part 12

1646 Words
Sinar matahari pagi menyusup di balik tirai kamar, Emyr terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Ia mengerang pelan, menekan pelipisnya sambil berusaha duduk di tepi ranjang. Botol air mineral dan obat pereda sakit kepala sudah tersedia di meja samping—pelayan yang sigap pasti menyiapkannya. Emyr meraih botol itu, meneguk air dengan rakus, lalu terdiam menatap kosong ke lantai. Bayangan malam tadi kembali menyeruak. Suara Devan, wajah Alyssa yang khawatir, bahkan tatapannya yang penuh luka. Tapi semua itu segera tertutup oleh satu nama yang terus bergema di kepalanya. “Greta…” gumamnya lirih. Hanya nama itu yang membuat dadanya sesak sekaligus kosong. Ia memejamkan mata, membiarkan kenangan tentang Greta membanjiri pikirannya—senyumnya, tawa renyahnya, cara Greta memandangnya seolah ia satu-satunya lelaki di dunia. Lalu perih kembali menikam ketika mengingat Greta menghilang tanpa penjelasan. Emyr mengepalkan tangan. Aku harus menemukannya. Apa pun caranya. Ponselnya berdering di meja. Itu dari pengawal pribadinya. Dengan suara serak, Emyr mengangkatnya. “Bagaimana? Ada perkembangan?” tanyanya cepat. “Belum, Tuan. Kami sudah memeriksa beberapa apartemen dan teman dekat Nona Greta, tapi belum ada jejak. Sepertinya dia benar-benar menghilang.” Emyr menutup mata, menahan rasa frustrasi. “Teruskan pencarian. Jangan berhenti sampai kau menemukannya.” Telepon ditutup. Hening kembali mengisi ruangan. Emyr menoleh sekilas ke arah pintu, seolah membayangkan sosok Alyssa yang mungkin sedang beraktivitas di rumah itu. Namun segera ia menggeleng, menepis pikiran itu. Hatinya sudah tertambat pada Greta—dan hanya Greta. Aroma harum tumisan bawang dan wangi teh panas memenuhi dapur besar itu. Alyssa sudah berdiri di samping Bibi Sari sejak matahari baru merayap naik. Rambutnya digelung sederhana, gaun tidurnya tertutup celemek tipis yang ia pinjam dari bibi. “Biar saya yang potong sayurnya, Bi,” ucap Alyssa sambil mengambil pisau dari meja. Bibi Sari terkekeh kecil. “non Alyssa seharusnya non tidak perlu repot-repot. Biar saya yang siapkan sarapan nya, saya takut tuan Emyr akan marah bila melihat non Alyssa disini" Alyssa tersenyum tipis. “bibi jangan khawatir, tuan Emyr tidak akan marah, karena dia selalu sibuk, tidak akan terlalu peduli pada gadis seperti ku" Pisau di tangannya bergerak luwes, memotong sayuran dengan cepat. Bibi Sari memandanginya sejenak, ada rasa kagum terselip. “tapi jarang ada gadis seperti non Alyssa " Alyssa hanya tersenyum. "Bibi terlalu berlebihan memujiku" . Dapur sederhana bersama Bibi Sari membuatnya seolah kembali ke rumah lamanya, sebelum semua utang dan masalah menjerat hidupnya. Meja panjang di ruang makan sudah tertata rapi. Hidangan hangat berderet di atas meja—nasi goreng, sup sayur, roti panggang, dan teh panas yang mengepul. Alyssa duduk rapi di ujung meja, menunggu, sementara Bibi Sari sibuk menuangkan minuman. Pintu ruang makan terbuka. Emyr masuk dengan kemeja kerja yang baru saja dikenakan. Rambutnya masih sedikit basah, wajahnya terlihat dingin seperti biasa. Tatapannya sempat jatuh pada Alyssa, tapi segera ia alihkan tanpa kata. “Selamat pagi, Tuan,” sapa Bibi Sari sopan. Emyr hanya mengangguk kecil. Ia menarik kursi dan duduk, membuka ponselnya sambil melirik sepintas pada makanan. Alyssa mencoba mencairkan suasana. “makan lah ini,.. agar anda merasa lebih baik" Alyssa menyodorkan semangkuk sup ayam. Emyr menoleh singkat, ekspresinya datar. “Kau tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku, dan... Satu hal lagi, jangan paksakan dirimu untuk mencoba menarik perhatianku" Kata-kata itu menohok Alyssa, membuatnya bingung. Namun ia berusaha tetap tenang, meneguk teh perlahan. "Aku tidak sedang mencari perhatian mu,, jangan salah faham aku hanya..." Belum sempat Alyssa menyelesaikan ucapannya, Emyr bangkit "Aku berangkat.” Suaranya singkat dan dingin. Alyssa mengangguk pelan, berusaha tersenyum meski hatinya kecut. “Hati-hati di jalan.” Emyr tidak menjawab. Ia hanya berjalan menuju pintu utama. Suara langkah sepatunya bergema di lantai marmer, lalu suara pintu berat itu tertutup. Alyssa menunduk, jari-jarinya meremas ujung gaun sederhana yang ia kenakan. Perasaan asing kembali menyeruak—perasaan menjadi tamu di rumah yang kini harus ia sebut rumahnya sendiri. Alyssa berjalan pelan ke dapur, menemukan Bibi Sari sedang mencuci piring sisa sarapan. “Bibi,” suara Alyssa terdengar lembut, sedikit ragu. Bibi Sari menoleh sambil tersenyum ramah. “Ada apa, Non Alyssa” Alyssa menarik napas dalam, menatap ke arah pintu sejenak. “Aku ingin… keluar sebentar. Ke rumah orang tuaku. Aku sangat merindukan mereka terutama adik kecilku Qiana..” Bibi Sari meletakkan piring, mengeringkan tangannya dengan lap. Tatapannya sedikit serius. “Apakah tuan Emyr sudah diberi tahu?” Alyssa menggigit bibirnya, lalu menjawab pelan, “Aku akan bilang padanya nanti. Aku janji tidak akan lama.” Bibi Sari menghela napas, lalu mengangguk. “Baiklah, tapi hati-hati di jalan. Kalau perlu, ajak salah satu sopir untuk mengantar.” Alyssa tersenyum lega. “Terima kasih, Bi. Aku akan segera kembali.” Dengan langkah pelan namun mantap, Alyssa keluar dari rumah besar itu, Alyssa memilih untuk mencari taksi, namun baru beberapa langkah, Alyssa dikejutkan dengan suara pria. "Tunggu...." Alyssa menoleh dengan jantung berdegup kencang.. "Nyonya Alyssa,, anda hendak pergi kemana" tanya seorang pengawal yang biasa berjaga di area rumah emyr.. "Hmm...saya ada keperluan mendadak sebentar" ucap Alyssa "Kalau begitu saya panggilkan supir pribadi tuan...." Alyssa memotong "tidak perlu pak.. lagipula dekat dari sini, saya tidak akan lama" Segera Alyssa melangkah pergi tanpa menunggu respon pengawal itu. Mobil taxi berhenti di depan rumah sederhana. Alyssa turun, menatap sebentar pada rumah itu—rumah yang selalu membuatnya merasa aman, meski kini penuh kekhawatiran. Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Ibunya muncul, matanya langsung berbinar ketika melihat Alyssa. “Nak…” suara ibunya bergetar, lalu segera memeluk putrinya erat. Alyssa membalas pelukan itu, merasakan kehangatan yang hampir ia rindukan setiap malam di rumah barunya. “Bu… aku kangen.” Sang ibu menepuk punggungnya pelan. “Kami juga, Nak. Masuklah, ayahmu ada di dalam.” Di ruang tamu, ayahnya sedang duduk di kursi tua dengan wajah letih. Begitu melihat Alyssa, ia berdiri dengan sedikit terburu-buru. “Alyssa…” Alyssa segera menghampiri dan menggenggam tangan ayahnya. “Ayah, bagaimana keadaanmu? Maaf... Alyssa baru bisa datang menjenguk kalian." Ayahnya menggeleng, menatap putrinya dengan sorot mata bersalah. “Tidak, Nak. Sejak… kau tinggal di rumah Jefry, mereka tidak datang lagi. Tapi justru itu yang membuat Ayah gelisah. Ayah merasa terlalu membebanimu.” Alyssa tersenyum getir, berusaha tegar. “Ayah jangan pikirkan itu lagi. Yang penting sekarang Ayah aman. Aku akan baik-baik saja.” Ibunya duduk di samping mereka, matanya berkaca-kaca. “Tapi, Nak… bagaimana kehidupanmu di sana? Apakah kau… bahagia?” Pertanyaan itu membuat d**a Alyssa sesak. Ia menunduk, jari-jarinya meremas pelan ujung roknya. “Aku masih berusaha, Bu. Aku masih belajar beradaptasi.” Sejenak hening. Hanya suara jam dinding yang terdengar. Lalu, ibunya meraih tangan Alyssa dengan erat. “Apapun yang terjadi, ingatlah… rumah ini selalu terbuka untukmu. Kau tidak sendirian.” Alyssa tersenyum samar, berusaha menahan air mata. “Aku tahu, Bu. Itu sudah cukup untukku.” "Kak Alyssa" senyum ceria Qiana ketika melihat kakaknya ia langsung berlari ke arah Alyssa. "Qiana...Kakak kangen banget sama kamu.." Alyssa mencubit pipi adiknya dengan gemas. "Kakak kenapa baru datang, Qiana juga kangen kakak" Qiana memasang wajah cemberutnya. Membuat Alyssa tambah gemas. "Apa kamu nakal saat kakak tidak ada" "Aku tidur nakal, aku selalu menjadi anak yang baik" jawab polos Qiana, sekali lagi Alyssa memeluk adiknya dan bermain sebentar bersamanya. Sore itu, setelah berbincang dengan orang tuanya, Alyssa duduk sebentar di kamar lamanya. Ia menatap ponselnya, ragu, sebelum akhirnya menekan nomor Tiwi—teman yang dulu sempat membantunya ketika ia terdesak. “Haloo, Alyssa?” suara Tiwi terdengar ceria di seberang. “Tiwi… apa kamu sibuk? Aku ingin bertemu sebentar, di kafe biasa kita,” suara Alyssa pelan, penuh hati-hati. “Tentu! Aku memang baru selesai kerja. Setengah jam lagi kita ketemu, ya,” jawab Tiwi bersemangat. Kafe kecil di pojok jalan itu masih sama seperti dulu. Aroma kopi hitam dan roti manis memenuhi udara. Alyssa sudah menunggu di meja dekat jendela ketika Tiwi datang dengan senyum lebar. “Alyssa!” Tiwi langsung memeluknya, penuh kehangatan. “Sudah lama sekali! Aku hampir tidak percaya kamu bisa menyempatkan diri.” Alyssa tersenyum tipis. “Aku juga rindu. Maaf baru bisa menghubungimu sekarang.” Mereka duduk, lalu Alyssa membuka tas kecil yang ia bawa. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan meletakkannya di meja. “Tiwi… ini uang yang dulu aku pinjam darimu. Terima kasih banyak sudah membantuku waktu itu,” ucap Alyssa dengan suara tulus. Tiwi menatap amplop itu, lalu menatap Alyssa dengan kening berkerut. “Kau serius? Alyssa, aku meminjamkan itu bukan untuk dibayar cepat. Aku tahu keadaanmu waktu itu berat.” Alyssa tersenyum, matanya teduh. “Justru karena itu aku ingin segera mengembalikannya. Aku tidak ingin menambah bebanmu.” Tiwi menghela napas, lalu meraih tangan Alyssa. “Aku tidak tahu apa yang kamu alami sekarang, tapi aku bisa lihat… kamu berubah. Lebih… tenang, meski matamu masih menyimpan banyak hal.” Alyssa terdiam, hanya bisa tersenyum samar. Tiwi mencoba mencairkan suasana. “Baiklah, aku anggap hutangmu lunas. Tapi janji, jangan menghilang lagi dariku. Kita tetap sahabat, apa pun yang terjadi.” Alyssa mengangguk pelan, rasa hangat menjalar di dadanya. “Aku janji" “Alyssa, aku tahu kau pasti butuh sesuatu yang bisa membuatmu lebih… mandiri.” Alyssa mengerutkan kening. “Apa maksudmu?” Tiwi mencondongkan tubuh, suaranya pelan namun serius. “Restoran tempatku bekerja sedang mencari pelayan tambahan. Gajinya memang tidak besar, tapi cukup untuk menambah penghasilan. Kalau kau mau, aku bisa merekomendasikanmu langsung ke manajer.” Alyssa terdiam. Bayangan rumah besar, aturan Emyr, dan tatapan dinginnya melintas di benaknya. Bekerja lagi… mungkinkah ia lakukan, tanpa sepengetahuan suaminya? Tiwi menggenggam tangannya erat. “Alyssa, kau selalu berusaha untuk orang lain. Tapi kali ini, pikirkan dirimu juga. Kau butuh ruang untuk berdiri di atas kakimu sendiri. Tidak ada salahnya bekerja, meskipun sedikit. Setidaknya kau punya sesuatu yang benar-benar milikmu.” Alyssa menatap sahabatnya, matanya berkaca-kaca. Ada keinginan kuat dalam dirinya, tapi juga rasa takut. “Aku… aku akan pikirkan dulu, Tiwi. Terima kasih sudah peduli padaku.” Tiwi tersenyum lembut. “Apa pun keputusannya, aku tetap di sini untukmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD