Chapter 1

1323 Words
"Hei! lo! Berhenti! " teriak salah seorang lelaki bertubuh besar dan kuat kepada Gadis, perempuan yang bersembunyi di balik pintu belakang sebuah pusat pembelanjaan. Mata Gadis melotot lebar kala melihat lelaki yang meneriakinya kini kembali melangkahkan kakinya lebar-lebar ke arahnya, bersama empat rekannya yang lain. "Ah, sial! " gerutu Gadis. Dengan menggigit bibir bawahnya ia kembali berlari lebih kencang. Saat sampai di anak tangga, ia sedikit menggerutu, bukan karena banyaknya orang yang lalu lalang di tangga itu karena lift sebelah lagi mesin mati, bukan. Melainkan gaun pernikahan yang ia kenakan saat di toko khusus gaun pernikahannya alasannya saat ini. Gaun putih yang membalut tubuh indahnya itu tak hanya membuat para pengunjung mal itu menatapnya kaget, heran dan kagum tapi juga bertanya-tanya. Rata-rata mereka beranggapan bahwa Gadis adalah calon pengantin perempuan yang tengah kabur dari acara pernikahannya. Entah sudah berapa puluh kali Gadis mengatakan kata permisi kepada pengunjung lain mal itu saat akan menapaki tangga dan menyerobot mereka. Gadis sudah sangat kwalahan dengan panjang dan ribetnya gaun pernikahan itu di tubuhnya. Belum lagi ia panik, tak hanya para debt collector itu yang kini mengejarnya karena hutang tapi juga pegawai toko gaun pernikahan itu yang juga mengejarnya karena mengira ia mencurinya. Gadis kesal dan lelah. Lelah karena terus berlari dan kesal karena ia sudah berteriak bahwa ia akan mengembalikan gaun pernikahan yang terpaksa ia pakai demi menyamar dari para debt collerctor namun akhirnya penyamarannya ternyata sia-sia belaka. "Kenapa harus gaun pengantin sialan ini sih yang gue pake?" gerutu Gadis kesal pada dirinya sendiri. Teriakan para debt collector yang semakin dekat dengannya membuatnya kacau sekali, ia bingung dan kesal sekaligus. Ia sudah muter-muter mal sebanyak tiga kali hari ini dan itu membuatnya sangat lelah. Ketika ponselnya berbunyi terus menerus, ia hanya menggerutu gemas karena tak bisa mengangkatnya kini dan itu semakin membuatnya sangat frustrasi dan kesal lagi. Gadis berhenti di balik dinding yang menyembunyikan tubuh kurus tingginya dari para debt collecetor yang celingukan mencarinya dengan wajah penuh amarah dan kesal sekaligus. Gadis merogoh ponselnya sebelum kembali berbunyi nyaring dan membuat keberadaannya terbongkar oleh para debt collector seperti yang barusan saja terjadi di toko gaun pernikahan yang ia kenakan sekarang. Ia membuka sebuah pesan WA dengan d**a berdebar, tangan gemetaran serta kecemasan yang tak berhenti. 'Kenapa lo lama sekali sih ambil gaun pengantin gue?' Gadis mendesah kesal dan melihat dirinya kembali. Jika Clara, sahabat baiknya itu tahu bahwa ia telah mengacaukan gaun pengantinnya hari ini, maka tamatlah riwayatnya, ia tak hanya akan dilempar dari kontrakan yang notabenenya Clara yang membayarnya, tapi Clara juga akan berhenti memberinya makan gratis seperti yang sudah ia alami dua bulan terakhir ini. Sial! Para debt collector semakin mendekat dan Gadis semakin dibuat cemas oleh mereka. d**a Gadis semakin berdebar-debar kala ia dan para debt collector yang celingukan mencarinya itu hanya tinggal beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Gadis berlari sekuat tenaga dan sekencang mungkin kala dilihatnya sebuah mobil taksi terparkir dan penumpangnya turun, tepat ketika ia hampir saja kepergok para debt collector itu. Gadis masuk ke dalam taksi dan meminta sang sopir untuk menancap gas mobilnya. Matanya masih bisa melihat dengan jelas para debt collector itu nampak kesal karena ulahnya yang berhasil kabur dengan taksi yang kini membawanya pergi menjauh dari mal. Sang sopir menoleh dari kaca spion saat Gadis menghela napas berat sesaat setelah menengok ke belakang dan mendapati para debt collector yang mengejarnya berhenti berlari dengan raut wajah yang kesal menyadari Gadis telah berhasil kabur. Masalah lain datang setelah Gadis berhasil kabur dari para debt collector, yakni ia harus membayar ongkos taksi sedangkan dompet dan tasnya tertinggal di toko pakaian pengantin. Ia tak punya sepeserpun untuk membayar ongkos taksi. Andai ia tak menitipkan tas yang berisi dompetnya dengan uang sejumlah dua ratus ribu pada pelayan toko saat ia mencoba gaun pengantin yang kini ia kenakan, ia tak akan mendapatkan masalah seperti sekarang ini. "Ke mana non?" tanya sang sopir. Gadis tersadar dari lamunannya secepat mungkin lalu ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Ketika ia akan menghubungi Clara untuk menanyakan masjid mana yang Clara gunakan untuk akadnikah lewat panggilan Whats Up, ia menyadari kuotanya telah tandas. "Mobil belakang sepertinya mengikuti kita, non... " kata sang sopir. Mendengar pernyataan tersebut, kontan Gadis menoleh dan kaget saat ia menyadari dengan dua bola matanya yang membulat besar kalau kini ia tengah dikejar oleh para debt collector menggunakan mobil Van hitam. Sial! "Tancap gas ke Masjid Istiqlal ya, Pak!" kata Gadis pada sopir taksi meski ia tak yakin bahwa Clara akan melakukan ijabqobul pernikahannya di sana. "Baik non." kata sang sopir seraya menancap gas dan melewati jalur yang berbeda agar para debt collector itu tak mengejar mobil yang dikendarainya lagi. Dalam hati Gadis terus berdoa semoga Clara memaklumi kalau ia telah memakai gaun pernikahannya dan gaun itu telah terlihat kotor sebagian di bagian bawah. Ia akan terima apapun kemarahan Clara nanti asalkan ia masih diperbolehkan tinggal di kontrakan. Gadis merasa lega ketika ia menengok ke belakang dan tak mendapati mobil van hitam para penagih hutang itu mengejarnya lagi. Ia menarik napas panjang saking leganya. "Masjid depan , kan non?" tanya sang sopir yang membuat Gadis seketika menoleh dan melihat masjid itu tak jauh dari pandangan matanya. Ia kembali menghela napas panjang saat melihat banner yang bertuliskan nama pengantin yang tengah melakukan akad nikah di Masjid tersebut. Semakin mobil taksi mendekat, semakin Gadis menyadari bahwa ada hal aneh yang tengah terjadi di lingkungan Masjid. Tak hanya para wartawan yang berdiri di depan gerbang yang membuatnya heran, tapi juga para bridesmaid cantik yang tak ia kenal sama sekali. Ia menoleh kembali ke arah banner yang terlihat berkibar di depan masjid, nama sahabatnya Clara tersemat rapi di sana, jadi tak mungkin ia keliru, kan? Tepat ketika mobil taksinya sudah berhenti, salah seorang brismaide berwajah pucat tersenyum lega kepadanya meski hanya lewat kaca mobil saja dan Gadis belum turun. Gadis bule cantik dengan rambut blondenya mengatakan sesuatu yang tak sama sekali Gadis pahami. Alis Gadis berkerut saat bule cantik ceriwis itu membuka pintu taksinya dan menarik tangannya lembut. "What? What?" karena tak bisa berbahasa inggris sama sekali dalam keadaan gugup, bingung, karena seperti orang yang ngeblank, akhirnya Gadis yang kebingungan hanya mampu mengucapkan kata tersebut saja. Gadis ingin melepaskan dirinya dari genggaman tangan bule cantik yang tak ia kenal itu, tapi ia seolah tak punya kuasa sama sekali karena tepat saat itu, brismaide yang lain berdatangan sekaligus para wartawan yang menyerbunya. Gadis bingung dengan situasinya saat ini, hingga teriakan sang sopir taksi yang meminta uang jasanya tak terdengar sama sekali oleh Gadis. Hari itu masih pukul sepuluh pagi, teriknya matahari Jakarta mampu membuat kepala Gadis pusing mendadak. Ia baru saja lolos dari kejaran para penagih hutang dan kini ia kembali dihadapkan oleh situasi rumit, apalagi orang-orang disekitarnya menggiringnya paksa masuk ke dalam masjid dan menyebutnya Clara. "No... No... No... " kata Gadis ingin berontak. Ia ingin mengatakan bahwa ia bukan Clara tapi ia tak tahu harus mulai dari mana karena ia sama sekali tak bisa bahasa Inggris dalam keadaan membingungkan ini. Ah, Sial! "Silent!" teriak Gadis saat seseorang menyodorkan masker pengantin ke arahnya. Semua orang diam memandangnya dengan heran. Kalau untuk mengucapkan kata itu Gadis juga bisa dalam kedaan aneh seperti ini. Aku harus meluruskan kesalahpahaman ini. Ketika Gadis ingin menjelaskan bahwa dia bukan Clara, matanya menangkap mobil Van Hitam berjalan mendekati Masjid tak jauh darinya. Seketika Gadis menyambar masker yang diniatkan untuknya dan memakainya cepat-cepat serta ia tak peduli lagi kalau orang-orang disekitarnya menyeretnya masuk ke Masjid dan menganggapnya Clara, si pengantin. Pikirnya pengantin lelaki nanti pasti mengenalinya dan tak mungkin menikahinya karena ia bukan Clara. Tepat ketika ia yakin pengantin prianya pasti mengenalinya, saat itu juga ia menyadari kebodohannya kala melihat pengantin pria yang berdiri di depan pintu masuk masjid bukanlah Ibrahim, calon suami sahabatnya, Clara. Lalu siapa dia? Gadis mendongak sebentar ke arah banner yang menggantung di langit-langit pintu masuk masjid dan membaca nama pengantin yang tertera di sana dengan sangat jelas. Abraham and Clara Wedding's. Sial! Abraham? Not Ibrahim? Oh God! Just kill me now! .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD