Liliana diam, ia tak tahu harus bicara apa sekarang. Sorot mata Abra terlihat sangat marah. Rahangnya mengeras dan napasnya terasa panas. Seluruh tubuh Abra kaku dan matanya siap menerkam. "Abra ... Mama pikir ..." Liliana bingung harus bicara apa ke Abra. Kebusukannya terbongkar. Kesal dengan sikap sang Mama yang sekenanya itu tapi tak bisa memukulnya, Abra meninjukan tangannya dengan sekuat tenaga ke dinding di belakang Liliana hingga dinding itu retak dan rontok. Tangan Abra pun berdarah. Maudy dan Liliana kaget dan ketakutan bukan main. Mereka tak pernah melihat Abra yang marah sampai seperti itu. Sungguh. "Jangan dekati keluargaku! Anda tahu maksud keluarga yang aku sebut, kan? Iya, yang hanya ada dalam kartu keluarga. Jika anda melewati batas lagi, saya pastikan anda sepert

