Chapter 125

2068 Words

Gadis mengajak Andien untuk keluar dari cafe dan ke taman favorit mereka yang sepi dari siapapun. Gadis menyebutnya sebagai taman tersembunyi karena sepi dari manapun, dari siapapun. Di taman yang menghadap ke arah kumpulan pelbagai bunga mawar di hadapan mereka itu, Andien mulai bercerita kepada Gadis tentang masalah rumah tangganya. "Dia di PHK, Dis. Dan dia anggap gue sebagai bentuk kesialannya. Bukan, bukan gue, tapi anak kita. Kehamilanku yang tak diinginkannya itu menurutnya adalah kesialan." kata Andien seraya menatap lurus ke depan. Matanya menerawang sangat jauh, seolah-olah sedang mengintat-ingat semua hal tentang pernikahannya. "Lo tahu dan kenal Ibra, kan? Doi baik banget. Apa sih yang gak doi lakuin ke gue? Gak ada. Setiap apapun yang gue mau, dia selalu ngasih. Dan g

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD