Melenggang santai sambil bersiul, tangan kiri masuk ke dalam saku celana, tangan kanan memegang ujung kerah jas yang disampirkan dibahu, Attaya terlihat bergerak ringan memasuki rumah kediamanan orang tuanya.
Elaina menyambutnya di pintu. Ia tahu kedatangan putranya melalui CCTV di kamar pribadinya. "Atta?! Ada kabar apa hari ini, hem? Senang sekali kelihatannya?"
"Mama nih, apa-apa ditanyain. Bisa gak sih ikut seneng saja lihat anaknya seneng, ikut sedih lihat anaknya sedih tanpa harus bertanya-tanya?" Attaya mengatakannya dengan senyum menggoda.
"Yaa mana bisa dong, Atta! Mama ya harus tahu kenapa-kenapanya. Namanya juga sama anak!" sergah Elaina pura-pura galak.
"Hu ... ada deh, bye, Ma!" seru Attaya seraya berbelok dan melompati tangga menuju ke kamar pribadinya.
Elaina menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan tingkah putranya yang masih seperti anak kecil.
"Bu, maaf ... ada telepon dari bapak." Salah seorang pelayan mengangsurkan gagang telepon wireless kepada Elaina.
"Oh, ya ... makasih Bik," ucap Elaina sambil menerima gagang telepon tersebut.
"Halo, Pah? Anakmu baru saja pulang dan terlihat bahagia. Apakah ada kabar bagus di kantor?" cerocos Elaina.
"Syukurlah kalau sudah pulang. Tapi, dia belum ke kantor. Ma, nanti malam kita akan dinner di Mulia, jangan bilang anakmu. Papa mengundang keluarga Brata dan Denada. Ada masalah yang harus segera diselesaikan Ma. Ini mengenai perusahaan induk kita." Terdengar helaan napas panjang Mahendra di ujung telepon.
Suasana hening sejenak, sebelum Elaina bertanya dengan hati-hati, "Apakah kita minta bantuan Brata dalam masalah ini?"
"Semua tergantung kita, Ma. Nanti aja di jalan menuju lokasi papa cerita. Sekarang siap-siap ke kantor papa ya," sahut Mahendra dan menutup teleponnya setelah itu.
Elaina menengadah ke lantai dua, menatap pintu kamar Attaya yang tertutup sambil berpikir, 'Sebenarnya ada apa? Kenapa dia tidak boleh tahu dan kenapa anak itu tidak ngantor-ngantor?'
Kembali Elaina menggelengkan kepalanya. Ia melangkah menuju kamar pribadinya dan hanya butuh merapikan rambut serta menyambar tas selempangnya, kemudian melenggang keluar di mana supir telah siap mengantar sang nyonya ke manapun ia akan pergi.
Sampai di depan lobby gedung perkantoran, ternyata Mahendra telah menunggu dan langsung menaiki mobil yang ditumpangi istrinya.
"Kenapa, Pa? Kok kusut seperti itu?" tanya Elaina merasa heran.
"Denada, Ma. Dia bikin ulah! Mulai ikut campur pada proyek-proyek kerjasama kita dengan keluarganya. Mama belum baca tabloid ekonomi hari ini? Cek deh googling, Ma. Dia mengatakan kalau seratus persen proyek-proyek strategis akan diserahkan kepada kita pada saat malam pertunangannya dengan Attaya. Masalahnya, bagaimana cara kita membujuk anak keras kepala itu? Nah ... rencananya, kita gak usah ngomong apa-apa sama anak itu. Kita saja yang putuskan," tutur Mahendra tanpa jeda.
"Hmm ... maksudnya dia, kalau pertunangan tidak terlaksana, maka seratus persen proyek yang sedang kita garap, ditarik semua, gitu?" tanya Elaina meyakinkan.
"Nah, itu! Sialnya, Brata setuju-setuju aja dengan ide putrinya itu. Kita bakal kelabakan Ma, seluruh aset yang kita punya, gak akan cukup untuk menutup kerugian," sahut Mahendra dengan lemas.
Elaina terdiam, otaknya berpikir keras. Bagaimanapun ia tidak ingin memaksakan kehendak kepada putra satu-satunya, karena ia tahu betul, bukan hanya tidak suka tapi, lebih dari itu, Attaya sangat membenci Denada. Hati kecil Elaina pun tidak bisa menerima Denada sebagai menantunya.
"Bagaimana mungkin menyerahkan anak kita kepada gadis yang menganut free s*x^ seperti dia? Oh, ya Tuhan ... tapi, Pa? Apa benar-benar kita akan hidup di garis kemiskinan?" Elaina menatap tajam suaminya.
"Bukan hanya itu, Ma. Sudah miskin, masih harus menanggung utang pula. Jangankan Mama, Papa aja gak bakalan sanggup!" tegas Mahendra yang juga terlihat sangat kebingungan.
Sebagai orang tua, tentu saja mereka menginginkan yang terbaik untuk putranya, termasuk siapa pun yang akan mendampingi putranya kelak, haruslah gadis baik-baik yang tidak bertingkah aneh-aneh. 'Bukan sekelas sampah seperti Denada,' batin Mahendra nelangsa.
Mereka sampai di tempat yang dijanjikan, Brata dan keluarga telah berkumpul bahkan neneknya Denada juga ikut hadir di sana.
"Sorry, sorry ... apa sudah lama menunggu?" Mahendra menyalami mereka satu per satu.
"Kamu kenapa, Elain? Kok pucat seperti itu?" tanya Irene memperhatikan wajah Elaina. "Ayo, ayo, duduk, duduk," lanjutnya mempersilakan Mahendra dan Elaina duduk di depan mereka mengelilingi meja bundar.
"Ayo kita makan dulu saja ya, sebentar lagi makanannya siap," ujar Brata kepada mereka.
Selanjutnya, mereka hanya mengobrol ringan sampai acara makan malam selesai. Elaina terus menerus melirik Denada yang semakin diperhatikan semakin terasa biasa parasnya. Denada hanya cantik di depan kamera. Dia type wanita potogenik.
Tiba saatnya dessert dikeluarkan, suasana semakin terlihat santai dan ketegangan yang menghinggapi Mahendra serta Elaina perlahan mencair.
"Mahen, mengenai pembicaraan kita siang tadi, bagaimana? Kita tidak mungkin menunggu lebih lama lagi. Maklumlah, anak kami kan perempuan, sementara pemberitaan di luar sana terus menerus membicarakan kedekatan Attaya dengan Denada, jelas hal itu mengkhawatirkan. Baiknya segera dilegalkan saja. Tunangan dua minggu ke depan, menikah dalam tiga bulan ke depan," desak Brata sambil menatap kedua temannya bergantian.
Mahendra hampir saja tersedak mendengar penuturan Brata. Ia bisa saja memutuskan sendiri meskipun rasa hatinya sangat berat. Ia khawatir menjadi ayah yang dibenci oleh putranya sendiri. Tapi, saat itu, ia tidak punya pilihan selain harus menyatakan 'iya' pada permintaan Brata.
Lelaki itu melirik istrinya, Elaina. Berharap ada tindakan nyata yang bisa menyelamatkan putranya dari cengkraman Denada, tapi nihil. Elaina justru terus berdiam diri sambil menatap sudut meja dengan tatapan kosong. Mahendra menghembuskan napasnya dengan berat.
"Kami ... ikut bagaimana baiknya saja. Hanya saja, kami ada satu permintaan, terutama kepada Dena. Bisakah merahasiakan dulu hal ini dari Attaya? Dia sedang butuh konsentrasi. Jangan khawatir, pokoknya di hari H, Attaya akan berada di sana, mendampingimu dan kalian bisa melaksanakan tukar cincin dengan lancar." Mahendra memandang Denada dengan tatapan memohon.
"Siap, Om. Aku akan merahasiakan hal ini, lagian, Atta emang pemalu, sangat sulit baginya untuk mengungkapkan perasaannya," celoteh Denada dengan nada riang. Binar-binar bahagia jelas terukir pada kedua bola matanya.
Mahendra mengangguk, setidaknya dalam dua minggu ini, tidak akan terjadi sesuatu yang bergejolak di rumahnya. Attaya, biarlah tidak tahu apa-apa. Tapi, jika sampai bocor dan Attaya mengamuk, ia masih punya kartu terakhir yaitu memohon pengorbanan diri dari putranya demi menyelamatkan ekonomi keluarga, demi ibunya yang sangat dicintai oleh putranya.
Keduanya berpamitan undur diri setelah tercapai kesepakatan dan rencana acara yang akan digelar pada hari pertunangan tersebut. Bahkan, Irene menentukan bahwa besok adalah hari yang tepat untuk mencari cincin pertunangan bersama Elaina dan Denada. Pagi-pagi, ketiganya akan mengunjungi Singapura menggunakan jet pribadi keluarga Brata.
Di dalam mobil menuju pulang, baik Mahendra maupun Elaina, tidak satu pun yang membuka pembicaraan. Mereka saling berdiam diri, sibuk dengan pikirannya masing-masing dalam kekalutan hati mereka.
Keduanya melangkah lunglai saat turun dari mobil menuju ke dalam rumah. "Tuan muda sudah makan, Bik?" tanya Elaina saat kedatangannya di sambut oleh ketua asisten rumah tangga.
"Tuan muda belum sempat makan malam, tidak lama Ibu pergi, dia juga pergi, Bu," lapor Bibik.
Elaina dan Mahendra saling pandang sejenak. "Kemana?" Pertanyaan itu terlontar secara bersamaan dari mulut mahendra dan Elaina.
"Ooh ... anu, Bu. Tuan muda bilang, 'Saya punya kekasih sekarang, Bik. Gadis cantik dan baik. Pergi dulu ya, gak mau membuat bidadariku menunggu' begitu katanya Bu, Pak," jawab Bibik sambil tersenyum, entah kenapa perempuan setengah baya itu merasa senang untuk Attaya.
"Ma! Ma ... hati-hati, Mama kenapa?" Mahendra terkejut melihat istrinya sempoyongan dan hampir saja terjatuh seandainya dia terlambat menangkap tubuh Elaina.
"A--anak kita, Pa ...," desah Elaina dengan nada lemah.
"Iya, Ma ... iya, ayo pelan-pelan ...." Mahendra memapah Elaina menuju kamar pribadinya.
◇◇◇◇