sixty-eight : what really matters

1390 Words

Kala mengira jika alasan Hamdan bicara seperti itu padanya karena Ambar. Karena yang dilihatnya jelas sekali, sebelum Hamdan mengajaknya bicara, ada Ambar yang sedang bersama laki-laki itu. Memikirkannya saja rasanya seperti Kala harus menelan pil yang begitu pahit tanpa protes. Ia tidak bisa ikut campur dengan urusan hati Hamdan. Mau Hamdan memilih siapa, itu haknya, termasuk jika pada akhirnya Hamdan memilih Ambar dan menghilangkan kesempatan agar mereka bisa bersama. Seharusnya Kala bisa mengerti itu dan menerimanya, tapi tetap saja rasanya tidak lah mudah. Selama ini, ia sungguh mencintai Hamdan, tidak peduli jika mereka terpisah ruang dan waktu. Akan tetapi, mau bagaimana pun juga, Kala tetap harus menerima keputusan Hamdan itu. "It's okay." Kala memaksakan diri untuk menganggukka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD