“Aneh sekali. Kami sudah undang loe beberapa kali, tapi katanya loe sibuk,” ujar Hilma pada gadis cantik yang baru saja masuk.
Feby, gadis dengan rambut pirang bergelombang. Cara mengibaskan rambut panjangnya itu membuat siapa pun di dalam ruangan menghela napas. Si ketua klub musik datang sendiri ke markas tata boga. Meski terlihat cantik, gadis itu jelas tidak ingin merasa diabaikan oleh orang-orang di sekelilingnya.
Menebar senyum manis yang palsu agaknya adalah keahlian Feby. Dia tersenyum pada setiap orang di ruangan, lalu fokus gadis itu berpusat pada Kaina yang kini tengah menatapnya. Feby melewati Arion yang menyilangkan tangan di d**a sambil mendengkus. Sudut mata Arion memperhatikan seluruh gerak-gerik Feby.
Bukan. Arion bukan tertarik memperhatikan mantan pacarnya itu. Dia hanya penasaran apa yang dilakukan oleh pembuat onar di klub Kaina. Firasatnya tidak terlalu baik. Dari sekian banyak mantan, Feby salah satu yang tidak menerima kandasnya hubungan mereka. Gadis ayu itu sering sekali muncul dan mengganggu Arion.
Seperti yang dilakukan sekarang. Feby mengulurkan tangan pada Kaina yang menatap tak mengerti. Kaina tahu betul apa yang ada dalam pikiran Feby saat dia melirik Arion yang mengangkat bahu. Sungguh! Kaina tidak ingin ada kekacauan dalam persiapan bazar klub. Dia mau semua berjalan baik.
Akan tetapi, dengan kehadiran Arion dan Faby pada waktu yang sama, Kaina rasa itu bukan pertanda baik. Dia cukup mengerti siapa saja mantan Arion. Bukan sengaja mencari tahu. Dia hanya kebetulan mendengar gosip yang dibicarakan oleh semua mahasiswa. Pertemuan mantan di klubnya? Kaina tidak pernah menyangka akan menyaksikan pertunjukan penuh drama.
“Loe sudah kenal gue, kan?” tanya Feby setelah Kaina menyambut uluran tangannya.
“Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal ketua klub musik yang cantik.”
“Loe terlalu berlebihan, tapi gue memang cantik,” ujar Feby, lalu tertawa sambil menutup mulut. Seakan itu bisa membuatnya terlihat anggun. Padahal tidak bagi Kaina.
“Kamu ada perlu?” Kaina mencoba bersikap ramah.
“Gue mau menerima tawaran loe buat jadi pengirim di acara bazar.”
“Enggak perlu. Kaina sudah dapat musik pengiringnya,” sela Arion.
Kini, perhatian Feby beralih pada Arion. Dia tersenyum sangat lebar sampai semua giginya nyaris terlihat semua. Kemudian, berjalan mendekat dengan langkah perlahan. Dia sengaja memilin ujung rambutnya sambil terus mendekati Arion. Tinggi gadis itu hampir sama dengan Arion. Dia berhenti begitu dekat dengan sang mantan.
“Oh, ya?” cibir Feby. “Tapi musik kami sangat bagus. Iya, kan, Kai?”
“Memang, tapi, maaf, kami sudah sepakat dengan mereka. Kami sudah mencoba meminta bantuan klub musik. Katanya kalian sedang sibuk.”
“Kami memang sedang mempersiapkan beberapa lomba yang mau kami ikuti. Tapi, kami enggak bermaksud menolak tawaran klub yang lumayan sepi ini. Sori.”
Feby sengaja memutar bola matanya saat mengatakan “klub yang lumayan sepi”, seakan itu adalah hal yang sangat buruk. Kaina menarik sedikit sudut bibirnya menyadari pendapat Feby mengenai klub yang dipimpinnya. Sebagai seorang ketua, dia tidak menyukai sikap Feby yang menghina itu. Namun, dia tidak ingin mencari masalah dengan gadis semacam Feby.
Siapa yang tidak mengenal ketua klub musik, Feby. Seorang pemusik andal. Ditambah dengan suara merdu dan badan bak model. Feby memiliki semua hal yang diimpikan para gadis. Tentu saja minus kelakuan sombong dan kekurangannya dalam memahami mata kuliah. Kaina tidak tahu bagaimana Feby berhasil melewati setiap semester hanya dengan main-main.
Maksudnya. Jika boleh jujur, Feby itu tidak mengerti apa pun dalam hal pelajaran. Dia hanya sibuk berlatih di klub setiap hari. Entah nasibnya yang sangat beruntung atau karena ada udang dibalik batu. Kalian tahu, kan? Uang bisa membeli segala hal, termasuk nilai kuliah.
Bersyukur Kaina masih dianugerahi otak cerdas. Dia senang karena tidak perlu membebani sang bibi dengan biaya sekolah. Belajar lebih keras tidak membuat Kaina menyesal. Untuk membalas semua kebaikan bibinya, dia memang harus menjadi orang yang berguna. Meski bibinya tidak pernah menginginkan hal ini.
Itulah sebabnya Kaina rajin membantu di toko sang bibi. Dia ingin merasa berguna bagi keluarga Dara. Jika ada hal yang bisa dia lakukan untuk kemajuan toko, dia pasti akan melakukannya. Seperti kebiasaannya menemukan resep baru. Hasil yang memuaskan bisa menambah daftar kue di toko bibinya.
Dara sampai heran karena tangan Kaina lebih lihai membuat roti dibandingkan dengannya. Padahal dia sudah sejak dulu memperhatikan ibunya mengadoni kue. Dia juga berusaha keras agar bisa menjadi seperti sang ibu. Namun, hasilnya selalu saja Kaina yang lebih bisa diandalkan. Tampaknya, Kaina memang memiliki bakat.
Kenyataan itu tidak membuat Dara merasa cemburu. Dia senang jika Kaina bahagia ketika melakukan sesuatu. Setidaknya beban berat yang dipikul Kaina akan berkurang sedikit demi sedikit. Kemudian, perlahan lenyap, hilang tanpa bekas. Dara lebih suka melihat Kaina tersenyum, dibandingkan harus menyaksikan Kaina melamun sambil memandangi foto keluarga kandungnya.
Pernah beberapa kali, Dara memergoki Kaina menangis dengan foto di tangan. Atau berteriak dalam mimpinya sambil meneteskan air mata. Kaina berusaha keras mengubur kenangan pahit dan tampil lebih normal. Dia berpikiran jauh ke depan dan tidak pernah bermain-main saat melakukan sesuatu.
Jujur saja, Kaina ingin hasil yang sempurna untuk setiap hal yang dia lakukan. Dia ingin menunjukkan pada dunia, meski dia memiliki latar belakang kehidupan yang mengerikan, dia adalah anak yang berprestasi di bidang apa pun. Ibunya tentu senang bila dia menjadi gadis hebat dan mandiri.
Tidak ada gunanya mengingat masa lalu kelam yang menjadi bayangan di setiap langkah Kaina. Yang ada, itu hanya membuat Kaina terpuruk. Bertemu dengan orang-orang baru terasa menyenangkan bagi Kaina, tapi cukup sampai di situ. Dia tidak mau terbuai dengan mengizinkan mereka mendekat. Gadis dengan masa lalu sepertinya akan lebih sulit menerima orang baru dalam hidup.
Karena itu, Kaina merasa heran saat menyadari betapa mudahnya Arion menyusup dalam kehidupannya. Bahkan bertahan selama bertahun-tahun. Kaina sudah sangat sering berusaha mengeluarkan pemuda itu dari daftar pengganggu. Sayang, dia belum berhasil sampai sekarang. Entah bagaimana, Arion seperti magnet yang terus menarik Kaina.
Lihatlah bagaimana penampilan Arion. Memakai kemeja hitam yang menjadi kebanggaannya. Ditambah jeans sobek-sobek yang membuat Kaina menggelengkan kepala. Lalu, warna merah di antara rambut Arion juga sedikit merusak mata Kaina saat melihatnya. Dia tidak mengerti kenapa orang-orang suka melakukan hal-hal seperti itu.
Yang lebih tidak Kaina mengerti adalah dia tidak keberatan dengan apa pun yang melekat pada diri Arion. Segala keanehan itu tidak lagi tampak begitu Arion menyapa dan tersenyum. Ini memang sangat gawat. Terpesona pada pemuda, terutama yang seperti Arion, hanya akan memberi dampak buruk bagi Kaina.
Kedua mata Kaina melirik Fany yang kini mendekati Arion. Dia sengaja berjalan melenggak-lenggok bak model papan atas. Rasanya Kaina mau tertawa. Jelas sekali kalau Fany melakukan itu untuk menggoda Arion yang tetap diam. Setahu Kaina, Arion tidak pernah menjalin kasih dengan para mantannya.
Bagaimana jika sang mantan penuh godaan seperti Fany. Mata gadis itu mengedip saat sudah berhenti tepat di depan Arion. Dia memberikan senyum dengan bibir merah menawannya. Terlalu lancang bagi Kaina. Dia tidak bisa membiarkan siapa saja m*****i ruangan klub dengan perbuatan tidak sopan begitu.
Sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, Kaina akan menghentikan kelakuan Faby, sang pembuat onar. Dia memutar otak dengan cepat untuk menemukan kalimat yang pas. Namun, begitu mulutnya membuka dan bersiap mengeluarkan hasil pikiran, seseorang sudah memberi Feby pelajaran.
“Jangan membuat masalah di rumah orang, Feb,” kata Arion mengingatkan.
“Kenapa? Toh, ini cuma klub enggak mutu yang sebentar lagi mungkin bakal mati. Loe ngapain, sih, ke sini segala?”
“Bukan urusan loe. Lebih baik loe pergi sekarang atau gue perlu paksa loe keluar dari sini.”
“Ck ck ck. Mantan pacar gue ini kenapa galak banget, ya?” Feby tertawa. “Tapi gue tambah suka, lho, sama sikap loe yang cuek ini. Bikin kangen,” ujar Feby centil, lalu memainkan sebelah mata.
“Loe mau apa? Kita bicara di luar saja.”
“Itu terdengar lebih baik. Gue suka. Tapi ....” Faby menoleh pada Kaina yang bisa meledak kapan,-kapan. “Loe ke sini bukan karena Kaina, kan?”
“Gue memang ke sini buat ketemu Kaina,” jawab Arion tegas
“Serius? Loe enggak lagi mengincar dia, kan?” bisik Faby, tapi Kaina masih bisa mendengarkan. “Dia cantik, sih, tapi enggak cukup bagus buat loe.”
“Maksud loe apaan, tuh, Feb?” tanya Hilma tak suka.
“Wow! Gue enggak tahu kalau anak-anak klub kalian kompak. Loe beruntung banget, Kai. Gimana rasanya dikunjungi sama pangeran kampus? Apa loe ... Eh, apaan, sih?”
Feby tidak pernah menyelesaikan kalimatnya karena Arion menarik tangan gadis itu. Membiarkan Feby terlalu lama di dalam bisa bahaya. Melihat Kaina ditekan seperti tadi, membuat Arion merasa tidak rela. Dia tidak ingin Kaina salah sangka dengan kedatangannya. Padahal dia benar-benar ingin membantu.
Mantan pacar yang menyebalkan! Arion tidak tahu bagaimana dulu dia bisa menjalani hari-hatinya dengan Feby yang angkuh. Gadis itu tidak tahu cara berbicara dengan baik. Apa dia tidak memperhatikan suasana di dalam klub yang mulai memanas. Arion rasa, jika dia tetap membiarkan Feby mengoceh, anggota klub tata boga pasti sudah mengeroyoknya.
Meski Arion yakin kalau hal itu tidak akan terjadi. Kaina tentu akan mencegah teman-temannya. Gadis cinta damai yang tidak ingin menimbulkan masalah. Arion jadi kesal pada Feby karena rencana pendekatannya pada Kaina gagal. Lagi pula, dari mana Feby tahu kalau Arion berada di sana.
Setelah berpisah, Feby memang terus saja merengek ingin mereka kembali pacaran. Gadis itu terus muncul di mana-mana dan malah membuat Arion membencinya. Dia sudah lelah menjelaskan pada Feby bahwa dia tidak mungkin mengabulkan permintaan mantannya itu.
“Loe ngapain, sih, buat keributan di klub orang? Lagian, ngapain loe masih nongol di depan gue? Gue sudah bilang, kita selesai. The end. Enggak usah ngejar-ngejar gue lagi.”
“Loe mau jadiin Kaina pacar loe selanjutnya?” tanya Feby dengan wajah sedih.
“Itu bukan urusan loe, Feb. Demi Tuhan, jangan ganggu gue lagi. Sikap loe justru bikin gue pengin menjauh dari loe. Sori. Tapi gue harus bilang ini lagi. Gue enggak pernah balikan sama mantan. Oke? Gue duluan.” Arion melangkah menjauh sebelum kesabarannya habis.
“Loe enggak balikan sama mantan? Kita lihat saja, Beb. Apa loe bisa nyingkirin gue.”