Malam mulai turun pelan-pelan, seperti selimut yang lembut menutupi lelah. Lampu-lampu jalan mulai menyala, menciptakan bayangan kuning redup di aspal yang lembab oleh embun dini. Warung kopi makin sepi. Satu demi satu pelanggan pulang, menyisakan meja pojok yang justru makin ramai oleh canda, tawa, dan riuh nostalgia. Meja itu seolah punya dunia sendiri.
Gelas-gelas kopi tinggal ampas. Tahu goreng hanya menyisakan remah di piring anyaman bambu. Tapi percakapan di sana masih membara, seperti api kecil yang enggan padam.
Malda menyender pelan di bangku kayu yang agak reot. Sandaran bangku itu tak nyaman, tapi hangat yang ia rasakan tak bisa digantikan bantal hotel sekalipun. Ia menatap ke arah meja, lalu ke arah Yulianto yang sedang sibuk menjelaskan dengan semangat teknik netting bulutangkis, lengkap dengan gerakan tangan seperti seorang komentator.
Yulianto (mengibas tangan seperti pakar) : "Jadi netting tuh kayak ngasih hati. Harus lembut, tepat waktu, tapi jangan sampai lawan bisa smash balik!"
Agung (celetuk cepat) : "Nah, itu dia... kamu sih udah netting ke Malda, tapi hati-hati—jangan sampai dia smash balik ke ATM kamu!"
Pakdhe Yanto langsung menepuk meja, tawanya meledak : "HAHAHA! Hati-hati, Yul! Cinta beda generasi itu biayanya generasi digital! Harus top up tiap minggu!"
Malda menutup muka dengan tangan, geli sekaligus pasrah.
Malda (dari balik tangan) : "Pak Agung, Pakdhe... ini saya udah mulai khawatir nih. Jangan-jangan pertemuan selanjutnya udah kayak arisan keluarga!"
Aman menanggapi cepat : "Lho... arisan keluarga itu artinya udah sah diterima! Kamu tuh sekarang calon menantu spiritual!"
Wahidin (berusaha menenangkan, tapi tetap menggoda) : "Tenang, tenang. Kami nggak akan buru-buru maksa Yulianto ngelamar kamu... Tapi kalau dia kelamaan, kami bisa booking tukang rias buat simulasi!"
Tawa meledak lagi. Bahkan ibu warung, yang sedang menyapu, tertawa sambil geleng-geleng kepala.
Yulianto mengusap peluh di pelipisnya, lalu menoleh ke Malda sambil tersenyum kecil : "Mereka itu... luar biasa. Kadang bikin saya pengen pensiun dari tongkrongan, tapi kalau nggak ada mereka, saya kayak shuttlecock kempes—nggak terpakai."
Malda (tersenyum lebar, jujur) : "Nggak cuma Bapak. Saya juga kayak dapet oksigen baru. Rasanya... udah lama banget nggak ketawa dari hati kayak gini."
Matanya memandang jauh ke arah jalan yang mulai sepi. Sorotnya tak muram, tapi menyimpan damai yang baru saja ditemukannya kembali.
Malda : "Hari-hari saya sebelum ini, tiap hari kerja numpuk dokumen ekspor-impor, sambil ngecek kasus tabrak lari Papa yang nggak jelas ujungnya. Pulang capek, tidur susah. Rasanya... hidup itu kayak lomba lari tapi lawannya kabut. Kita lari, tapi nggak tahu ke mana."
Yulianto menatapnya lama. Tangannya menyentuh cangkir kopi yang kini tinggal setengah.
Yulianto : "Kadang... kita nggak perlu lari terus. Kadang duduk, ngopi, dan ketawa bareng orang-orang tua nyebelin kayak kami... itu justru bikin kita kuat jalan lagi."
Pakdhe Yanto (ikut menyahut dengan suara agak parau) : "Lho, itu quotes bagus. Tulis di kaos, yuk! 'Berhenti lari, mulailah ngopi!'"
Aman tiba-tiba mengangkat tangan seperti deklarasi : "Saya usul bikin komunitas baru: 'Pelari Pensiun Tapi Hati Aktif!' Anggotanya: Malda dan Yulianto!"
Agung menyambung cepat : "Dan kita pengurus kehormatannya, spesialis pengganggu romansa!"
Tawa kembali meledak. Malda menertawakan mereka semua, tapi kali ini tawanya datang dari tempat yang lebih dalam. Tawa yang melepaskan. Tawa yang menyembuhkan.
Ia melirik Yulianto, yang sedang disoraki karena baru saja tersedak gorengan. Tapi sorak-sorai itu bukan ejekan, melainkan kasih. Dan entah kenapa, di antara semua orang yang ia temui dalam hidup... justru pria berkumis tipis, rambut setengah abu, dan tawa receh itu... membuat hatinya paling tenang.
Beberapa menit kemudian, hujan tipis turun. Angin malam membawa aroma tanah yang basah dan kenangan masa kecil yang jauh. Mereka semua pindah duduk lebih ke dalam warung, bersisian lebih rapat. Ibu warung menyodorkan termos refill kopi dan beberapa gorengan baru—gratis, katanya, "buat juara dan calon istrinya."
Yulianto memandang hujan sejenak.
"Kalian percaya nggak? Hujan tuh kayak perasaan. Turunnya nggak bisa diprediksi, tapi kalau datang, dia bersihin banyak hal."
Malda mengangguk pelan : "Saya percaya, Pak. Saya juga lagi hujan. Tapi bukan air. Ini hujan syukur. Bisa ketemu kalian semua, bisa ketemu... Bapak."
Wahidin pura-pura tersedak : "Duh... ini kalau kita bukan laki-laki tangguh, kita udah nangis bareng di bawah tirai warung ini!"
Yulianto menyentuh lengan Malda pelan, seperti tak sengaja, tapi cukup untuk menghantarkan kehangatan.
"Kamu tahu, Malda... sebelum kamu datang, hidup saya itu kayak... kamar yang lampunya nyala tapi nggak ada isi. Sekarang... meski lampunya kadang redup, tapi ada bayangan seseorang di dalamnya. Dan itu cukup bikin saya bertahan."
Malda menatapnya lama. Lama sekali. Lalu tersenyum—bukan senyum basa-basi, tapi senyum yang menyimpan banyak pengakuan.
"Kalau gitu, Pak... beranikah berjanji untuk terus mengisi kamar itu? Jagain terus lampunya. Sambil menjaga konsistensi Bapak. Jangan berhenti bicara cinta ke kehidupan. Karena cinta itu... nggak pernah habis. Nggak harus milik dua insan. Cinta itu universal. Dan saya ingin... ikut jadi bagian kecil dari cinta yang Bapak sampaikan ke dunia."
Yulianto tak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap cangkir yang mulai mendingin. Tapi senyumnya tak pudar. Senyum seorang pria yang tahu: hatinya kini punya tujuan lagi.
Hujan telah reda. Angin masih dingin, tapi suasana sudah lebih hangat dari sebelumnya. Di pojok warung, hanya tersisa dua orang yang belum pulang—Malda dan Yulianto. Teman-teman yang lain sudah pamit pulang, dengan tawa dan sapa yang menggantung di udara malam.
Kini hanya suara rintik dari sisa hujan di talang seng yang menemani mereka.
Yulianto duduk lebih dekat. Tak menyentuh, tapi cukup untuk dirasa.
"Malda," katanya pelan, "Aku... baru sadar. Sudah lama aku nggak ngobrol begini. Lama sekali. Ada orang yang duduk di sampingku, mendengar dengan mata yang benar-benar melihat."
Malda tersenyum tipis, mengangguk tanpa menatap langsung.
"Saya juga, Pak. Terakhir kali saya merasa begini... mungkin waktu SMA. Waktu semuanya belum serumit sekarang. Dulu saya berlari karena senang. Sekarang saya berlari karena takut dikejar waktu. Tapi sama Bapak... saya merasa bisa berhenti. Nggak lari. Cuma duduk, dan hidup."
Diam sesaat.
Yulianto memecah hening : "Saya nggak tahu apakah ini cinta. Mungkin belum. Tapi saya tahu satu hal: saya nunggu chat kamu tiap malam. Saya senyum sendiri baca komentar kamu soal film, atau nasi goreng pedas. Dan hari ini... waktu kamu datang bawa karton itu... saya rasa, saya belum tua sepenuhnya."
Malda menunduk. Jemarinya meremas ujung jaket.
"Kalau saya bilang... saya juga nunggu notif w******p Bapak tiap malam, itu... aneh nggak?"
"Nggak," jawab Yulianto. "Itu... mungkin jawaban dari doa saya yang paling diam."
Mereka tertawa, tapi bukan tertawa keras seperti tadi. Tertawa yang datang dari lega.
Lalu Malda berkata pelan, setengah berbisik : "Bapak tahu? Hati saya... udah lama banget nggak merasa dicari."
Yulianto menatapnya, dalam dan tenang : "Kalau kamu izinkan... saya mau jadi orang yang nggak nyari kamu, tapi nungguin kamu. Di garis akhir, atau di kursi warung, nggak masalah. Asal kamu tahu, saya ada."
Tak ada yang bicara lagi. Tak perlu.
Karena malam itu, benih cinta tak tumbuh dengan gegap gempita. Tapi ia tumbuh... dalam senyap yang lembut. Dalam keheningan dua jiwa yang saling melihat, akhirnya.
Dan dalam kesunyian itulah, mereka akhirnya tahu: kadang cinta datang bukan dengan janji. Tapi dengan kehadiran yang tak terganti.
Dan di luar warung itu, hujan terus turun. Tapi tak ada yang merasa kedinginan.
Karena malam itu, tawa, cinta, dan persahabatan... menjadi selimut paling hangat di dunia.