Aku berlari menyusuri koridor-koridor sekolah yang tidak lupa diikuti sahabat setiaku, Adiva. Aah gadis itu selalu menempel denganku.
"Aisya, bisa nggak lepasin tangan gue!"
Dan nyatanya, aku yang sedang membawanya berlari, menemaniku menuju basecamp paskibra. Ini karena satu amplop berisi undangan untuk para anggota paskibra sebagai wakil untuk menghadiri acara ulang tahun sekolah SMA Tunas Wijaya.
"Udah deh, diem aja."
Sentakku, jujur, kalau sendirian aku takut salah tingkah atau menjadi aneh didepan Kak Syarif, entah kenapa rasanya setelah insiden ulat hijau yang menempel dikerudungku dan dia mengambilnya dengan santai, juga saat dia menasehatiku kalau seandainya aku menjadi ulat hijau yang disia-siakan dan disudutkan. Setelah saat itu bertemu dan berhadapan dengan Kak Syarif, aku menjadi merasa aneh dan canggung.
Didepan sudah terlihat basecampnya, dan yang pertama kali kulihat adalah laki-laki novelis yang aku rindukan tulisannya, aah andai senja yang ada disetiap tulisannya itu aku, pasti aku akan merasa sangat bahagia. Tapi belakangan ini wall wattpadnya kosong dari curahan hatinya tentang sang senja. Bahkan novel barunya belum diupdate sampai sekarang. Sesibuk itu kah Kak? sedangkan yang kulihat sekarang, kamu hanya memandangi ponsel dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan.
"Kak Arkhan."
Panggilku ketika sudah sampai didepan laki-laki yang terhenyak kaget dan langsung memasukkan ponselnya kesaku celana.
"Iya, ada apa Ai?"
Panggilan yang nanggung itu berhasil membuatku manyun.
"Aisya Kaaak.. Ah yasudah, yang paling penting itu ini Kak,"
Ucapku sembari menyodorkan undangan yang mulai lusuh karena terkesiap angin saat aku berlari.
"Undangan dari OSIS SMA Tunas Wijaya, anggota paskibra kita diundang untuk menghadiri acara ulang tahun sekolah SMA-nya."
Jelasku ketika Kak Arkhan mengernyitkan alisnya yang bertanda tidak tahu.
"Oh kalau itu bilang ke Syarif, dia yang tahu jadwal kita.. Kamu kedalam saja, dia sedang merekap jadwal latihan."
Ucapnya dengan sangat ramah.
Kedalam? bertemu dengan laki-laki dingin itu? aah, boleh tidak aku memberikan undangan ini ke Kak Arkhan saja, tidak perlu ke Kak Syarif.
"Sya, gue tunggu disini ya. Bukan apa-apa, gue sungkan masuknya, kan gue bukan anggota paskibra."
Ucap Adiva berbisik.
Ah iya benar, jadi aku harus sendirian masuk kedalam?
"Yasudah."
Ucapku sembari menghela nafas panjang. Dan mulai melangkahkan kaki masuk keruangan yang berbentuk persegi panjang.
"Ai."
Panggil seseorang dari samping kananku. Kak Arkhan?
"Iya Kak?"
Tanyaku ketika kulihat Kak Arkhan yang menghentikan langkahku.
"Jangan takut.. Syarif baik kok."
Senyumnya menghangat.
Baik. Oke, kita lihat nanti.
Langkahku mulai memasuki ruangan itu. Rileks Aisya, rileks.
"Assalamualaikum."
Salamku ketika melihat sosok laki-laki sedang duduk damai dan menunduk kesebuah kertas dimap. Sepi, namun rasanya menenangkan.
"Waalaikumsalam warrahmatullah."
Jawabnya tanpa mendongakkan kepala hanya untuk sekedar melihatku.
"Kak Syarif."
"Hmm."
Jawabnya singkat. Aishh..
"Begini, tadi kan aku dapat dari teman OSIS SMA Tunas Wijaya, undangan untuk anggota paskibra sebagai wakil sekolah yang menghadiri acara ulang tahun SMA tersebut Kak. Bagaimana Kak? apa Kak Syarif setuju kita menghadirinya?"
Tanyaku setelah menjelaskan.
"Kalau memang tidak ada planning dihari itu, kita bisa datang. Coba kamu lihat jadwalnya di dinding dekatmu."
Ucapnya menyuruhku. Jadwalnya sudah di dinding, lalu apa yang ada dihadapan Kak Syarif sekarang?
"Tau tempatnya kan?"
Tambahnya yang membuatku terkejut karena kesibukkanku mencoba mencari tahu apa yang sedang dilakukan laki-laki itu.
"Iya Kak, sebentar."
Dan dengan cepat aku menoleh kesebuah kertas yang sudah tertempel didinding sampingku.
Tanggal 31 Januari, berhubung hari Minggu, jadi paskibra libur. Dan tepat saat itu, tanggal yang tertera diundangan itu.
"Nggak ada jadwal latihan Kak. Gimana?"
Ucapku, tapi tetap. Kak Syarif sama sekali tidak melihatku. Ah sudah biarlah.
"Yasudah, kita tinggal minta tanda tangan persetujuan ke Pak Firman. Dan kamu harus ikut, karena kamu yang tahu tentang hal ini."
Ucapnya. Aku? aku lagi. Ya Rabb..
"Iya Kak."
Jawabku.
Tapi hampir beberapa menit laki-laki itu tetap saja duduk dan tidak ada niatan untuk berdiri. Apa dia lupa yang dikatakannya tadi? sudah pikun kah?
Dan akhirnya Ka Syarif mendongakkan kepalanya kearaku, memandangku heran.
"Apa yang kamu lakukan? kenapa masih disini?"
Tanyanya. Ya Allah, mungkin laki-laki itu sudah pikun, mungkin saja karena kegiatannya yang terlalu padat itu sampai-sampai menguras memorinya.
"Kan tadi Kak Syarif bilang tinggal minta tanda tangan persetujuan ke kepala sekolah, dan aku harus ikut."
Jawabku seadanya.
"Apa aku bilang sekarang?"
Tidak sih, fikirku.
Aku menggeleng.
"Yasudah berarti tidak sekarang."
Ucapnya lagi ketus. Menyebalkan.
"Berarti aku kembali keluar ini Kak?"
Tanyaku, yang aku fikir-fikir adalah pertanyaan aneh.
"Lalu? memangnya mau disini sama setan-setan yang suka dengan kehadiran satu laki-laki dan satu perempuan?"
Jawabnya. Oh tidak, bukan saja setan senang, tapi juga Allah tidak menyukainya.
"Baik, baik. Aku keluar."
Ucapku langsung berbelok, dan ngacir pergi. Tapi suara bariton menghentikanku.
"Tunggu."
Segera kutolehkan kearah suara itu. Laki-laki yang masih menunduk menghadap sebuah map yang baru kuketahui kalau isinya sebuah buku, tidak terlalu tebal. Mungkin itu buku tentang teori dan cara penghitungan aritmatika atau perbedaannya dengan logaritma. Ah apalah otak cerdas yang mampu menampungnya.
"Aku nanti yang memanggilmu kekelas, jam istirahat seperti ini Pak Firman tidak ada ditempatnya."
Jelasnya. Aku mengangguk-angguk paham, setidaknya ada kejelasan kenapa laki-laki itu menyuruhku untuk kembali.
"Baik kalau gitu Kak, aku kembali kekelas dulu. Assalamualaikum."
Salamku, yang dijawabnya dengan salam juga.
Sebenarnya bukan kembali kekelas sih, yang benar kembali ke kantin, menemui Adiva yang ternyata sudah makan disana. Meninggalkanku sendiri, dan berjalan menyusuri koridor sendirian.
"Aisya."
Panggil suara lembut dari belakang.
Kenapa seharian ini, banyak sekali orang yang gemar memanggil namaku, bahkan dengan panggilan yang berbeda-beda.
Pemilik suara itu sudah menjajari langkahku. Aila, dia Aila.
"Aila, kenapa? ada buku yang harus kamu pinjam?"
Tanyaku. Dia nyengir.
"Pasti aku keseringan minjem bukumu ya? sampai-sampai saat aku memanggilmu seperti ini kamu anggap ingin meminjam lagi."
Jawabnya.
"Oh tidak tidak Aila, bukan gitu maksudku.. Mungkin ada yang aku bantu gitu."
Sahutku tidak enak.
"Tidak apa-apa Aisya, aku bercanda. Aku hanya pengen tanya, kamu tahu Kak Arkhan nggak? soalnya aku tadi liat kamu keluar dari basecamp."
Ah tidak salah lagi, pasti yang ditanyakan adalah Kak Arkhan.
"Aku nggak tau Aila, tadi sih ada. Tapi pas aku keluar, Kak Arkhan sudah nggak ada."
Jawabku jujur.
"Gitu ya? Yaudah deh, makasih ya."
Jawabnya sembari mempercepat langkahnya menuju kantin. Apa yang terjadi sama mereka?