"Kau tidak apa-apa, sayang?" tanya Abra pada Gadis saat mereka sudah berada di dalam mobil. Jujur aroma kopi pengharum mobil lebih menenangkan untuknya dari pada aroma jamu yang hendak Liliana berikan tadi. Abra benar-benar tak habis pikir dengan Mamanya. Bagaimana bisa Mamanya memaksa Gadis meminum jamu itu? "Maafkan aku, sayang, karena kau harus menerima penghinaan seperti ini." kata Abra sungguh-sungguh. Kepala Gadis yang masih pusing terpaksa menoleh ke arah Abra, ia tak tega karena Abra terus saja merasa bersalah dengan kejadian menyeramkan yang dialaminya barusan. "Yang terpenting adalah aku baik-baik saja, sayang..." kata Gadis pada Abra dengan berusaha tetap tersenyum. Kemudian Gadis meletakkan kepalanya di bahu Abra, lalu mulai merasa bahwa Abra juga melingkarkan lenganny

