Gadis bangun lebih dulu dari Abra. Ketika ia melihat Abra yang masih tertidur di sampingnya, ia mengulas senyum tak percaya, seolah-olah ia benar-benar telah masuk ke dalam kehidupan Abra saat ini. Ia bergerak menghadap ke arah Abra yang masih tertidur di sampingnya. Diperhatikannya baik-baik wajah Abra dengan seksama, matanya, hidungnya, rambutnya, alisnya, bibirnya dan bulu-bulu halus di wajahnya. Gadis lalu mengingat kejadian kemarin bagaimana ia dan Abra menuntaskan hasrat masing-masing dengan sangat puas. Tak pernah sekalipun Gadis berpikir bahwa ia benar-benar akan terjatuh dalam pelukan seorang Abraham John Frederick. Gadis kemudian bergerak dan menatap langit-langit kamar rahasia yang ada di ruang kerja Abra. Ia mulai memikirkan nasibnya dan nasib Abra kedepannya dan kontrak pern

