao Gong,” ucap Miura perlahan, memutar sendok di dalam gelas teh manisnya, “Apa kamu masih menulis?” Yulianto mengangkat bahu. “Kadang. Kalau malam-malam terlalu senyap. Tapi aku lebih sering berhenti di tengah paragraf. Aku merasa... bukan orang yang layak menuliskan kebahagiaan.” Miura tertawa pelan, getir. “Kamu tahu, kamu terdengar seperti tokoh utama di film Prancis—yang hidupnya sengsara tapi tetap tampan.” “Aku nggak seganteng itu,” gumam Yulianto, mengunyah roti lapisnya dengan lamban. “Tapi kamu tetap bisa membuatku diam saat semua orang lain membuatku ingin kabur,” ucap Miura. Suaranya mengecil, seakan kalimat itu tak sengaja lolos dari jiwanya. Yulianto menunduk. Tangannya meremas tisu di pangkuannya. “Aku... sempat takut kamu benci aku.” Miura menggeleng. “Aku benci car

