Lima

1092 Words
"Lain kali lo jangan cari William kalau minta bantuan! Janji May?" kata Sia penuh penekanan. Masih ingat dalam ingatannya sesampainya di rumah kemarin. Lia masuk ke dalam kamarnya dengan mata penuh kebencian. "Jauhin William. Jangan buat dia susah kaya lo yang udah nyusahin mama." Diam. Sia memilih tidak menjawab dan meletakkan ranselnya. Belum lima menit ia berada di dalam kamarnya, tapi Lia yang melihat kepulangannya langsung menyusulnya ke dalam kamar. "Gue tau. Lo nggak usah khawatir. Gue bisa urus diri gue sendiri." Sambil menahan amarah di dalam dirinya, Sia melewati tubuh Lia dan menarik pintu kamarnya lebih lebar. "Sekarang lo bisa keluar dari kamar gue. Gue capek." Lia mendengus lalu melangkah keluar dari kamar Sia tanpa berkata apa-apa. Perlahan Sia menutup pintu kamarnya dan jatuh terduduk di balik pintu kamarnya. Ia memejamkan matanya sejenak. Sakit. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana kondisi hatinya saat ini. Padahal sejak kecil Sia sudah berusaha untuk kuat. Namun tetap saja setiap kata sinis yang kelaur dari bibir Lia seperti duri yang terus menusuk hatinya berulang kali tanpa menunggu lukanya mengering. "Iya, iya. Habis waktu itu gue panik banget. Takut Melky kasarin lo. Kebetulan pas gue lagi cari sosok kakak lo, eh...William panggil gue. Cepet-cepet deh tuh gue minta bantuan dia. Brilian kan ide gue, Si?" tanya Maya bangga akan kemampuannya. "Brilian pala lo! Lo tau kan May, Lia itu kayak apa. Jadi gue harap kejadian kayak kemarin nggak terulang lagi. Lagian gue masih mampu ngadepin Melky." Maya memandang temannya dalam diam. Dia tahu dengan baik bagaimana sikap Lia kepada adiknya itu. Aneh memang tapi itulah kenyataan. Yang tidak Maya mengerti adalah alasan kebencian Lia kepada adiknya sendiri. Padahal salah Sia apa? Dia hanya berusaha menjadi diri sendiri. "Permisi, kamu Sia ya?" tanya seorang perempuan manis dengan rambut hitamnya yang panjang. Well, Sia juga panjang rambutnya tapi nggak keurus. Berbeda dengan gadis ini. "Iya," jawabnya singkat meski di dalam kepalanya sedang berpikir siapa gerangan gadis ini. "Mantannya Melky?" "Eh? I-iya.." Detik berikutnya senyum lebar terpatri di bibirnya lalu ia menyodorkan sebelah tangannya. "Kenalkan nama gue Flora. Gue dari kelas sepuluh satu." Sia memandang tangan tersebut sebelum menyambutnya. "Sia." "Boleh gue berteman sama lo?" Kerutan di dahi Sia membuktikan jika dirinya sedikit bingung dengan sikap gadis yang sangat to the point ini. "Boleh..." Tanpa meminta izin, Flora langsung duduk di salah satu bangku kosong yang ada di meja Sia dan Maya. Lalu ia melirik Maya dan mereka pun berkenalan. Kantin yang penuh keramaian di jam istirahat ini membuat keramaian yang memenuhi tempat ini. Namun tidak dengan tiga gadis itu. Masing-masing masih terdiam. "Okay! Jadi karena sekarang kita berteman, gue langsung aja ya. Gue suka sama Melky. Dan gue denger lo mantannya, jadi gue mau minta bantuan lo buat deketin Melky." "Hah?" Maya yang di sisi Sia juga tidak kalah terkejutnya. Bibirnya terbuka lebar. Namun tak ada suara seperti Sia yang kali ini menampakkan kebodohannya lagi. Sedangkan Flora memandang kedua teman barunya dengan pandangan bingung. "Ada yang salah sama permintaan gue?" tanyanya heran. "Nggak sih. Cuma lo yakin? Kenapa harus Melky? Kenapa nggak cowok lain?" "Astaga Sia! Melky itu tampan dan keren! Gue malahan nggak ngerti kenapa lo putus sama Melky!" Maya yang mendengarnya cuma bisa menggelengkan kepalanya. Semua yang tidak mengenal Melky cuma melihat ketampanannya saja. Tapi jangan salah, tampan di wajah belum tentu tampan hatinya juga. Dan Melky adalah salah satu spesies seperti itu. "Okay. Jadi apa yang mau lo tahu?" tanya Sia yang ingin cepat-cepat keluar dari topik ini. "Penyebab lo putus sama dia," jawab Flora. "Hey! Itu tidak ada hubungannya," celetuk Maya. "Masalah buat lo? Lagian gue kan nanya Sia, bukan lo. Kenapa lo yang marah-marah?" balas Flora. Jika bukan di kantin, rasanya Maya ingin menjambak rambut gadis ini. "Flo, menurut gue pertanyaan ini nggak ada hubungannya sama keinginan lo tadi." Flora menatap lurus Sia. "Gue cuma nanya. Kalau gue tahu apa penyebab kalian putus, gue nggak akan buat kesalahan yang sama seperti yang dulu lakuin ke Melky." Sia menarik nafas panjang. "Kalau begitu, sorry kayaknya gue nggak bisa bantu lo." Untungnya bel masuk telah berbunyi. Menyelamatkan Sia dari pembicaraannya dengan perempuan aneh seperti Flora. *** Sepulang sekolah, Maya pamit lebih dulu. Ibunya menyuruhnya untuk ke supermarket. Jadilah akhirnya Sia berjalan seorang diri. "Sia!" Panggilan itu membuat Sia menoleh dan ia mendapati Flora yang sedang berlari kecil menuju ke tempatnya berdiri. "Untung keburu," ujarnya disela-sela terengah-engahnya. "Kalau maksud lo bertanya soal yang tadi, gue nggak bisa bantuin lo. Sorry Flo," ucap Sia dan kembali melanjutkan langkahnya. "Bukan! Gue nggak bakalan nanya soal itu lagi. Gue tau gue salah. Tapi lo tetep mau temenan ma gue kan?" "Selama lo penurut kaya Maya, gue nggak masalah." "Penurut?" "Iya," jawab sambil terkekeh. "Maya itu penurut. Oon dikit tapi dia temen terbaik gue." Flora mengangguk mengerti. "Okay. No problem." Mereka pun berjalan beriringan diiringi obrolan kecil. Tiba-tiba sebuah motor putih berhenti di depan mereka. "Hey, Si," sapa William dengan senyum tipisnya yang meski rambutnya basah akibat keringat tapi itu malahan membuat William tampak semakin menarik di mata Sia. Astaga! Hentikan cara memandangmu itu Sia! Tegur batinnya. "Hey..." jawabnya singkat. Masih ingat ucapan Lia di dalam benaknya. "Mau pulang?" Sia mengangguk. "Ayo gue anter." "Nggak usah," jawab Sia cepat. Terlalu cepat malahan. "Kenapa? Gue tau lo adiknya Lia. Jadi gue tau rumah lo. Ayo naik!" William menepuk jok dibelakangnya. Pandangan mata Sia penuh pertanyaan. Seolah-olah mencari sosok Lia yang biasa duduk di sana. "Tenang aja. Lia ada urusan dengan team basket puteri," kata William yang seakan bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Sia. "Nggak usah. Gue balik bareng temen kok." Cepat-cepat Sia merangkul bahu Flora. "Iya kan Flo?" Ketika memandang Flora, Sia membesarkan kedua matanya. Memberikan signal pada gadis itu. "I-iya." William memandang keduanya. "Okay." Kemudian ia pun berlalu dari tempat Sia. Gadis itu menarik nafas lega. "Lo kenal dia?" Suara Flo menyadarkan Sia. "Cuma kenal gitu aja." "Astaga Si! Kenapa cowok ganteng pada nempel sama lo? Lo pake magnet ya buat narik mereka?" Sia berdecak kesal. "Terserah lo aja." Ia kembali melangkah untuk menuju halte di mana ia biasa menunggu bisnya. "Kalau gitu nanti kenalin gue ya." Tanpa menghiraukan permintaan Flora, mereka pun berpisah karena kenyataannya rumah mereka berlawanan arah. Dan ketika Sia hampir tiba di halte, langkahnya berhenti. Pandangan matanya menangkap sosok William yang duduk di atas motornya. Laki-laki itu tersenyum. "Ayo naik," ajaknya. Hanya sebuah ajakan namun cukup membuat Sia terdiam di tempatnya. Darahnya berdesir di seluruh tubuhnya. Mengapa hanya melihat sosoknya saja sudah membuat tubuh Sia mengalami perubahan seperti ini? Dan senyum itu, selalu berhasil menghangatkan hati Sia yang selama ini terasa dingin. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD