Di waktu sore aku datang ke apartemen, keputusan telah aku buat. Dengan membawa Keanu dalam gendongan aku mau mengemas barang dan membawanya ke rumah Mama, setelahnya aku mau mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Tepat di depan pintu apartemen, aku berdoa agar Mas Farhan jangan pulang dulu selama aku mengemas barang. Rasanya aku ngak sanggup lihat wajah Mas Farhan, terlebih dia akan mengacuhkan aku seperti biasanya. Aku lega saat masuk ke apartemen, sebab tidak ada tanda-tanda ada manusia di sana. Aku langsung menuju kamar demi mengemas barang-barangku. “Luna,” gema suara mengagetkanku yang mau mengambil koper di dalam lemari besar. Ternyata ada Mas Farhan berbaring di tempat tidur dari tadi, dan aku tidak menyadari itu. Aku berpura-pura tidak tahu dan tidak mendengar panggil

