Tidak ada yang berbeda dengan keberangkatan Rama kali ini ke kota. Tetap sendirian, seperti hari-hari biasanya. Padahal ia sempat mengkhayal kalau hari ini bisa pergi bersama Caca. Tapi, semuanya sirna, ia tetap pergi sendiri karena Caca sedang menjaga jarak darinya. Jangankan untuk ikut, berbicara saja Caca sudah enggan. Bahkan, ketika ia berpamitan tadi, Caca hanya bungkam. Ia juga memilih untuk diam di rumah daripada menanti Rama di rumah kedua orang tuanya. Caca mengatakan malas kemana-mana dan tidak ingin diganggu siapa-siapa. Selama perjalanan, Rama tidak pernah berhenti memikirkan bagaimana caranya agar Caca mau kembali seperti semula. Setidaknya mau diajak berbicara. Meskipun tidak dekat seperti dulu. Jujur saja, Rama benar-benar sangat merindukan sosok istrinya yang waktu itu.

