Pagi itu, matahari bersinar cerah, menyelinap lembut lewat celah tirai kamar Raisa. Udara terasa tenang. Bahkan angin pun seolah berembus perlahan, sejuk dan menenangkan, seperti sedang membisikkan harapan baru yang malu-malu mengetuk pintu hati.
Raisa berdiri lama di depan cermin, gaun-gaun tergantung rapi di depannya. Tangannya meraba satu per satu, tapi matanya tampak kosong. Ia ragu. Bukan karena tak tahu harus memakai apa-tapi karena takut berharap lagi.
Kencan hari ini terasa... berbeda.
Sudah tiga kali mereka bertemu. Pria itu tidak seperti yang lain. Tidak bicara besar tentang karier. Tidak berusaha mengesankan dengan mobil mewah atau jam mahal. Hanya duduk bersama, tertawa pelan, berbagi cerita-cerita kecil tentang hidup yang kadang tak adil tapi tetap bisa dijalani. Tak ada sentuhan berlebihan, tak ada tatapan tajam yang mengukur. Hanya... ketenangan.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun hidup lebih sendiri, Raisa merasa seperti wanita biasa. Bukan 'madam pemilik butik terkenal', bukan 'janda kaya yang ditinggalkan suaminya', tapi hanya seorang perempuan... yang ingin dicintai tanpa dihitung-hitung.
Sebelum keluar rumah, Raisa menoleh ke sudut rak yang selama ini selalu ia hindari. Sudut tempat ia menyimpan satu kotak kecil dari kayu jati, yang pernah dikunci dan dikubur dalam-dalam di lemarinya.
Dengan hati berat, ia menarik kotak itu. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya ada foto pernikahan yang dulu selalu membuat dadanya sesak. Surat cinta pertama dari pria itu. Tiket konser pertama mereka. Bahkan secarik kertas bertuliskan "Aku akan bersamamu sampai akhir."
Tangan Raisa gemetar saat ia memegang foto itu. Wajah pria yang dulu begitu ia cintai kini hanya menyisakan rasa getir. Ia memeluk foto itu untuk terakhir kalinya... lalu mengembalikan semuanya ke dalam kotak, menutup rapat, dan memasukkannya ke dalam laci terdalam-kunci ia buang ke tong sampah tanpa ragu.
"Aku gak mau hidup dalam masa lalu lagi..."
Dengan langkah pasti, ia keluar rumah. Hari ini, ia ingin mencoba membuka lembar baru. Ia bahkan memesan tempat makan siang di restoran kecil dekat taman-tempat yang sederhana tapi hangat. Ia datang sepuluh menit lebih awal, memilih duduk di dekat jendela. Dari sana, ia melihat sepasang anak muda bermain gitar di bawah pohon rindang. Senyumnya merekah kecil.
Sepuluh menit... lima belas... dua puluh, hingga satu jam berlalu.
Ia masih menunggu.
Ponsel dicek berulang kali. Tidak ada pesan. Tidak ada telepon. Tidak ada kabar.
Lalu-seperti mimpi buruk di siang bolong-dari kejauhan ia melihat pria itu. Ia datang... tapi dari arah berlawanan. Raisa segera tersenyum, tapi senyum itu perlahan memudar saat melihat tangan pria itu menggenggam tangan wanita lain.
Wanita itu menempel manja di lengannya. Cantik. Elegan. Sempurna. Lalu dari belakang, seorang anak kecil berlari memanggil, "Ayah!"
Raisa terpaku. Dunianya runtuh dalam satu detik yang panjang dan sunyi.
Pria itu menoleh, dan melihatnya. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya. Tapi alih-alih menjelaskan, ia menarik wanita dan anak itu menjauh. Tidak ada kata. Tidak ada permintaan maaf. Bahkan tidak ada pengakuan.
Hanya tatapan kosong yang berkata: "Itu bukan aku."
Raisa tidak menangis. Ia bangkit, meninggalkan meja, berjalan ke mobilnya dengan tangan gemetar. Namun ketika sampai di rumah-sendiri, seperti biasanya-ia meletakkan tas, membuka sepatu, lalu jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin.
Dan di sanalah, untuk kesekian kalinya, tangisnya pecah seperti gelas yang dihantam tembok.
"Apa aku... pantas untuk dicintai?" gumamnya lirih, di antara isak.
Hari itu, Raisa bersumpah dalam hati:
Ia tidak akan pernah lagi memberi hatinya semudah itu.
Ia tidak akan membiarkan siapa pun masuk dan menghancurkan apa yang tersisa dari dirinya yang rapuh.
Malamnya, Raisa menyadari ia kehabisan s**u almond-minuman kesukaannya yang selalu ia simpan untuk malam-malam sepi. Dengan hoodie tebal dan wajah polos tanpa riasan, ia memutuskan pergi ke minimarket terdekat. Ia ingin cepat saja, tak ingin berlama-lama.
Lorong pendingin tampak kosong. Ia berjalan pelan. Matanya lelah, tapi tetap fokus mencari botol favoritnya. Dan saat hendak mengambil satu, tangannya tanpa sengaja menyentuh tangan orang lain.
Refleks, ia menariknya. Kaget.
Laki-laki itu juga terdiam. Kurus, tinggi, berseragam lusuh buruh pabrik. Wajahnya letih, tapi tidak muram. Justru... ada senyum kecil di bibirnya. Bukan senyum yang dibuat-buat. Tapi senyum seseorang yang-meski lelah-tetap memilih hidup dengan baik.
"Maaf," katanya pelan. Suaranya serak tapi hangat. "Silakan duluan."
Raisa mengangguk singkat. Mengambil susunya, lalu berjalan ke kasir tanpa berkata apa pun. Tapi... langkahnya melambat. Entah kenapa. Seolah ada magnet tak terlihat.
Ia menoleh pelan.
Pria itu masih berdiri di depan lemari pendingin. Melihat-lihat, tidak terburu-buru. Tidak memperhatikan dirinya. Tapi... keberadaannya terasa berbeda. Tidak menghakimi. Tidak mengincar. Tidak memaksa.
Hanya... ada.
Dan untuk pertama kalinya hari itu-di antara semua yang hancur dan menyakitkan-Raisa merasa dilihat. Bukan karena penampilan. Bukan karena nama belakangnya. Tapi karena... dirinya.
Ia tidak tahu siapa nama pria itu. Tidak tahu dari mana asalnya. Tidak tahu apakah akan bertemu lagi.
Rumah tanpa Suara
Tidak ada suara di rumah itu.
Tidak ada langkah kaki di lorong. Tidak ada pintu yang terbuka. Tidak ada percakapan pagi yang dulu mengisi ruang makan dengan tawa ringan. Hanya denting sendok di cangkir kopi dan deru halus AC yang terus berhembus tanpa emosi.
Raisa duduk di sofa ruang tengah, mengenakan pakaian tidur berbahan satin yang terlalu mewah untuk kesendiriannya. Televisi menyala, tapi ia tak benar-benar menontonnya. Hanya cahaya yang berganti-ganti, menyapu wajahnya yang kosong.
Jam menunjukkan pukul 09.24 pagi. Ia belum makan.
Di sudut ruangan, lukisan besar karya pelukis Bali masih tergantung, hadiah dari masa lalu yang kini terasa seperti benda asing. Di atas meja kopi, ada majalah mode edisi terbaru, belum dibuka dari plastiknya. Tak ada lagi semangat membuka halaman-halaman yang dulu sangat ia nantikan.
Semua terasa hampa.
Bahkan wangi bunga dari vas di meja pun tak lagi memberi makna. Hanya pengingat bahwa sesuatu di rumah ini masih hidup-selain dirinya yang terus bernapas, entah untuk apa.
Ia memejamkan mata, mengingat kembali pertemuan kemarin dengan pria di minimarket. Hanya sesaat. Tapi... mengapa bayangan itu sulit hilang? Mungkin karena tatapan matanya. Atau caranya bicara pelan, seperti tidak ingin menyakiti dunia.
Tapi ia segera menepis pikiran itu.
"Jangan mulai berharap, Raisa. Kau sudah tahu akhirnya."
Ia mengambil ponsel, melihat daftar panggilan. Beberapa nama dari kolega wanita, undangan acara sosial, pesan-pesan basa-basi dari orang yang sebenarnya tidak pernah benar-benar peduli. Ia tak membalas satu pun. Ponsel ia letakkan terbalik.
Lalu, ia berdiri. Melangkah ke balkon, memandangi kota dari kejauhan. Jakarta masih riuh. Masih sibuk. Dunia masih bergerak, seolah tidak tahu betapa hidupnya berhenti sejak tiga tahun lalu.
Hanya ada satu rutinitas yang masih membuatnya merasa manusia: pergi ke pusat kebugaran.
Itu bukan tentang tubuh. Tapi tentang disiplin. Tentang membuat dirinya bergerak, saat hatinya mati.
Sore itu ia ke sana, berolahraga, menyapa pelatih dengan senyum palsu. Semua tahu siapa dia. Tapi tak satu pun tahu apa yang ia simpan.
Setelah itu ia pulang. Mandi. Menyisir rambutnya yang panjang dengan perlahan. Duduk lagi di sofa. Menyalakan lilin aromaterapi.
Lalu diam lagi.
Malam kembali datang.
Ia kembali tidur di ranjang yang terlalu luas, di sisi yang sama sejak ditinggalkan. Bantal di sebelahnya tetap bersih. Tak pernah disentuh siapa pun sejak hari itu.
Sebelum tidur, ia menulis satu kalimat di jurnal kulit cokelat tua yang selalu ia simpan di laci:
"Aku masih kuat. Tapi untuk apa?"