Ternyata Wanita itu adalah

1272 Words
‘’Sayang, aku berangkat dulu ke kantor ya,’’ pamit Mas Deno sambil meraih tas hitam miliknya, lalu bergegas melangkah ke luar. Seperti biasa aku mengantar ke depan hingga teras rumah. Tak lupa juga aku meraih tangannya lantas mengecup punggung tangan suami untuk takdzim. Aku tersenyum simpul dan mengangguk. Aku berusaha untuk bersikap seperti biasanya, walaupun sakit hatiku terlalu dalam ketika mengetahui perselingkuhan Mas Deno. Demi menjalankan sebuah rencana besar. ‘’Hati-hati, Mas,’’ sahutku kemudian menatapnya yang kini telah memasuki mobil. Dia mengangguk sambil tersenyum. Senyumannya yang dulu begitu aku rindukan dan selalu aku nantikan. Kini? Senyumnya membuat hatiku makin teriris sejak perselingkuhannya terungkap. ‘’Begitu pandainya kamu menutupi kebusukanmu selama ini, Mas. Berpura-pura setia ternyata kamu selama ini!’’ gumamku sambil menyunggingkan bibir. Aku menatap mobilnya yang sudah mulai jauh melaju. Dia membunyikan klakson untuk pamit padaku seperti biasa. Lalu membuka kaca mobil dan menatapku dengan seulas senyuman. Cuih! Sandiwaramu sungguh luar biasa patut kuacungi jempol kaki. Aku terpaksa memberikan senyuman paksa lalu melambaikan tangan, mobilnya pun sudah hilang dari pekarangan rumah. Aku sungguh lega rasanya setelah berpura-pura bermanis muka terhadap Mas Deno. Aku mengunci pagar terlebih dahulu lantas melangkah memasuki rumah. Oh iya, putriku sejak tadi pagi aku biarkan terlelap di kamar. Bergegas aku menemuinya. ‘’Duuhh! Anak Mama ternyata udah bangun ya, Sayang?’’ Kudapati putriku sudah terduduk sambil mengusap pupil matanya, untung saja dia tak menangis. ‘’Mama.’’ ‘’Iya, Sayang. Adik mandi dulu ya? Setelah itu baru kita sarapan,’’ sahutku tersenyum sambil duduk di sampingnya. ‘’Papa, Ma?’’ ‘’Papa Adik kerja untuk kita.’’ Membuatku tersenyum mendengar ucapan putriku sekaligus juga teriris hati ini. Bagaimana jika Mas Deno memilih pergi bersama selingkuhannya? Tak terbayangkan olehku bagaimana nasib putriku. Karena dia sangat dekat sekali dengan papanya. ‘’Kok nggak minta ijin dulu sama Adik?’’ ucapnya dengan logat anak kecil. ‘’Adik tidur, Nak. Jadi Papa kasihan buat bangunin Adik,’’ sahutku dengan tenang. Kupandangi wajah mungilnya seperti ada kekecewaan yang muncul di sana. Apa memang benar Mas Deno sebelum pergi kerja tak mengecup kening Naisya seperti biasa. Apa segitu terburu-burunya dia berangkat ke kantor hingga tak sempat untuk mengecup kening Naisya? Atau dia sengaja, karena ingin ketemu dengan si perempuan murahan itu? ‘’Aku harus melakukan sesuatu,’’ gumamku. ** ‘’Bibi!’’ panggilku seketika. Sebenarnya aku punya ART tetapi jarang aku bolehkan memasak, karena suamiku lebih suka aku yang memasak. ‘’Ada apa, Bu?’’ Bibi Sum tergopoh-gopoh menghampiriku. ‘’Bi, Bibi pernah liat sesuatu yang mencurigakan ngga dari Bapak? Atau menelpon tengah malam gitu?’’ tanyaku to the point. Seketika dia terdiam seperti tengah berpikir. ‘’Pernah, sih Bu. Tengah malam terdengar Bapak menelpon di dapur, Bibi kaget karena udah larut malam. Bibi kira siapa, eh tau-taunya Bapak.’’ Jleb! Apa si pelakor itu yang menelpon tengah malam dengan suamiku? Hatiku makin terasa tak enak. ‘’Emang kenapa, Bu?’’ ‘’E—enggak kok, Bi. Aku ingin tau aja. Soalnya Bapak pernah nggak ada di kamar waktu itu, padahal udah malam banget. Aku pikir Bapak ke mana.’’ ‘’Eh, ternyata kata Bibi malah menelpon di luar. Takut akunya keganggu kali ya, Bi?’’ kilahku mencoba untuk baik-baik saja. Bibi Sum menatapku, aku memalingkan muka sejenak berpura-pura sibuk merapikan baju Naisya. ‘’Syukurlah, Bu. Kalo ada apa-apa bilang aja sama Bibi ya? Jangan sungkan, Bu.’’ Aku mengangguk lantas mencoba untuk tersenyum. ‘’Ya udah Bibi lanjut kerja dulu ya, Bu?’’ Bibi Sum menunduk. Lantas aku mengangguk dan tersenyum. Bibi Sum pun hilang dari pandanganku. Mataku beralih memandang Naisya yang asyik bermain dengan boneka barbinya. ‘’Sayang, Adik laper kan?’’ Dia membalas dengan anggukan. Aku bergegas menggendong Naisya ke ruang makan. Langsung membuatkan s**u botol untuknya, karena hingga saat ini dia masih meminum s**u botol dan roti sebagai tambahannya. Naisya menungguku di kursi sedangkan aku sibuk membuatkan s**u botol untuknya. Selalu terbayang olehku isi pesan si pelakor itu. Membuat hatiku remuk redam. Air mataku lolos seketika. Kuseka dengan kasar. ‘’Aku bodoh! Menangisi lelaki b******k kayak dia! Air mataku malah sia-sia jadinya!’’ gumamku tak berhentinya menyeka air mataku dengan kasar. Ternyata Naisya memandangiku sedari tadi. ‘’Ma,’’ panggilnya lirih. ‘’Eh, iya , Sayang. Nih susunya udah jadi.’’ Aku bergegas membawa botol yang berisi s**u ke tempat Naisya duduk. Tangan mungilnya itu bergegas meraih botol yang kusodorkan dan langsung meneguknya. ‘’Mama harus kuat demimu, Nak,’’ gumamku sambil menatap Naisya yang sibuk meneguk s**u botolnya. Hatiku hancur berkeping-keping jika teringat isi pesan w************n itu. Sungguh keterlaluan kamu, Mas! ** Aku mengajak putriku ke kamar. Bergegas aku menuntunnya melangkah. Setibanya di kamar aku memberikan kue dan meletakkan mainan di depan Naisya supaya dia bisa duduk dengan tenang. Aku bergegas meraih benda pipih yang terletak di tempat tidur. Lantas menekan kontak seseorang. Berdering. ‘’Wa’alaikumussalam, Fan. Kamu sedang sibuk nggak?’’ ‘’Eh, enggak kok, Nel. Tumben kamu nelpon aku.’’ Suaranya di seberang sana. ‘’Aku takut ngangguin kamu kerja, makanya aku nggak pernah nelpon kamu.’’ ‘’Kamu mah, Nel. Aku nggak sesibuk itu juga kali. By the way, ada yang mau aku bantu?’’ ‘’Siapa tahu kan, Fan. Kamu kan kerja kantoran pasti sibuklah ya. Beda dengan aku, ya kan?’’ Aku tertawa kecil. ‘’Fan, di kantor ada perempuan bernama Chika, nggak?’’ Mas Deno dan Fani bekerja di kantor yang sama. Siapa tahu Fani tahu dan kenal sama si pelakor itu. ‘’Oh, Chika? Ada, dia sekretarisnya Deno, suami kamu.’’ Jleb! Sekretaris? Aku sungguh terperanjat mendengar ucapan Fani barusan. Terdengar lirih tetapi menusuk di hatiku ini. ‘’Emang kenapa, Nel?’’ ‘’Kamu punya nomer WA-nya kan? Minta dong.’’ Aku memberanikan diri untuk meminta nomor ponsel si pelakor itu untuk menyusun semua rencanaku. ‘’Buat apa, Nel? Kamu cemburu sama dia? Dia cuma sekretaris Deno kok, nggak lebih.’’ ‘’Kamu nggak akan tahu, Fan. Kalo nggak ada bukti perselingkuhannya, aku nggak akan kayak gini!’’ batinku kesal. ‘’Aku pengen kenalan aja sama dia, biar lebih dekat. Apa salahnya sih aku meminta nomor WA-nya?’’ sahutku kesal dan mencoba untuk bersikap baik-baik saja. ‘’Jangan ngambek dong, Nel. Maksud aku tuh nanti kamu malah nuduh yang enggak-enggak ke Chika lagi.’’ ‘’Suamimu itu nyari nafkah untuk kamu dan anakmu loh. Jadi saranku jangan su’uzon ya sama Deno,’’ tambah Fani yang membuat dadaku semakin panas. Dia tak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi di keluarga kecilku. Bagaimana jika itu terjadi padanya? Aku menghela napas pelan. ‘’Kamu tahu kan gimana aku?’’ tanyaku ketus. Tanpa menanggapi ucapannya. ‘’Oke deh, aku kirimkan nanti ya? Ya udah, aku mau lanjut kerja dulu.’’ ‘’Sip! Jangan lupa ya? Lanjutkan kerja kamu, maaf aku menganggu, Fan. Assalamua’laikum.’’ Belum dijawabnya aku bergegas memutuskan sambungan sepihak. Aku tak habis pikir dengan perubahan sikap Fani saat ini padaku. Seketika benda pipihku berdering tanda ada pesan masuk dari aplikasi hijau itu. Ternyata benar pesan dari Fani. Tampak Fani mengirimkan nomor si pelakor itu. Aku langsung menyimpan nomor wanita itu dengan nama P saja. Oke, aku akan menjalankan semua rencanaku dengan pelan-pelan. Kupandangi Naisya masih asyik bermain sambil mengemil kuenya yang masih tersisa. Aku meminta bantuan Bibi Sum untuk membeli kartu demi menjalankan semua rencana besarku. Tak berselang lama Bibi sudah pulang dan memasuki kamarku. ‘’Ini, Bu. Oh ya, Bibi lupa nanyain berapa pulsanya. Bibi belikan aja deh semuanya,’’ ucapnya tersenyum yang tengah menyodorkan kartu. Aku tertawa kecil. ’’Nggak apa-apa kok, Bi. Makasih banyak ya,’’ ‘’Sama-sama, Bu. Kalo gitu Bibi lanjut kerja dulu.’’ Seketika si bibi melangkah. ‘’Tunggu, Bi!’’ Bibi Sum pun menoleh. ‘’Iya, Bu?’’ ‘’By the way, kartunya udah diaktifkan langsung kan?’’ ‘’Udah kok, Bu.’’ ‘’Ya udah, makasih sekali lagi ya, Bi.’’ Bibi Sum mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya. ‘’Rencanaku harus berjalan dengan mulus!’’ gumamku tersenyum sinis memandangi kedua kartu di tanganku. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD