CANDY
Kupikirkan kembali apa yang kudapatkan di rumah Farah. Dia meninggal. Dia depresi. Dia bunuh diri. Dia capek. Dia di-bully. Kejahatan besar yang seharusnya dihentikan. Kejahatan yang seharusnya dimusnahkan. Kejahatan paling besar yang direncanakan secara bersama-sama.
Aku tahu bagaimana rasanya. Seperti Farah, mereka juga mencaciku karena menganggap Mamaku gila. Mereka mengejekku dan menganggap aku juga gila. Padahal mereka tidak tahu bagaimana cerita sebenarnya. Mereka menghakimi orang yang tidak pernah menyakiti mereka. Mengapa bullying harus ada hingga menyebabkan korban?
Aku memang sering kesal, sedih, capek, segalanya. Tidak jarang aku berusaha mengakhiri hidupku, tapi Tuhan selalu menyelamatkanku. Kalau dari yang k****a di jurnal Mama, dia memiliki kesamaan denganku. Tapi aku tidak menganggapnya gila. Aku tidak menganggap diriku gila juga.
Mama juga korban bullying, tapi aku tidak tahu mengapa. Ketika k****a jurnalnya pun dia belum mengatakan masalah yang membuat semua orang mencaci dan menjauhinya. Satu-satunya cara mengetahuinya hanyalah menemukan seseorang yang diceritakan Mama. Orang yang pernah membuatnya bahagia sekaligus meninggalkannya. Aku tidak percaya orang itu meninggalkan Mama karena capek mengurusi Mama. Kalau dia benar-benar tulus, dia tidak akan memiliki pikiran seperti itu. Kurasa ada alasan lain yang membuatnya pergi meninggalkan Mama.
Selain dia, aku harus menemukan dokter Diana juga. Psikiater Mama yang saat ini keberadaannya entah di mana. Andai saja ada yang membantuku saat ini. Apakah aku minta Dirga untuk menemaniku? Tapi dia sibuk. Aku tidak bisa mengganggu aktivitasnya saat ini.
Saat ini aku masih sibuk membaca jurnal Mama di bangku taman. Banyak hal yang sama antara aku dengan Mama. Tapi aku belum bisa memecahkan apa yang terjadi sebenarnya. Apakah aku benar-benar mengalami gangguan? Aku harus mencari psikiater untuk mencari tahu. Tapi… tidak. Aku malu dan tidak mau tahu apa yang akan dikatakan psikiater tentang diriku.
“Woops! Ada yang rajin nih!”
Tiba-tiba seseorang merebut jurnal Mama. Aku menengadah dan melihat Keke yang tersenyum miring sambil membuka-buka halaman jurnal tersebut. Aku berdiri dan berusaha merebutnya. Tapi dua teman jalangnya menahanku.
“Oh… ternyata buku harian nyokapnya Candy.” Keke tertawa keras. “Eh temen-temen! Dengerin deh curhatannya salah satu pasien rumah sakit jiwa!”
Seruan Keke mengundang perhatian. Sebisanya aku merebut jurnal itu tapi Keke bergerak menjauh sambil menatapku sinis. Aku berusaha keras menjebol benteng yang dibuat dua teman Keke, tapi mereka lebih kuat dari yang kuduga.
“Sini deh ngumpul! Aku bacain keras-keras ya!” Keke melirikku dan tersenyum mengejek. Dia merentangkan jurnal itu tinggi-tinggi dan mulai membacanya. “Pernah aku hendak dijebloskan orangtuaku ke panti rehabilitasi tapi aku selalu menolak. Aku akan pergi dari rumah tiap mereka mengancamku. Aku sudah capek harus dipaksa ini dan itu. Aku sudah capek mendengar ejekan-ejekan temanku. Aku juga sudah capek menjalani hidupku. Aku berusaha keras untuk mati, tapi tidak pernah berhasil…” Keke membuka mulutnya lebar dan menatapku hiperbolis. “Ya ampun… jangan-jangan kamu juga kayak gitu ya, Dy? Apa kamu nyoba bunuh diri? Kamu kan juga… ngg… gangguan jiwa.” Dan dia tertawa sejadi-jadinya diikuti anak lain yang berkumpul di mengitari kami.
Amarahku sudah berada di puncak kepala. Aku berusaha melepaskan diri dari pegangan dua antek-antek Keke, tapi semakin aku mencoba, semakin kuat pula mereka menahanku.
“Balikin nggak!” teriakku emosi.
“Aku lanjutin ya… ehm…” Keke menyibak rambutnya dengan gerakan hiperbolis. “Psikiaterku selalu memberikan solusi tiap aku terpuruk. Dia selalu membantuku untuk tetap tenang. Obat penenang tidak lagi ampuh. Aku selalu mencari cara lain kalau dokter Diana tidak ada di sekitarku. Aku akan—”
Seseorang merebut jurnal itu, membuat Keke kaget bukan main dan clingukan mencari orang yang berani merebut jurnal itu. Aku sedikit bernapas lega mengetahui Dirga yang merebut jurnal itu. Dia memberikannya padaku dan melirik antek-antek Keke hingga mereka melepasku.
“Kalau aku nemuin kalian ngelakuin ini sama Candy, kalian semua bakal nyesel,” Dirga menekan tiap katanya sebagai bentuk ancaman ke semua anak yang mengerubungi.
Keke menghentakkan kaki kesal. Dia beranjak menjauh diikuti dua cewek yang memegangiku dengan tatapan tajam yang dilemparkan untukku. Dirga memandangku seperti biasanya. Kemudian dia tertawa. Kurasa tidak ada yang lucu dari kejadian ini.
“Nggak biasanya kamu diem,” cemoohnya.
“Aku pengen ngehajar mereka. Tapi aku inget kata-kata Mamaku.”
“Terus dulu-dulu kemana aja?” Dirga menggelengkan kepalanya menahan tawa.
“Khilaf.”
“Candy… Candy… Kalau kamu bersikap manis dikit aja, pasti banyak yang berhenti jahatin kamu.”
Mendengar kalimat terakhir Dirga, kini aku yang tertawa. Bedanya tawaku lebih dingin. “Aku emang brutal. Aku suka bertengkar. Tapi aku sadar, aku nggak bisa ngecewain Mamaku. Dia pasti sedih kalau aku ngelanggar perintahnya. Tapi aku nggak bakal bersikap manis. Mereka bakal berbuat lebih jahat.”
“Mereka emang berlebihan. Tapi kamu nggak perlu bertindak kasar. Ya, untungnya kamu udah sadar dan mau menahan diri nggak ngajak ribut.”
Dirga tertawa melihat senyumku. Sepertinya dia suka jika aku tersenyum. Dia bahkan tampak sama saat kami masih kecil. Matanya kelihatan bersinar, dan dari ekspresinya dia menggambarkan apa yang dirasakannya saat itu. Sama seperti kami yang dulu, kami yang masih kecil, kami yang belum mengerti apa artinya rasa sakit.
“Aku kangen senyum kamu yang itu,” katanya, lantas menepuk pipiku sampai membuatku berkedip cepat.
Mendadak kuubah raut mukaku dan menghilangkan senyumku. Andai saja dia tahu apa yang kurasakan. Andai saja dia bisa memahami apa yang terjadi padaku, tentang semua perasaanku ketika aku mulai terjatuh. Namun, ketika aku mengingat bahwa Dirga berhak menentukan hidupnya sendiri tanpa adanya gangguan dariku, aku mengubur dalam-dalam pikiran itu. Rasanya tidak adil kalau dia ikut merasakan apa yang kurasakan.
Lebih-lebih, aku khawatir akan berakhir menyedihkan dengan kepergiannya, seperti yang dilakukan lelaki yang pernah membuat Mama bahagia.
*
DIRGA
Candy terlihat lebih baik daripada sebelumnya. Akhir-akhir ini ia tidak memiliki catatan buruk lagi di BK. Setidaknya ada perkembangan baik. Ada kesempatan bagi kami berdua untuk membicarakan tentang dirinya, namun aku tidak ingin merusak kebersamaan yang sangat susah didapatkan ini. Maka, aku memilih untuk diam saja dan mengajaknya pergi ke perpustakaan.
Senyum Candy tadi membuatku sedikit merasa tenang. Dulu ia sangat suka tersenyum dan tertawa. Ia juga menangis jika kujahili. Sekarang, untuk melihat senyum dan tawanya mengapa begitu sulit? Aku bisa melakukan apapun demi mendapatkan senyum Candy.
Kami berjalan bersama-sama menuju perpustakaan. Kukatakan padanya kalau aku punya sebuah buku bagus agar ia bersedia membaca juga. Candy mengangguk-angguk saja mengikutiku. Ia tak lagi banyak bicara selama melangkah di sampingku.
Perpustakaan sangat sepi. Aku menyayangkan siswa-siwi SMA ini yang tak begitu tertarik dengan kegiatan membaca. Aku memberinya instruksi untuk mengikuti menghampiri sebuah rak yang memajang buku-buku fiksi. Kuambil salah satu kitab Ramayana karangan Rajagopalachari dan menyerahkannya pada Candy. Sebelah alisnya terangkat skeptis melihat buku yang kuberikan padanya.
“Baru kemarin aku habisin Ramayana yang ditulis Rajagopalachari.”
Candy mengangguk. Rambutnya dikaitkan di belakang telinga. Ia mengamati buku yang kini berada di genggamannya. Aku memilah-milah buku lain dan menemukan beberapa, lantas berjalan menghampiri salah satu bangku untuk duduk dan membacanya. Dari tempatnya berdiri, Candy memandangku. Sekitar beberapa detik ia masih menimbang-nimbang hingga akhirnya bersedia duduk di depanku, membuka halaman-halaman buku di tangannya. Ia mulai membaca buku tersebut tanpa banyak bicara.
Aku mengamatinya. Ia mencoba membangun fokus agar dapat menyelami dunia Ramayana. Aku sendiri tak memberikan perhatian pada buku yang sudah terbuka di depanku. Candy mengangkat kepala, memandangku dengan tatapan tanya.
“Kenapa?” tanyanya rikuh.
“Nggak apa. Kamu kalau fokus baca kelihatan kalem banget ya. Lucu.”
“Lucu? Apanya yang lucu?” Bola matanya terputar.
“Ya... jadi nggak kelihatan liar dan nakalnya.”
Ia tersenyum. Kepalanya digeleng-gelengkan. Dilanjutkan lagi kegiatan membacanya. Aku hanya memerhatikan dari tempatku duduk sambil bersendang dagu. Tiap memerhatikan Nada, yang kulihat adalah warna kuning cerah. Ia sangat lincah, ekspresif, dan memiliki semangat tinggi. Berbanding terbalik dengan Candy. Saat melihatnya, aku seperti melihat warna hitam. Kelam. Gelap. Dan muram. Rasanya aku ingin menghapus warna hitam dari Candy dan mengubahnya menjadi kuning cerah seperti Nada. Atau barangkali emas.
Aku merogoh ponsel dari dalam saku, mengeluarkan ponsel, lantas membuka fitur kamera. Diam-diam kupotret Candy yang sedang sibuk dengan buku di depannya. Kupotret ia beberapa kali dan tersenyum melihat hasilnya. Seakan menyadari apa yang kulakukan, Candy mengangkat kepala dengan cepat.
“Ngapain kamu?” tanyanya. “Kamu motoin aku?”
“Enggak.” Aku menggelengkan kepala.
“Coba sinikan hapenya.” Candy menggerakkan jemarinya memintaku menyerahkan ponselku.
Aku menggeleng lagi. “Nggak ada, Dy.”
“Bohong. Sinikan.” Matanya menyipit. “Ayo, Dirga.”
Aku menyembunyikan ponsel di belakang punggung. “Nggak ada.”
“Tuh, kan. Pasti motoin aku nih.” Ia bangkit berdiri dari tempatnya duduk, lalu mencoba merebut ponsel yang kusembunyikan di balik punggung.
Aku menghalau tangannya. Kami terlibat aksi rebutan. Suara keributan kami terdengar oleh penjaga perpustakaan. Dari tempatnya duduk di balik komputer, Bu Mira menegur dengan desisan panjang dan mata memelotot di balik kacamata beningnya.
“Jangan berisik!” tukasnya.
Aku mengatupkan telapak tangan di depan sebagai permintaan maaf. Kupandang Candy yang memberengut.
“Tuh, jangan berisik.” Aku menertawai ekspresi kesal Candy.
Sebelum petugas perpustakaan memarahi kami lagi, kami memutuskan untuk diam dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku yang mengamati foto Candy di balik buku yang pura-pura k****a dan Candy yang kembali meneruskan bacanya. Kukirim foto Candy pada Nada.
Nada: loh, Candy ada sama kamu?
Begitulah yang menjadi balasan Nada setelah melihat foto yang kukirim.
Dirga: dia lagi sibuk baca. ya... seenggaknya lebih baik lah. daripada berantem sama temen-temen
Nada: bagus deh
Kami saling berkirim pesan. Sempat kulihat lirikan mata Candy yang diarahkan ke arahku beberapa kali. Saat aku membalas lirikan matanya dan tersenyum, ia buru-buru menunduk, memberikan perhatian pada buku yang dibacanya. Aku menyengir melihatnya bertingkah sekeki itu. Padahal sebelum-sebelum ini, kami sangat akrab dan terbiasa bersama. Sekarang, ia justru seperti berhadapan dengan orang lain. Sama seperti aku.