Mas Farhan melepaskan tanganku saat kami sudah memasuki area gedung apartemen. “Duluan!” ucap Mas Farhan yang kini pindah ke belakangku. Aku berjalan di depan Mas Farhan. Mas Farhan masih berekspresi datar, hanya mengatakan hal-hal yang perlu dikatakan saja. Hingga ke pintu apartemen kami hanya hening, tidak ada satupun di antara kami yang berbicara duluan. Tepat saat Mas Farhan membuka pintu apartemen, aku mengingat sesuatu yang terlupakan. “Boneka aku Mas,” ucapku langsung berbalik hendak menuju ke bawah lagi. Tiba-tiba Mas Farhan menarik tanganku. “Biar Mas yang ambil, kamu masuk duluan,” wajah datar Mas Farhan bikin aku merasa tidak nyaman. Aku mengangguk pelan, dan Mas Farhan menghilang masuk ke dalam lif. Aku menunggu cukup lama sambil mondar mandir di depan pintu, namun Mas

