Bab 10. Makhluk yang Menanti Pangeran (2)

1644 Words
Tidak ada apapun yang menghalangi perjalanan mereka kembali ke penginapan, mereka kembali ke penginapan dengan selamat. Meskipun benar bahwa saar perjalanan terdapat kabut, namun kabut itu tidaklah beracun dan tidak terlalu tebal, entah itu karena belum lama malam jadi kabut itu tidak terlalu tebal. Keesokan paginya, saat mereka turun ke lantai bawah penginapan, terdengar beberapa orang yang ribut di luar penginapan. Tanpa menunggu lama lagi, Lasse dan Witty segera berjalan menuju tempat keributan tersebut. Banyak orang berkerumun sehingga mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi, dan diantara kerumunan itu ada pria 'taruhan' yang kemarin malam ada di Rumah Makan bersama mereka, Pria 'taruhan' itu mengenalinya, "Oh Nona! Kamu selamat ya!" ucapannya terdengar kasar namun yang mendengarnya tahu bahwa terselip nada senang di ucapannya. Witty tersenyum dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Pria itu menjawab dengan muram, "Ada dua mayat baru hari ini, sepertinya mereka adalah pengembara yang datang tadi malam dan tidak tahu tentang monster yang mendiami desa kami. Sungguh sial nasib kedua orang itu." Mendengar itu, Lasse mengikuti Witty yang menyusup masuk ke kerumunan untuk melihat mayat kedua pengembara itu. Kedua mayat itu laki-laki, tidak di ketahui berumur berapa karena kulitnya yang keriput dan menghitam. Seperti yang dikatakan pria-pria di Rumah Makan, daging dan darah mereka tidak ada, hanya menyisakan kulit membungkus tulang, mata dan mulut mereka terbuka lebar. Ada pedang di pinggang kedua mayat itu, sepertinya mereka adalah pendekar pedang. Witty berjongkok di samping kedua mayat itu dan memeriksanya dengan teliti, Lasse memerhatikan disampingnya, nampak serius. Kedua mayat itu nampak bersih tidak terluka oleh apapun, dan tidak ada keanehan yang terlihat kecuali tubuh fisik mereka yang menyusut. Beralih ke mayat lainnya, hal yang sama berlaku, tidak ada keanehan apapun. Sebernarnya apa yang terjadi dengan orang-orang ini? Lasse membantu meneliti mayat satunya dengan baik, dia membuka sepatu, menggulung celana panjang mereka dan lengan pakaian, membuka kancing pakaian, dan hal lainnya. Orang-orang yang melihatnya hanya bisa mengernyit jijik, namun tidak berani menegur. Pantas saja mereka menyebut mayat ini membusuk semalam, karena kulit ini begitu hitang namun tidak berbau busuk, mungkin terlihat seperti penuaan kulit. Jika dilihat memang tidak ada apapun, namun setelah cukup lama Lasse meliat satu titik pencerahan. Di telapak kaki mereka terdapat dua titik kecil seperti gigitan ular, jika tidak dipehatikan dengan teliti, mereka tidak akan pernah di temukan, karena kulit mereka menghitam jadi gigitan itu nyaris tak kentara. "Kakak, lihatlah ini," Lasse menunjuk ke tempat gigitan itu. Witty pun melihatnya dengan terheran-heran, Lasse juga merasa heran, bagaimana gigitan itu ada di telapak kaki mereka? Sepatu yang merka cukup tebal, meskipun berhasil menggigit pasti akan meninggalkan lubang bekas gigitan di sepatunya, namun sepatu itu bersih. Cukup lama mereka mengamati, namun tidak menemukan solusi yang tepat. Witty meminta warga untuk memakamkan kedua mayat itu dengan layak, setelahnya mereka pergi dari sana. "Nona, kereta sudah siap." Setelah mereka masuk ternyata sudah ada kusir kuda mereka yang sedang menunggu. "Apakah Nona dan Tuan Muda ingin memakan sesuatu dulu sebelum berangkat?" Mereka bertiga berjalan menuju Rumah Makan kemarin malam untuk sarapan. Witty bertanya kepada kusir tentang monster yang dimaksud para warga desa. "Tentu Nona, memang ada yang seperti itu. Meskipun saya ragu akan kebenarannya, namun saya tidak berani mencoba keluar malam. beberapa kali saya singgah, baru kali ini saya menyaksikan langsung mayat itu." Ucap sang kusir dengan bergidik takut. Dulu, didesa ini tidak ada makhluk yang membunuh manusia seperti itu, ini terjadi beberapa bulan yang lalu saat itu baru pergantian Kepala Desa dan warga masih mampu. Pernah saat itu mereka meminta seorang pengembara untuk membasmi makhluk itu, tentu saja ada imbalannya dan pengembara itu pun menyetujui. Namun keesokan harinya, dia ditemukan tidak bernyawa di tengah jalan dengan keadaan yang tidak jauh beda dengan mayat lainnya. Mulai saat itu warga takut untuk keluar malam, dan mereka semakin miskin sehingga tidak memanggil orang lain lagi. "Itulah yang saya dengar dari perbincangan warga sekitar. Saya tidak dapat membantu karena bukan ahli sihir atau pendekar dan hanya bisa mendoakan desa ini agar segera bebas dari makhluk itu." Mereka sampai di Rumah Makan, keadaan tidak berbeda jauh dengan kemarin, masih sepi, bahkan sekarang tidak ada orang disana. Mereka bertiga duduk di salah satu meja dan satu pelayan menghampiri mereka. "Selamat pagi, ternyata kalian selamat sampai tujuan dengan selamat kemarin ya. Bagaimana dengan hidangan hari ini?" Beberapa saat berlalu ketika pelayan itu pergi, namun dirinya kembali lagi dengan beberapa makan ringan. "Apa kalian sudah mendengar dengan mayat baru yang di temukan pagi ini?" Tanya pelayan itu sembari menuangkan air ke gelas mereka satu persatu, "Aku tidak melihatnya, tapi mereka bilang itu adalah dua mayat pengembara." Witty, "Iya, kami sudah melihatnya. Lebih tepatnya mereka adalah pendekar pedang." "Pendekar pedang? Astaga, bahkan pendekar pedang tidak mampu mengalahkan monster itu, bagaimana kehidupan kami selanjutnya? Hanya Langit yang tahu." Di kepala Lasse sekarang sedang sibuk untuk memecahkan misteri makhluk yang mengancam nyawa di desa ini. Meskipun dia berpikir keras, bagaimanapun juga dia baru sampai di dunia ini dan tidak mengetahui apapun. Dia tidak mendengarkan obrolan mereka dengan baik karena sakit kepala yang dideritanya. Setelah pelayan itu pergi, Lasse yang masih sakit kepala bertanya kepada Witty, "Kak, apa kita akan menyelidiki makhluk itu atau pergi melanjutkan perjalanan?" Menyadari ada yang salah dengan Lasse, Witty tidak menjawab pertanyaannya dan melontarkan kembali pertanyaan, "Ada apa, Lasse? Apa kamu sakit?" Suaranya memang sedikit serak dan lemah, dia memang pusing tapi bukan karena sakit. Dia baik-baik saja tadi pagi saat akan pergi ke Rumah Makan, namun entah bagaimana saat Witty menanyakan keadaannya, dia langsung tidak enak badan. "Tidak, tidak kak, Lasse baik-baik saja. Hanya sedikit sakit kepala, itu tidak berarti apapun." Witty memegang dahinya, mengecek suhu badannya. Badan Lasse bersuhu normal, tidak terlalu panas atau dingin, hanya wajahnya yang sedikit pucat. "Berikan tanganmu, aku akan mengecek nadi milikmu." Setelah mengecek nadinya pun baik-baik saja. Baru saat itu Witty menghela nafas, namun masih ada kekhawatiran di wajahnya. Lasse berulang kali bilang bahwa dirinya baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. "Kakak akan menyelidiki kasus ini?" Tanya Lasse lagi, kali ini dia mendapat anggukan dari Witty. "Ya, aku tidak bisa membiarkan banyak orang yang tidak bersalah mati." Sang kusir bertanya dengan canggung, "Lalu Nona, bagaimana dengan perjalanannya?" Witty akan membayar lebih untuk kusir, dia hanya perrlu menunggu sampai makhluk itu bisa di singkirkan. Kusir tidak kuasa menolak permohonan pelanggannya dan menyetujui dengan sedikit enggan. Malam harinya mereka tidak pergi ke penginapan dan malah berkeliling desa. Sebelumnya mereka sudah mempersiapkan beberapa barang, kertas mantra, dan perlindungan diri. Awalnya Witty menolak Lasse untuk ikut karena cukup berbahaya dan dia tidak mau Lasse terluka, namun Lasse keras kepala dan ingin mengetahui makhluk apa yang meneror desa ini. Witty tidak bisa lagi menolak dan akhirnya membiarkan Lasse ikut dengan syarat dia harus selalu berada di dekatnya. Beberapa jam sudah berlalu dan waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam, kabut pun mulai perlahan menebal hingga jalanan tidak terlihat. Sejauh ini tidak ada bahaya yang mengancam, kabut yang katanya beracun itu tidak berbahaya untuk saat ini hanya menghalangi pandangannya saja. Lasse yang ada di belakang Witty mulai merasakan sakit di kepalanya semakin parah, nafasnya mulai tidak teratur, dia terbatuk beberapa kali. Setelah dia tidak terbatuk lagi, ketika melihat ke depan, Witty sudah menghilang dari pandangannya. Tidak ada apapun yang dapat dilihatnya. Sudah berkali-kali dia memanggil namun tidak ada jawaban dari yang bersangkutan. Nafasnya semakin sesak, kakinya semakin lama semakin lemas. Ketika dia menurunkan pandangannya kebawah, ke kakinya, dia melihat sesuatu yang menggeliat hampir menyentuh kakinya. Dia langsung melompat menjauh dari 'sesuatu' itu. Terbatuk-batuk kembali, dia akhirnya terjatuh ke tanah dengan satu kaki masih menopang badannya. Batuknya sangat parah sekarang, hampir tidak berhenti. Ketika melihat kedepan dia melihat bayangan yang sangat besar. Dia mungkin akan mengira bahwa bayangan itu Witty jika tubuhnya tidak sebesar itu. Dengan kertas mantra pemberian Witty, dia melemparkannya ke bayangan itu. Namun belum juga sampar, kertas mantra itu sudah terbakar hangus menjadi abu, efeknya hanya menghentikan makhluk itu sejenak. Lasse memaksakan diri untuk berdiri dan berlari menjauhi makhluk itu sembari melempar beberpa kertas mantra. Dia tidak tahu sudah sejauh mana dia berlari dengan batuk yang tidak berhenti, ketika melihat ke belakangn bayangan itu sudah tidak mengikutinya lagi. Akhirnya dia berhenti berlari dan mengambil nafas, hanya untuk terbatuk kembali. Sebenarnya apa yang terjadi denganku?! Tenggorakan dan dadanya sakit karena terus terbatuk, dia terus berjalan menyelusuri jalanan didepannya sampai pada dia melihat sebuah siluet seseorang yang sedang berdiri diam didepannya. Dia memanggil namanya dengan suara yang sangat familiar di telinganya. "Lasse! Lasse!" Suara itu adalah suara Witty! Lasse hampir berlari menghampirinya namun saat dia bergerak satu langkah, langkahnya terhenti. Hatinya meragu untuk menghampiri Witty, ada yang tidak beres. Lasse mengerti, arahnya salah! Saat ada 'sesuatu' saat dirinya berpisah dengan Witty, jelas dia berlari kearah yang sebaliknya dari mereka berjalan ke depan, seharusnya dia tidak akan bertemu dengan Witty ketika dia melarikan diri dari 'sesuatu' itu. Mungkin ada alasan lain, yaitu dirinya tersesat, tapi alasan itu bisa ditampikkan karena jalanan desa yang dilaluinya dengan Witty lurus. Lasse masih ingat jalanan di desa, meskipun keadaan sekitar tidak bisa dilihat namun beberapa benda yang ada di pinggir jalan atau di tengah jalan, masih diingatnya dengan cukup baik. Jika dia terus mengambil rute jalan ini lurus ke depan, dia akan sampai pada rumah makan, tempat dirinya dan witty makan. Lasse masih terdiam di tempat dengan terus memerhatikan siluet itu dengan seksama, masih berdiam disana dengan terus memanggil namanya. Sikapnya juga sangat aneh, jika dia yang mencari seseorang, tentunya dia akan terus memanggil dan terus bergerak untuk mencari, itu naluri manusia. Namun siluet itu berbeda, dia terus memanggil tapi masih diam ditempat. Ayolah, meskipun badan Lasse kecil tapi jiwanya bukan jiwa anak kecil yang akan menangis memeluk orang didepan, ya kan? Mungkin merasa di acuhkan, siluet itu menghilang ditelan kabut. Namun sebelum menghela nafas lega, dirinya kembali tertegun dan berdiam seperti patung. Lasse melihat kebawah dan sebuah tangan memegang kakinya dengan erat. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD